WAWANCARA KHUSUS DENGAN PENGUSAHA SHIPYARD DI TANJUNGPINANG, BATAM KEPRI


WAWANCARA KHUSUS DENGAN PENGUSAHA SHIPYARD DI TANJUNGPINANG, BATAM KEPRI

Hengky Suryawan (Kie See Cung), pemilik usaha shipyard (galangan kapal) PT Bahtera Bahari Shipyard/BBS di Tanjungpinang dan Batam memfasilitasi kunjungan Redaksi, Setiawan Liu selama dua hari (22/4 – 24/4) untuk wawancara dengan suasana rileks. Hengky, kelahiran Tanjung Batu, kab. Karimun Kepulauan Riau (Kepri), 73 tahun yang lalu menjawab secara lugas berbagai pertanyaan seputar bisnis shipyard, keagamaan, social kemasyarakatan dan lain sebagainya. Berikut ini kutipannya.

Anda sebagai anggota LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia), merasa bangga sebagai pejuang? Pernah menuangkan rasa bangga kepada anak cucu?

Di dalam forum, saya paparkan, kita harus punya commitment, sama seperti pejabat negara juga harus punya commitment. Saya berani demi tumpah darah. Kalau semua pejabat ber-commitment, negara kita akan maju. Dulu, pegawai saya orang asing, tapi sekarang tidak ada lagi (tenaga kerja asing). Semua kapal (PT Bahtera Bahari Shipyard) bisa dibangun karena kita punya commitment, kemauan. Dulu para insinyur perkapalan kami dari China, Singapura, Malaysia, sekarang insinyurnya orang Indonesia (yang bekerja untuk PT BBS). Kami selama ini, anak-anak yang kuliah di perkapalan, sudah punya skill untuk industri perkapalan. Tapi mereka belum berani pada pelaksanaan. Kapal tongkang dibuat tiga bulan lebih. Mereka (pekerja PT BBS) sudah punya sistem kerja, efektif berjalan. (kapal) Sudah fabrikasi, assembly, block joint, (kapal) turun atau ship lift. orang bikin (mainan anak) lego, (block) disambung-sambung, akhirnya jadi (kapal). Itu hebatnya orang kita.

Berapa banyak insinyur yang dipekerjakan?

 Ada enam insinyur, tapi banyak (tenaga kerja, insinyur perkapalan) orang Makasar. Empat orang (insinyur) asal Makassar. Ada insinyur yang sudah kerja lebih dari 20 tahun. Gubernur Kepri membentuk tim ekonomi percepatan pembagunan Kepri. Saya ngomong (lantang), ternyata besoknya, kepala Ditjen Beacukai langsung datang ke sini,. Dia menyanggupi (proses perizinan) dari 7 hari menjadi 3 hari. Saya tukang ribut, tapi saya tidak sogok sogok. Waktu kapal saya tidak boleh keluar, saya langsung temui JK (Wakil Presiden RI; 2014 – 2019), Sri Mulyani (Menteri Keuangan). Saya beli kapal dari LN (luar negeri), tidak dikenakan pajak, saya beli kapal dari dalam negeri, saya bayar, saya marah. Waktu pak JK datang ke Batam (pada periode kedua; 2014 – 2019), langsung kapal saya bisa jalan.

Falsafah hidup Anda?

Kita hidup, harus banyak teman. Kalau kita bermusuhan, hidup tidak tenang. Saya sehat, harus berbuat baik, berpikir baik. Seperti seorang guru bertanya pada muridnya, untuk melihat papan tulis yang ada noda hitam. Semua murid mengatakan “…ada titik/noda hitam…” tapi tidak ada yang mengatakan “…whiteboard (papan tulis) nya putih…” sehingga saya percaya hidup ini bisa tenang, hidup, tidak boleh dendam. Saya juga berurusan ini (perusahaan), dilaporkan kepada polisi. Tapi saya bersyukur bisa lepas, karena saya berpikir baik, niat baik. Orang dendam, tidak bisa tenang. Bisa takut, saya dikerjakan orang, saya diam saja, kalau polisi mau cari kesalahan, ada saja. Saya diperiksa terus oleh petugas pajak dan dicari kesalahan, sehingga saya panggil konsultan pajak untuk cross check. Transhipment ke mother vessel, itu pelabuhan. Saya sakit hati sama petugas pajak. Setiap tahun, saya bayar. Mereka cari kesalahan, sehingga saya cari konsultan, cari peraturan yang tidak kena. Sudah ada surat penegasan dari dirjen pajak, bahwa transhipment ke mother vessel, dianggap pelabuhan, ada penagihan untuk PPN (pajak pertambahan nilai). Kapal saya angkut ke luar negeri, ditagih PPN. Karena luar negeri angkut, bayar PPN? Kenapa PPN? Kami tetap ditagih, saya bantah. Saya minta keadilan, saya diperiksa. petugas cari kesalahan. Peraturan dirjen ada, konsultan minta saya, apakah pemeriksaan pajak, bikin WTP (wajar tanpa pengecualian). saya bangga, saya yang kasih penghargaan kepada petugas, saya lawan. Saya kumpulkan kasie (kepala seksi) dan kanwil (kantor wilayah). Wajar tanpa pengecualian, kenapa tidak begitu? Setiap acara, saya disuruh kasih testimony, supaya masyarakat bayar pajak. Tidak cukup akhir tahun saya disuruh bayar PPN. Saya tidak salah, kalau saya salah, dicari kesalahan, saya senang. Saya bayar pajak sebesar Rp 17 milyar. Tinggal 1 point, mengenai penjualan kapal, itu masalah teknik. Kita kan angkutan, dipotong pajak 1,2 persen tapi orang itu belum setor, saya sudah ditagih, bahwa kita kurang bayar. Kalau hutang, susah. Kami beli plat besi, ongkos berapa, nggak boleh biaya pengeluaran bengkak. Tidak kena PPN, hanya bayar PPh (pajak penghasilan) saja, kita bikin kapal di Batam.

Pengalaman berorganisasi social kemasyarakatan?

Bakom PKB (Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa) di kabupaten Kepri (1983 – 1998), (kepengurusan selesai) pas Pemerintahan Orde Baru turun (1998). Sejak reformasi bergulir, Bakom PKB selesai. Bakom PKB kan bagus Karena kepala-kepala suku duduk (di kepengurusan) disana, jadi bagus. Kami dilantik pemerintah, Ketuanya secara umum orang Tionghoa. Kalau antara suku, ada permasalahan, kita bisa mendamaikan. Sesuatu pengalaman yang berharga bagi saya, karena kita berkomunikasi dengan kepala suku. Tidak ada program Islamisasi utk orang Tionghoa, saya justru menyarankan agar pemerintah lihat (berpaling) pada Singapura, ada orang India, Melayu, Tionghoa, orang bule, shg terjadi pembauran dari tempat tinggal, sehingga kemudian hari, tidak ada perang suku, konflik etnis. Aku di Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional), saya ikut KSA (kursus singkat angkatan) selama empat minggu. Angkatan pertama, (peserta KSA) ada Amien Rais, Kwik Kian Gie (mantan politisi PDIP), Megawati (Presiden ke-5 RI), Yogie SM, Christianto Wibisono, ada Faisal Basri (ekonom). KSA nya nggak ada tugas akhir (selama mengikuti KSA di Lemhanas), hanya dialog/diskusi. Waktu itu, kami sudah mengkritik pemerintah.

Anda membangun Wihara di Tanjungpinang?

Kalau bangun rumah ibadah, harus lebih besar daripada rumah tinggal. Saya percaya, karena kepentingan orang banyak. Kalau rumah tinggal kepentingan pribadi. Rumah ibadah, untuk semua orang. Bukan hanya agama Buddha. Seperti Sabtu, Minggu, banyak mahasiswa, anak sekolah jalan jalan. Selain tempat sembahyang juga tempat rekreasi. Apa yang kita bisa buat, tidak (terwujud) seketika. Tapi perlu kesabaran, punya commitment. Sejak bangun thn 2000, enam tahun pertama, saya resmikan. Sekarang (proses pembangunan) sudah 21 thn, saya resmikan gedung utama yang terbesar. Saya teruskan (pembangunan). tahun 2022, (rencananya) Wihara diresmikan. Itu pagoda paling unik, karena seluruh dinding ditempeli Sakyamuni sampai 15 ribu (patung). Ini (pembangunan Wihara) selesai tahun depan. Patung sudah datang, bisa datang Jakarta – Tanjungpinang. Akhir tahun (proses pembangunan selesai), lokasinya hanya 5 km dari Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah (RHF) di Tanjungpinang. Mungkin undangan (peresmian Wihara) ditujukan kepada Menteri agama. Saya nggak berani undang Pak Presiden karena pengalaman (undangan) peresmian (gedung utama) tahun 2006, biayanya tinggi.  Kalau undang menteri agama, Rp 0 (nol rupiah). Saya urus organisasi agama Budha sudah sekitar 40 thn.

Filosofi/falsafah orang Tionghoa, seperti hidup hemat, kerja keras mempengaruhi karir bisnis?

(kehidupan) Tinggal bagi kesempatan, waktunya kapan mengabdi, kapan untuk keluarga. saya bangun Wihara, selalu memeriksa. Kalau pembangunan rumah, saya tidak pernah memeriksa. Pelan-pelan bangun Wihara, ada saja yang kita bisa lihat, kita bisa saksikan, ada saja uang. sebagaimana Tanjungpinang kan kota kecil, tidak ada donatur. Saya bangun Pagoda, rencananya 3 tahun lagi selesai, tapi karena pandemic, penyelesaian terlambat. Tapi tidak apa-apa, karena bangun rumah ibadah bukan rumah tinggal pelan-pelan saja, ada saja uang asal kita punya niat baik, kejujuran. Saya tidak duga bisa membangun Wihara sebesar itu, tidak punya cita-cita. Tapi saya membangun bertahap, saya tidak mau langsung bangun megah, kemungkinan (proses pembangunan) bisa terbengkalai. Pembangunan bertahap.

Apa obsesi Anda sebagai pengusaha shipping (perkapalan) dan shipyard?

Waktu saya masih kecil, saya ingat saya kagumi raja kapal Onassis (kelahiran Izmir, Turki; 1906 – 1975). Dia raja kapal, waktu saya masih sekolah, membayangkan bisa seperti onasis. Itu obsesi, karena kita orang laut, harus tahu siapa raja kapal. Onassis, raja kapal, thn 1960 an, teknologi belum bisa bersaing dengan Korea, Jepang tapi kita bisa berbuat untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. kita kan negara kepulauan, sekitar 96 persen di Kepri adalah laut, sehingga angkutan laut, kebutuhan mendasar khususnya Kepri. Apalagi Sulawesi, semua angkutan lewat laut. Lewat udara, sedikit. Saya bikin lima unit kapal tol laut, tender, saya menang. Saya jalani produksi 20 unit, tender kapal tol laut, kapal perintis, tapi kontraknya 24 bulan. Kami bisa menyelesaikan pembuatan kapal tersebut hanya dalam kurun waktu 15 bulan. Di luar Batam? (proses pembuatan kapal) dua tahun belum selesai. Galangan kapal di Lamongan, Surabaya, Lampung, sempat delay (tertunda). Batam sangat professional, saya nggak tahu BBS leading atau tidak, tapi hanya manage dengan semampunya, nggak mau pusing dengan produksi perusahaan lain. Yang penting, setiap bulan saya bayar gaji, bayar pajak. Saya menjaga usaha saya selama 50 tahun, saya tidak pernah buka cek kosong.( SL / IM )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

One thought on “WAWANCARA KHUSUS DENGAN PENGUSAHA SHIPYARD DI TANJUNGPINANG, BATAM KEPRI

  1. Ziyat Syahrial
    November 17, 2021 at 9:48 pm

    Mohon untuk menghubungi Bp Hengky Suryawan bagaimana ? Saya berniat kerjasama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *