Pengembangan Budidaya Talas di Sumut dengan Land Bank, Antusiasme Masyarakat


Pengembangan Budidaya Talas di Sumut dengan Land Bank, Antusiasme Masyarakat

dilaporkan: Setiawan Liu

Medan, 13 Desember 2020/Indonesia Media – Pengembangan talas beneng di beberapa daerah di Sumatera Utara (Sumut) termasuk kabupaten Karo, Dairi, Pakpak sangat potensial terutama factor land bank, antusiasme masyarakat dan petani. Kendatipun, pembelian keluar daerah produksi masih menjadi prioritas usaha budidaya talas tersebut. “Penyerapan pasar termasuk pabrik-pabrik harus diusahakan. Salah satunya, kita bikin MoU (memorandum of understanding). Kalau ada yang beli (hasil panen), masyarakat petani pasti mau,” Yendi Sembiring dari PT Pandawa Agro Sumatera mengatakan kepada Redaksi.

Talas Beneng sudah lebih dulu dikembangkan dalam satu kawasan dengan luas 100 hektar-an di Pandeglang. Pengelolaan bertumpu pada konsep korporasi petani yakni dari hulu ke hilir. Proses produksinya maksimal dan petani terjamin memperoleh peningkatan kesejahteraan. “Kami buka lahan untuk tanam talas dengan sangat mempertimbangkan penyerapan pasar. Kami menampung hasil panen petani. Kami bermitra olah tepung talas gaplek, diproses di oven,” kata Sembiring.

Pengembangan talas diyakini bisa mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan petani serta penumbuhan ekonomi masyarakat. Kementerian Pertanian sempat mengapresiasi langkah Kabupaten Pandeglang dalam upaya mengembangkan Talas Beneng ini. Korporasi petani sudah diuji coba di beberapa lokasi dan terbukti kinerjanya meningkatkan produksi, nilai tambah dan kesejahteraan petani itu sendiri serta membangun cara bertani yang maju, mandiri dan modern. “Kami sudah dapat bibit sampai 100 ribu per tiga bulan pertama. Anakan (dari tunas-tunas yang tumbuh berdekatan dengan pangkal pohon induk) dikenakan biaya sekian, kami akan jual kepada petani. Pengawasan berkala sehingga program penanaman bisa berjalan efektif,” kata Sembiring.

Sementara itu, pelaku usaha talas beneng di Pandeglang Ardi Maulana yakin dengan pengolahan daun talas sebagai pengganti tembakau non-nicotine. Bahkan, Sultan Banten ke-18 di Serang akan menyediakan sarana pemasaran rokok non-nicotine tersebut sebagai icon souvenir kesultanan. Ide ini diyakini bisa meningkatkan kepariwisataan Banten. “Kami diterima (Sultan Banten) sekitar bulan lalu, dan membawa tembakau, produk rokok. Sutan sudah coba (rokok non-nicotine) dengan ramuan kayu manis, cengkih. itu kan rempah-rempah alami, organik. Produk rokoknya akan dipasarkan terutama saat ada event ziarah makam. Ribuan orang akan datang (berziarah), dan pulangnya membawa souvenir rokok dari daun talas,” kata Ardi Maulana

Daun untuk pengganti tembakau non-nicotine sebetulnya bukan hal yang baru.  Bahkan di beberapa negara Eropah, masyarakat sudah memanfaatkan daun untuk kertas rokok. Rokok diproduksi dengan tembako racik dengan penentuan grade nya. “Pembuatan rokok pasti manual (racik), tidak dengan mesin. Kita ganti kertas rokok dengan daun. Kalau di luar negeri, seperti cerutu. Di Kudus (Jawa Tengah), ada perusahaan cerutu dengan memanfaatkan daun talas. Daun tidak dirajang, tapi dipotong-potong seperti papir (kertas rokok). Bentuknya juga lebih menarik, dan bisa menjadi life style,” kata Ardi. (sl/IM)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

One thought on “Pengembangan Budidaya Talas di Sumut dengan Land Bank, Antusiasme Masyarakat

  1. indra wayan
    February 14, 2021 at 9:35 pm

    dimana bisa mendapatkan bibit talas bening ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *