Cina atau Tionghoa ?

Posted on January 18 2010 by Dr. Irawan

Dr. Irawan

Dalam beberapa minggu ini marak lagi pembicaraan tentang istilah “Cina” atau “Tionghoa”, bahkan ada e-group sampai mengadakan polling untuk istilah ini. Meja redaksi Indonesia Media juga kena giliran di kirimi surat pembaca yang menanyakan tentang istilah Cina vs Tionghoa. Sehubungan dengan itu maka Indonesia Media mencoba menyajikan tanggapan tentang kontroversial istilah Cina – Tionghoa ini. Tidak perlu kita sampai emosi-emosian dalam diskusi dan tukar pikiran semacam ini walaupun ini sudah menjadi polemik. Tidak perlu kita memaksakan pendapat kita kepada orang lain, demikian pula hak kita sebaiknya dihormati. Kami sendiri telah mencoba menyimpulkan sikap dalam kontroversial istilah Cina-Tionghoa dengan memandang berbagai alasan, antara lain sbb:

Sejarah:

Tidak banyak orang yang tahu bahwa wacana Cung Hwa setidaknya sudah dimulai sejak tahun 1880, yaitu adanya keinginan dari orang-orang di Tiongkok untuk terbebas dari kekuasaan dinasty dan membentuk suatu negara yang lebih demokratis dan kuat.

Tan Swie Ling

Entah siapa yang memulainya, maklum tidak banyak buku sejarah yang menulis ini. Andaikata adapun kebanyakan dari kita tidak berkesempatan untuk membacanya atau mengerti cara membacanya. Wacana ini sampai terdengar oleh orang asal Tiongkok yang bermukim di Hindia Belanda yang ketika itu dinamakan “Orang Cina”, diduga panggilan ini berasal dari kosa kata “Ching” yaitu nama dari Dinasty. Orang asal Tiongkok ini yang anak-anaknya berlahiran di Hindia Belanda merasa perlu mempelajari kebudayaannya, termasuk bahasanya, maka oleh sekelompok orang Cina di Hindia Belanda (1900) didirikanlah suatu sarana sekolah dibawah naungan suatu badan yang dinamakan  Tjung Hwa Hwei Kwan, yang kalau di lafal Indonesiakan menjadi Tiong Hoa Hwe Kwan (THHK). THHK dalam perjalanannya bukan saja memberikan pendidikan bahasa dan kebudayaan Tiongkok tapi juga menumbuhkan rasa persatuan orang-orang Cina di Hindia Belanda, seiring dengan perubahan istilah Cina menjadi Tionghoa (di Hindia Belanda).

Brigjen T. Jusuf

Dengan adanya aktivitas THHK dan badan badan yang sejenisnya (Cung Hwa Cung Hwee), dan terbukti pada tahun 1911 Dr. Sun Yat Sen cs berhasil menggulingkan dinasty dan menggantikannya menjadi Cung Hwa Ming Kuo, maka secara langsung dan tak langsung memberikan inspirasi kepada bumiputera untuk bangkit menggalang kesatuan nasionalis. Maka semangat Kebangkitan Nasional dalam organisasi Boedi Oetomo yang di cetuskan oleh Dr. Soetomo, Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Gunawan sejak 20 Mei 1908, menjadi tambah menggebu gebu, disusul dengan Soempah Pemoeda (1928).

Tan Joe Hok

Golongan Tionghoa turut memfasilitasi terjadinya Soempah Pemoeda, terbukti dari dihibahkannya gedung Soempah Pemoeda oleh Sie Kong Liong, dan ada beberapa nama dari kelompok Tionghoa sempat duduk dalam kepanitiaannya itu, antara lain Kwee Tiam Hong dan tiga pemuda Tionghoa lainnya (baca tulisan-tulisan di Sinergi Bangsa edisi-34 hal 32). Sin Po sebagai koran Melayu Tionghoa juga sangat banyak memberikan sumbangan dalam menyebarkan informasi yang bersifat nasionalis. Terbukti lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh WR. Supratman pertama kali di publikasi oleh Koran Sin Po. Djiaw Kie Siong memperkenankan rumahnya di pakai untuk rapat mempersiapkan kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945. Di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Proklamasi Indonesia (BPUPKI) yang merumuskan UUD’45

Benny G. Setiono

terdapat 5 orang Tionghoa yaitu; Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, dan Drs. Yap Tjwan Bing. Dalam perjuangan fisik sebenarnya banyak pahlawan dari Tionghoa yang terjun namun sayangnya tidak banyak dicatat dan diberitakan. Menurut tokoh pengusaha Benny Ardie;

Tony Wen adalah orang yang terlibat dalam penurunan bendera Belanda di Hotel Oranye Surabaya. (Bendera Merah putih biru di robek birunya, lalu dikibarkan lagi sebagai Merah Putih). Pendapat ini diperkuat oleh keponakan dari Tony Wen, Henry Boen (Wen) dari Jakarta

Pada 1920-an harian Sin Po memelopori penggunaan kata Indonesia bumi poetera untuk kata Belanda inlander yang dirasakan sebagai penghinaan oleh rakyat indonesia di semua penerbitannya. Langkah ini kemudian diikuti oleh banyak harian lain. Sebagai “balas budi”, semua pers bumi

Henry Boen (Wen)

poetera mengganti kata Tjina dengan kata Tionghoa.

Juga, para pemimpin pergerakan dan perjuangan seperti Ir.Soekarno, Drs. Mah.Hatta, Soetan Sjahrir, Dr Tjipto

Mangoenkoesoemo dan lain-lain, dalam percakapan sehari-hari dan dalam tulisan mereka, mengganti kata Tjina dengan kata Tionghoa. Para tokoh tersebut sering mengirimkan tulisan dan artikel di harian-harian Melayu Tionghoa yang

Murbandono

mereka sadari mempunyai tiras dan jangkauan yang lebih luas ketimbang harian-harian bumi putera. Pada 1931 Liem Koen Hian mendirikan PTI, Partai Tionghoa Indonesia dan bukan Partai Tjina Indonesia. (kutipan dari Radio Netherland /Murbandono Hs)

Berdasarkan partisipasi golongan ini maka kelompok bumiputera secara explisit mulai menamakan orang-orang yang dulu dipanggil sebagai “Cina” menjadi “Tionghoa”. Moment ini adalah sangat penting sebagai bukti partisipasi Tionghoa dalam merebut kemerdekaan RI dari tangan penjajah. Ini secara de facto Tionghoa diakui turut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, jadi istilah “Cina menjadi Tionghoa” merupakan suatu tanda penghargaan bagi suku Tionghoa di Indonesia. Kalau istilah Tionghoa sampai hilang oleh karena suatu Tap dari badan penyelenggara negara (1967) atas saran rapat Angakatan darat di Bandung, maka itu dapat diartikan menghapus bukti

sejarah, dan perampasan penghargaan yang telah diberikan. Bayangkan kalau semua aparat negara ditarik bintang Satyalencananya dan bintang Mahaputeranya.

Tionghoa yang “di-Cina-kan” kembali.

Sindhunata dari LPKB dengan tenang dan mantap menyatakan, ketika berlangsung Seminar Angkatan Darat Ke-2 di Lembang pada 1966, ia disuruh memilih sebutan Cina

DR. Siauw TD

atau Tionghoa dan ia memilih kata Cina. Ia juga menyatakan, konseptor Inpres 14/1967 yang melarang kebudayaan, adat-istiadat dan tradisi Cina diselenggarakan di tempat terbuka adalah dia dengan kelompoknya. (rapat di kantor Gamma /Murbandono Hs, dan pertemuan di Duarte Inn /CHI). Pada saat pertemuan Siauw Tiong Djien dengan Shindunata di Los Angeles yang di fasilitasi oleh CHI (Committee for Human Rights in Indonesia), saat itu pernah didebatkan istilah Cina-Tionghoa. Ketika itu suara mayoritas dari peserta seminar memilih istilah Tionghoa dengan tegas, hanya satu orang saja yang bicara (AD) bahwa dia condong 60% kearah istilah Cina. Kata-kata ini lalu dipegang oleh Sindhunata dan disebarkan di tanah air bahwa di Los Angeles dia memenangkan istilah “Cina” dengan 60%. Sungguh disayangkan, sebenarnya sudah bukan waktunya lagi paradigma pemelintiran sejarah ala ORBA masih dibuat.

“Cina”, Penamaan dari luar:

Ricky Lee

Cina adalah nama yang diberikan oleh orang berasal dari luar Tiongkok. Menurut Pak Ricky Lee (guru bahasa Mandarin di ICAA), istilah “Cina” sebenarnya diberikan oleh Jepang dan/atau negara barat. Kalaupun ada ucapan “Cena” dari orang yang di Tiongkok, itu hanya merupakan respon komunikasi mereka terhadap orang dari luar daratan Tiongkok. Antara sesama orang Tionghoa di Tiongkok mereka tidak menggunakan istilah Cena/Cina.

Asal kata Tionghoa:

Tjiong Thiam Siong

Tionghoa adalah istilah yang dibuat sendiri oleh orang di Indonesia berasal dari kata Cung Hwa dari Tiongkok. Istilah Tionghoa dan Tiongkok lahir dari lafal Melayu (Indonesia) dan Hokian, jadi secara linguistik Tionghoa dan Tiongkok memang tidak dikenal (diucapkan dan terdengar) diluar masyarakat Indonesia. Jadi ini adalah khas Indonesia, oleh sebab itu di Malaysia dan Thailand tidak dikenal istilah ini.

Istilah China yang dibuat orang dari luar Tiongkok yang telah terlanjur populer bukan berarti tidak boleh di ganti dengan Tionghoa/Tiongkok . Analoginya dengan Siam jadi Muangthai/ Thailand. Dr. Frits Hong dalam wawancaranya dengan mantan Perdana Menteri RRT, Zu Rong Jie beberapa tahun yang silam pernah menyinggung istilah “China”, dan saat itu PM Zu Rong Jie mengatakan: “Nanti pada saat yang tepat kami akan umumkan penggantian istilah China”.

Mengikis diskriminasi.

Perjuangan mengikis diskriminasi terhadap Tionghoa di Indonesia belum banyak menghasilkan, contohnya masalah SBKRI, Masalah Acun di Garut, masalah kuburan Ku Tiongdi Cirebon, belum lagi masalah pendaftaran masuk universitas, dan penerimaan dan kenaikan pangkat di jajaran pegawai negeri sipil maupun TNI dan Polri, dan masih banyak lagi. Perjuangan semacam ini sangatlah sulit, padahal kalau Tionghoa tidak didiskriminasi  dipercayai Indonesia akan semakin makmur secara merata. (bukan hanya

Pramoedya

yang makmur para penguasa saja). Kalau mau jujur Tionghoa sangat berat untuk menembus masalah ini. Kwik Kian Gie saja tidak bisa mengubah banyak. Kalau Tionghoa masih sulit memperjuangkan keluar, bagaimana kalau Tionghoa memperjuangkan penyebutan Tionghoa pada diri Tionghoa sendiri dulu? . Kalau dirinya sendiri tak sanggup memberikan legitimasi sendiri , bagaimana Tionghoa mengharap legitimasi dari yang lain. Masalah “Cina-Tionghoa” bukan sekedar istilah yang mana yang lebih enak di ucap atau ditulis, tapi bottom line-nya adalah mengembalikan kebenaran sejarah atas perjuangan Tionghoa dalam pembentukan Republik Indonesia yang hampir terapus selama hampir 40 tahun. Stigma Cina hanya cari duit, tak mau peduli dan ber-KKN di Indonesia harus dicabut, demi kemajuan NKRI.

Perjuangan mengikis diskriminasi Tionghoa boleh meniru cara Mahatma Gandhi

yaitu lewat puasa, karena berpuasa tidak ada yang bisa melarang. Demikian pula kalau menyebut diri kita Tionghoa orang lain juga tidak bisa melarang.

Dr. Frits Hong sebagai ketua ICAA konsisten dengan pendapatnya; Beliau selalu berkilah; Kalau sudah tahu kita tidak mau dipanggil sebagai “Cina” mengapa tidak menggunakan kata “Tionghoa”? Sepanjang ini kita gunakan Tionghoa untuk orangnya dan budayanya, Tiongkok atau RRT (Republik Rakyat Tiongkok) untuk tempatnya, dan Mandarin atau Tionghoa sebagai bahasanya.

Menurut bos Duarte Inn ini, kasus ini tidak ada bedanya dengan istilah “nigger” orang-orang hitam di Amerika tidak suka bila dipanggil ‘nigger’ atau ‘negro’ Dalam kasus ‘Cina-Tionghoa’ diperberat dengan manuver penutupan sejarah perjuagan Tionghoa dalam kemerdekaan RI. Bangsa yang besar tidak menutup-nutupi sejarahnya, sebab sejarah adalah penuntun kami untuk suatu kemajuan dengan mempelajari kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Dr. Frits Hong

Maafkan sebelumnya kalau ada tulisan saya ini yang salah atau kurang sempurna, karena saya bukan seorang sejarahwan macam Ong Hok Ham, sedangkan Leo Suryadinata saja masih banyak yang dikoreksi tulisannya. Jadi harap bisa di sempurnakan kalau ada yang kurang. Sebab pengetahuan saya hanya berasal dari baca kiri kanan, wawancara dengan para tokoh masyarakat antara lain; Brigjen (purn) Teddy Jusuf (PSMTI), Benny Setiono (INTI), Pramoedya Ananta Toer, Tan Swie Ling (Sinergi), Eddy Sadeli S.H. (Pengacara), Tan Yoe Hok (PBSI), Henry Wen (keponakan dari Tony Wen), Siauw Tiong Djien (CARI), Rebecca (Fresno), John Oey (ICANet),Drs. LT. Susanto (DPR/MPR), Alm.Ir. Pius Chan (CHI-LA), Dr. Frits Hong (ICAA), Jusni Hilwan (CCEVI), Iwan Suwandi (Van Forum), dan mendengarkan cerita dari orang tua saya tentang perjuangan kakek saya (Dr. YL. Chen /Tan Lung Kit) yang ikut berpartisipasi di THHK dan turut berjuang dengan Dr. Sun Yat Sen di daratan Tiongkok saat revolusi (1909-1911).

Dalam rangka diskusi “Cina-Tionghoa” ini, Indonesia Media membuka Polling untuk kedua istilah ini, bagi yang tertarik untuk mengikutinya silahkan masuk di www.indonesiamedia.com dan klik di kolom kiri. Kami berusaha mengfasilitasi polling ini agar didapat hasil yang se objective mungkin, maka untuk itu bagi peserta yang pernah vote, tidak diperkenankan mengulanginya. Terimakasih atas partisipasi anda.

This post was submitted by Dr. Irawan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

29 Responses to “Cina atau Tionghoa ?”

  1. yuli lie says:

    saya tidak ingin mendengar ada perlicuhan…yg saya mau kedamaian,,,jika sebagai TIONGHOA jangan mudah menyerah apa kta orng…kita sadarkan mereka yg belum sadar dari kedua matanya yg buta,,dan hatinya yg kejam..dasar manusia tak tau di untung…..apa tidak bisa saling menghargai dan tidak saling menyalakan? dasar manusia kurang pahami ajaran agama dan budaya….makanya gaul jdi manusia OK

  2. Chris says:

    Saya tidak peduli dengan istilah. Siapa pun dia, apa pun dia, jika dia WNI, dia adalah orang Indionesia. Jika dia ex-WNI, dia tetap orang Indonesia (pakling tidak keturunan Indonesia).

  3. Tonny B Tjiptadji says:

    Saya rasa kata Tiongkok itu berasal dari kata Tiong yang berarti Tengah dan Kok yang berarti Negara yang menggambarkan suatu negara ditenga benua Asia. Dari kata itu sebutan bangsanya pun menjadi Tionghoa (hoa = bangsa).

    Hanya saja pengaruh dari Barat yang tidak dapat melafalkan kata2 itu sehingga diambillah China yang berasal dari nama barang yang dihasilkan oleh Tiongkok sejak dahulu kala yaitu porselin.

    Contoh lain Peking menjadi Beijing dan kota2 lain juga dilafalkan sesuai dengan kemampuan lidah mereka.

    Sebutan Cina itu terasa kasar dibandingkan dengan Tionghoa

    • Harry Kawilarang says:

      Redaksi yang terhormat,

      Bagi istilah Cina adalah lebih orsinil ketimbang dengan pemakaian istilah Tionghoa. Sebagai penulis sejarah menggunakan istilah Cina yang sama sekali tidak bermaksud untuk melecehkan, karena saya sesuaikan dengan istilah orsinalitasnya. Sepengetahuan saya, istilah Cina menjadi ejekan bermula dari kampanye anti-semitisme Jepang di Indonesia sebagai akibat banyak kekalahan yang harus di alami pasukan Jepang ketika melakukan kolonisasi terhadap Cina daratan sejak akhir abad XIX hingga 1945.

      Penggunaan istilah Cina saya pertahankan berdasarkan latar belakang sejarah masa silam tidak ada istilah sebutan Tionghoa ataupun Tiongkok. Lagi pula masyarakat Cina turut mewarnai sejarah Bahasa bangsa Indonesia. Bila qta menelusuri sejarah masa lalu, adalah masyarakat Cina (Barat) yang memperkenalkan agama Islam di Indonesia dan bukan Arab. Karena yang terakhir ini merasa sebagai turunan nabi dan tidak ingin bergaul dengan penduduk pribumi yang di anggap najis. Proses diaspora sudah dilakukan sejak awal abad ke-10 dari Cina Barat yang mayoritas Islam menelusuri jalur sutera, Cina-Tenggara hingga Champa. Dari sana mereka memencar dan umumnya menduduki sentra-sentra perdagangan. Sasarannya untuk menghadapi masyarakat pedagang Mandarin yang menjadi pesaing kuat. Para pendatang Cina Barat juga perkenalkan budaya dan sistem pemerintahan Islam hingga dikenal sistem kesultanan. Dapat dibuktikan pula bahwa Banten merupakan kesultanan pertama di Jawa setelah dikuasai oleh Fatahillah yang termasuk pemuka wali sembilan yang juga berasal dari Cina Barat.

      Jadi, Redaksi sekali lagi, pemakaian istilah Cina semata-mata oleh latar belakang sejarah.

      Sekian dan terima-kasih,

      Harry Kawilarang

    • Alec says:

      Kalo boleh saya meralat, kata China itu diambil dari Dynasty Ching, yg saat itu menguasai daratan Tiongkok
      org2 Tiong Hoa yg keluar dari daratan dan menyebar diseluruh dunia kebanyakan adalah dari jaman Ching krn pada jaman pemerintaahn kerajaan Ching, rakyat mengalami kesusahan yang cukup serius jadi banyak yg keluar mencari kehidupan yg lebih baik dp yg ada di daratan. Oleh karena itu mereka dikenal sebagai pendatang dari "Ching". Lama kelamaan, org2 ini disebut sebagai orang2 dari China.

      Kalo Peking menjadi Beijing, itu sehubungan dengan diberlakukannya huruf PIN YIN yg mulai di perkenal kan di daratan China agar org2 yg tidak pernah belajar huruf kanji masih dpt pronounce kata2 Tiong hoa dengan pesis. Pin Yin sedikit beda dengan huruf ABC yg kita kenal di Indonesia. Dengan PIN YIN, huruf semua yg di tulis dengan huruf B sebenarnya bunyinya spt bahasa Indonesia huruf P; G = K, T =D, D =T, J = C dan sebaliknya. Dengan dmk pronounciation tulisan BEIJING benar bila di baca oleh org Indonesia seharusnya berbunyi PEI CING, suara ini 100% sama dgn bila org asli daratan menyebut nama kota itu.

      Jadi tidak ada sangkut pautnya dgn kemampuan bahasa lidah.

      Nah sekarang dengan kata cina yg dianggap sebagai kata peng-ejek bagi kebnayakan org Tionghoa di Indonesia itu ada hubungannya yg erat dgn era Suharto. Sejak Suharto menjadi President RI, Regime Suharto memutuskan hubungan politik dgn China dgn kata lain antara Indonesia & China adalah musuh.
      Hal ini ada kaitannya dgn politik komunisme pd jaman Sukarno.
      Pada jama Sukarno, hubungan antara kaum pribumi dan keturunan Tiong hoa adalah harmonis, sampai jamannya Suharto maka kaum Tiong hoa di anak tiri kan dan di anti, nama tiong hoa harus di ganti, sekolah tiong hoa di tutup, bahasa mandarin di larang. dengan demikian regime Suharto seakan akan menganak tiri kan kaum tiong hoa yg sdh berasimilasi dgn kaum pribumi sejak sebelum Suharto lahir. dengan sikap Suharto yg memusuhi kaum Tiong hoa mengakibatkan sebagian besar masyarakat pribumi Indonesia terhasut dan ikutan membenci tanpa adanya alasan yang masuk akal. Hasutan2 untuk membenci kaum Tiong Hoa terus dilancarkan oleh Pihak Suharto untuk menutupi kekotoran tangan Suharto dan antek2nya termausk keluarganya.
      Uang negara dan rakyat yang di korupsi oleh Suharto dan kawan2 seakan akan tersembunyi bila masyarakat percaya bahwa kaum Tiong hoa lah yg membuat keadaan Indonesia menjadi sejelek hari ini.

      Dengan tingginya persentasi masyarakat Indonesia yg kurang pendidikan, haustan2 tak berdasar yg dilancarkan Suharto dengan mudah menyebar dan dampaknya kelihatan pd kehidupan sehari hari dimana kaum pribumi semakin membenci kaum Tiong hoa.

      Yang sangat menyedihkan adalah kaum pribumi yg intelek dan berpendidikan, mengapa mereka juga ikut ikut tingkah yg tidak educated bukannya bangkit dan membela kebenaran. Rupanya Suharto dan kawan2 sampai hari ini mengerti dengan benar kepribadian kaum pribumi yang pasif dan nerima nasib sehingga Indonesia sampai hari ini masih kacau.
      Melihat negara2 asia lain yg sdh maju pesat menandakan 'something is wrong" dengan masyarakat Indonesia.

      Malaysia tetangga terdekat dengan asal melayu juga tetapi mereka lebih pandai dalam hal merangkul kaum Tiong hoa sehingga negaranya menjadi lebih pesat dan maju di banding Indonesia.

  4. Haryanto says:

    Lebih baik dengarkan etnis ini ingin disebut Cina atau Tionghoa, karena yang merasakan panggilan itu nyaman atau tidak sudah pasti adalah yang bersangkutan.

    Kalau ada yang berpendapat, itu tergantung pada yang memberi 'cap', silakan ke Amerika dan setiap bertemu dengan yang berkulit hitam katakan : "hai Nigger" lalu lihat reaksi mereka, juga jangan tersinggung kalau ke Malaysia ada yang menyapa : "hai Indon"

  5. R Loe says:

    Here is my input about Cina atau Tionghoa.

    Let us forget about the history of how the word Cina or Tionghoa was first used etc.2.

    What is important is that the word Cina was used derogatory at one point in time and may still be used that way. While Tionghoa was supposedly the proper non-derogatory word to use and everybody knows that. It is like the n word vs african amrerican.

    Nobody in his right mind would use the n word unless he/she is using it on purpose to degrade that person. I think the same is true for using the word Cina. That is how I remember it. So there should not be a debate/discussion about the use of the word Cina. Had it never been used in a degrading context, then yes you can bring up all this historic stuff, but not now.

    This is my personal opinion.

    • Saya masih kurang mengerti mengapa kata Cina dianggap kasar atau melecehkan? Barangkali itu bukan soal kata itu sendiri, tapi konteks pemakaiannya, khususnya di era orde baru, dimana sebutan "cina" memang sering dipakai untuk merendahkan atau melecehkan. Tapi yang menggunakannya untuk maksud melecehkan justru kebanyakan mereka yang merasa "inferior" oleh karena suatu hal, misalnya kalah dalam berargumen, atau bernegosiasi, dan sejenisnya. Sedangkan mereka yang lain, menyebutkan kata Cina dengan aksen netral, dan tidak ada masalah. Jangan lupa sebutan China, Chinese, the People's Republic of China, Made in China jelas-jelas resmi dan tidak merendahkan.

    • Alec says:

      Betul sekali dan saya sangat setuju dengan ulasan R. Loe. Karena kata cina selalu di pakai untuk meyakiti org Tiong Hoa dan karena terjadinya adalah pada saat di mana org org tiong hoa di paksa untuk mengganti namanya, di larang bicara mandarin, sekolah tiong hoa di tutup. Maka kata2 cina secara otomatis terkait dgn kebencian thdp kaum tiong hoa.

      Untuk yang memiliki otak waras dan untuk yg menyebut dirinya memiliki pendidikan, sehaursnya tidak menggunakan isitilah itu bila merefer ke org org keturunan tiong hoa.
      Sama seperti seseorang yang memanggil orang lain "hei! Jancuk!" apa itu benar bila org yg di tuju tidak jancukan?
      Apakah anda mau saya pangil "jancuk" kalau anda seorang pribumi?

  6. Felix Xu says:

    Apakah arti kata Cina, Tionghoa, Huaren dll.

    .by Felix Xǔ 许 on Thursday, March 11, 2010 at 10:28am.Hua Ren 华人

    Banyak orang berpikir bahwa Hua Ren berarti "overseas Chinese" atau keturunan Cina yang tinggal di perantauan. Ternyata Hua Ren artinya adalah semua orang keturunan Cina di seluruh dunia termasuk yang tinggal di RRC maupun di negara-negara lain. Hua 华 itu artinya indah dan Ren 人 adalah orang.

    Zhongguo Ren 中国人

    Dalam bahasa Inggris adalah Chinese dan dalam bahasa Indonesia adalah orang Cina. Banyak salah kaprah dalam pemakaian istilah ini. Ini adalah istilah politik, bukan etnis ataupun budaya. Dalam arti kata mereka yang mempunyai kewarganegaraan Republik Rakyat Cina ataupun Republik Cina (Taiwan) adalah Zhongguo ren atau orang Cina. Sedangkan mereka yang tidak mempunyai kewarganegaraan RRC atau RC, tidak dapat menyebut dirinya sebagai orang Cina.

    Huaqiao 华侨

    Adalah mereka yang tinggal di luar RRC tetapi tetap memegang kewarganegaraan RRC. Misalnya mereka yang tinggal di Amerika, memegang greencard, tetapi tidak menjadi warganegara Amerika Serikat, melainkan tetap memegang kewarganegaraan RRC.

    Huayi 华裔

    Adalah mereka yang tinggal di luar RRC tetapi bukan warganegara RRC. Misalnya ABC (American born Chinese) yang mempunyai kewarganegaraan Amerika Serikat. Mereka yang memegang kewarganegaraan Indonesia adalah termasuk huayi.

    Ini adalah istilah-istilah yang populer di RRC. Namun ada juga istilah lain yang dipakai di negara-negara lain, seperti di bawah ini :

    Tangren 唐人

    Ini adalah istilah lama yang jarang digunakan. Umumnya orang dari Cina Selatan menyebut dirinya Tang Ren. Tang berasal dari dinasti Tang. Dalam bahasa Hokian adalah Teng Lang dan bahasa Hakka/Khek thong ngin. Saat ini istilah Zhongguo Ren lebih populer.

    Zhong Hua 中华

    Dalam ejaan resmi Mandarin yang diromawikan adalah zhōng huá. Atau dalam bahasa Indonesia adalah Tionghoa, yang berasal dari kata dalam bahasa Hokkian. Kata Tionghoa hanya dikenal di negara Indonesia saja.

    Orang Tionghoa digolongkan sebagai salah satu suku dalam lingkup nasional Indonesia, sesuai Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

    Kesimpulan : banyak orang yang masih rancu dengan penggunaan kata Cina atau Tionghoa. Mengacu pada keterangan di atas dan istilah yang resmi dipakai kedua negara yaitu RRC dan Indonesia. Jelaslah bahwa orang Cina (Zhongguo Ren 中国人) adalah mereka yang memegang kewarganegaraan RRC atau RC, sedangkan orang Tionghoa adalah mereka yang memegang kewarganegaraan Indonesia.

    Felix Xu, Redlands 11 Maret 201

    Dikutip dari berbagai sumber.

    .

    • Alec says:

      Maaf saya tidak setuju dgn ulasan sdr. Sebagai org yg memiliki budaya maka org itu harus mengetahui asal usulnya. Bukannya kalau saya lahir di Indonesia dr org tua chinese saya bukan lagi chinese. Kalau saya di lahirkan dr org tua chinese tetapi saya lahir dan mati di Amerika berarti saya bukan chinese. Logika ini jelas salah!!! orang harus memiliki kebudayaan, di mana pun org ini dilahirkan dia harus mengetahui keturunannya dan kebudayaannya.
      Suatu contoh yg valid adalah kaum hitam di US, sampai hari ini kaum hitam US menyelahkan kaumputih Eropah yg menculik mereka dr Afrika dan menghapuskan kebudayaan mereka. Meskipun mereka bangga menjadi "American" tetapi kebudayaan mereka "Tidak ada" dan keturuan mereka hanya memiliki kebudayaan Eropah putih. Hal ini merupakan suatu kemaluan besar bagi para kaum putih di USA maupun Eropah yg telah mencabut kaum hitam tidak saja dr tanah kelahiran mereka tetapi juga dr kebudayaan mereka.

      Bila Chinese memperingati "Chinese New year", Korean memiliki Korean tradition, Orang Belanda mempunyai tradisi mereka dan org dr negara lain merayakan tradisi mereka, kaum hitam di Amerika tidak merayakan apa apa krn mereka tidak punya hari national, yg mereka rayakan adalah tradisi org putih.

      Bila hal yg sdr. Flix utarakan itu benar, tidak seharusnya kaum hitam di US merasa begitu marah terhadap keadaan mereka. Semoga contoh yg saya berikan ini make sense.

  7. Yan says:

    Mau Cina atau Tionghoa sama saja, yg jelas mereka (Cina) yg berasal dari Indonesia tidak diakui sekalipun WNI di Indonesia ataupun dinegri Cina (Tiongkok)sendiri, kecuali Uang Banyak bisa jadi warga istimewa dinegri tersebut. contoh Lim Su Liong diakui di RRC karena menyumbang banyak bikin jalan-sekolah disana, di Indonesia anda bisa jadi warga istimewa seperti Murdaya Poh, Tomy Winata (TW) dan lainnya.

    • Alec says:

      Sdr. Yan, orang America yg lahir di Africa juga tidak diakui sebagai American di USA!!! demikian pula org Jepang yang lahir di Brazil tidak diakui sebagai org Jepang di Tokyo…tapi kalo mereka dihargai dinegara dimana mereka dilahirkan apakah itu tidak jauh lebih baik dan merupakan hal yg benar?

      Chinese yg dilahirkan di Indonesia tidak perlu mendapat pengkuan dr negara Tiongkok, karena memang dia bukan orang Tiong kok tapi org Indonesia.Org chinese yg lahir di Indonesia sehaursnya diakui dan tidak dibenci oleh Indonesia, itu inti pembicaraan disini, rupanya anda kurang mengerti inti masalahnya yg dibicarakan disini.

  8. Sebagai non-Tionghoa, saya lebih enjoy dan enak mengucap Tionghoa ketimbang lainnya. Salam.

    • alec says:

      Saya merasa bila 60% masyarakat Indonesia dapat memiliki sikap dan pikiran seperti Bapak Choirul, Indonesia akan lebih maju darinegara negara diasia lainnya

  9. Cai Jin Biao says:

    Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih pada Indonesiamedia.com yang sudah mengangkat sejarah suku Tionghoa di Indonesia. Pada jaman Orla istilah Cina dan Tionghoa sama-sama dipakai dalam pergaulan sehari-hari meskipun kata Cina lebih sering dilontarkan dalam suasana "kebencian" misalnya : dasar Cina lu ! Memasuki era Orba, istilah Cina makin populer sehingga generasi yang lahir di rea Orba tidak merasa "tersinggung" disebut sebagai Cina sementara generasi yang lahir sebelumnya masih merasakan ada suasana "kebencian" kalau orang menyebut Cina.

    Untuk menghilangkan perasaan tidak enak (dilecehkan) dan sekaligus mengapresiasi kepada orang Tionghoa yang sudah ikut berjuang dalam mendirikan negara kita ini, saya menyambut baik penggunaan istilah Tionghoa.

    • alec says:

      ralat untuk sdr Cai, bukannya istilah "Cina" menjadi populer diantara generasi yg lahir pd jaman orba tetapi krn generasi ini tidak mengalami getir pahitnya yg lebih tua jadi elbih tidak sakit hati.
      Saya setuju dgn ulasan lainnya.

  10. apakah cina ataukah tionghoa…pokoknya INDONESIA TAAT HUKUM…
    sama saja kita menyebut sunda, batak, jawa, madura, aceh dll

    • alec says:

      Hermina, apa maksudnya taat hukum????
      kalo pemerintah Indonesia melarang orang orang chinese mengunakan nama chinese, melarang org2 chinese
      mengenali kebudayaan chinese, itu taat hukum????? kamu sekolah dimana?
      Coba kalo pemerintah Indonesia suatu saat melarang orang orang batak menggunakan nama Batak dan memperingati hari raya Batak……saya mau lihat kalo nggak terjadi perang suku!

      Mohon di pikir sebelum buka mulut

  11. borjong says:

    china adalah china…tidak akan pernah jadi spt Indonesia..jika sudah punya posisi tawar dan harta akan di bawa pulang ke negara china…

    • alec says:

      Borjong!
      Saya tinggal di Englang, disini banyak pribumi. Mereka cari duit sebanyak banyaknya dan juga boyongan balik ke Indonesia….jadi menurut Borjong boleh kita mengolok dan merendahkan mereka?
      Lagi pula, bila anda mengatakan "China" itu menyangkut seluruh orang tiong hoa dimana saja seperti bila saya mengutuk pribumi Indonesia itu semua primbumi Indonesia kena cakup! pd hal pribumi yang baik banyak! apakah patut mereka yg baik ikut dicela?

  12. O Iskandar says:

    Kalau Anda orang Indonesia lagi marah terhadap seorang Tionghoa Indonesia pasti anda sebut cina lu. Ini persis dengan niger untuk panggilan orang African American. Jelas penghinaan. Jadi kalau Anda seorang intelek yang baik pasti setuju bahwa Tionghoa adalah panggilan yang pantas untuk seorang Indonesia yang bermata sipit dant berkulit kuning langsat ex nenek moyang bercampur atau 100% dari Tiongkok.

    • alec says:

      Penjelasan yg bagus, di Indonesia kita butuh orang2 yg dapat berpikir seperti Bapak hoirul dan Iskandar
      semakin banyak org berotak normal, semakin pesat majunya indonesia

  13. M. Koo says:

    I definitely like to vote for the
    name Tionghoa. Not just because of the long historical contributions, aspirations and sacrifices of Chinese as one of the many ethnic groups (from time immemorial) in Indonesia but also the word 'cina' has a downgrading conotation for the Chinese ethnic group. Keep in mind the Chinese ethnic has to be respected as a positive community builders way before colonial time in all fields. Before colonialism Chinese is just one of the Indonesian ethnic (Melayu Muda) living in mutual benefits. Intellectual analogy, even the Chinese in China consists of Asiatic ethnic groups. Scapegoating, politicking, superficiality have used subjective evaluation to put jealousy innuendoes to create hatred amongst the common people by dwelling on humanity negative aspects. Every human being has good and bad qualities not just a certain ethnic, that's why weas Indonesians need to respect the " Ketuhanan Yang Maha Esa" from Pancasila. Just like any ethnic existing in Indonesia we must all treated at the same level i.e. in the law, education, religion etc. We must put the Bhineka Tunggal Ika symbol into practice. The word 'cina' has racist, hate, envie, resentment, dirt overtones within the context of the word.

  14. andaikata sdr alec membaca semua comment saya di semua media…saudara pastinya TIDAK AKAN MENULIS SEPERTI ITU KEPADA SAYA…TANYAKAN KEPADA MEDIA MASA SAYA “SEKOLAH” DI MANA, BAHKAN BISA DIKETAHUI DARI SEMUA COMMENT SAYA…SAYA ORANG TAAT HUKUM, MAAF ANDAIKATA COMENT SAYA TELAH MELUKAI HATI SAUDARA…

  15. sdr alec MAAF ANDAIKATA IBU TELAH MELUKAI HATI ANDA…Ibu tidak pernah sekecil apapun melukai hati orang kecuali mereka yang tidak taat hukum yang menjadi musuh kita semua SEHINGGA TIMBUL KORUPSI BESAR-BESARAN…

  16. Geger says:

    Heran kenapa hanya Tionghoa/Cina di Indonesia yang gerah/terhina dengan sebutan Cina sementara negara asalnya saja menyebut dirinya Peoples Republic of China untuk RRC atau Republic of Cina bagi Taiwan. Orangnya disebut Chinese diliteratur manapun mereka mengklaim sebagai China dan Chinese (atau setara Chinois kinesisk chinesisk chino dll dalam berbagai bahasa dunia.
    Penghinaan terlihat/terdengar dari penekanan kata kok. Jadi peace bro, Orang batak banyak yang ingin disebut Tapanuli atau orang Minang biasa disebut Padang, namun gak ada yang kebakaran jenggot

Leave a Reply