Pedagang es balok untuk ikan laut tergerus oleh waktu


Pedagang es balok untuk ikan laut tergerus oleh waktu
Dilaporkan: Setiawan Liu
Jakarta, 10 Pebruari 2022/Indonesia Media – Pedagang es balok di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Muara Baru, Penjaringan Jakarta Utara sekarang ini hampir tidak kelihatan lagi, terutama untuk kebutuhan pendinginan ikan-ikan hasil tangkapan di laut sehingga tetap segar.
Kebutuhan es balok untuk pasokan ke kapal-kapal ikan khususnya di Muara Baru sempat booming pada era tahun 1980-an.
Tapi sekitar tahun 2000-an, teknologi system rantai pendingin (cold chain system) atau freezer ditemukan dan mulai menggeser es balok. “Sekarang ini pedagang es balok untuk supply ke kapal jauh berkurang, hampir tidak ada.
Tapi kalau di lapak-lapak PIM (Pasar Ikan Modern) Muara Baru, masih ada sembilan pedagang. Rata-rata usia (kegiatan perdagangan es) 30 – 40 tahun. Saya mulai ikut boss (pedagang es) tahun 1988 sampai sekarang,” pedagang es balok di PIM, Slamet mengatakan kepada Redaksi.
Mengingat industry penangkapan dan pengolahan ikan laut di Muara Baru masih sangat prospektif, es balok untuk pendinginan ikan menjadi satu kebutuhan.
Es balok ready stock untuk para pembeli dalam jumlah kecil maupun besar. Es balok disusun di atas lapak menyatu dengan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan di PIM. Es tersebut disimpan di lapak dengan dibungkus terpal selama tiga hari.
Es balok pada tumpukan bagian atas dan bawah saja yang biasanya cepat melumer (menjadi cair). Sementara es yang ditumpuk di tengah bisa bertahan selama tiga hari. “Sejak tahun 2000-an, kapal-kapal ikan menggunakan teknologi freezer, (pendinginan) lebih tahan lama. Ikan hasil tangkapan langsung dimasukkan ke ruang pendingin.
Kebutuhan es tergantung ukuran/bobot kapal, misalkan 50 GT, bawa es sampai 800 balok pada saat itu,” kata laki-laki yang hanya lulus Sekolah Dasar di Pemalang, Jawa Tengah.
Pada saat perdagangan es balok booming, perjalanan bolak-balik mobil angkutan es balok bisa sampai tiga kali dalam sehari. Pabrik es balok berlokasi di Kawasan industry Pulogadung, Jakarta Timur dan Karawaci, Tangerang.
Ketika ikan dijaga tetap segar, para ABK (anak buah kapal) juga mengemas dengan plastic di atas kapal. Ukuran satu kemasan plastic sekitar 10 kilogram ikan. Dulunya, satu kuintal ikan setara dengan kebutuhan satu balok es.
Tapi karena pemilik kapal sudah menggunakan freezer, kebutuhan es balok juga menyusut sampai seper-empat balok. “Selain, pedagang menggunakan system perendaman dengan air asin (garam) dicampur es. Sehingga ikan tetap fresh dan tidak lengket. Pembeli kan harus memili ikan satu-satu,” kata laki-laki kelahiran 45 tahun yang lalu. (sl/IM)
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *