China Town Chandra Naya Tetap Menjadi Destinasi Wisata Ketika Covid-19 Landai
dilaporkan: Setiawan Liu
Jakarta, 11 Oktober 2020/Indonesia Media – Ketua Tim Pemugaran Candra Naya Naniek Widayati menilai pecinan atau kampung China (China town) di berbagai kota besar di dunia, termasuk Indonesia potensial menjadi destinasi wisata, termasuk bangunan tua seperti Chandra Naya yang masih exist bersanding dengan gedung modern. Kota-kota besar di dunia termasuk San Francisco (Amerika) juga masih ada pecinan, dan berhasil menarik wisatawan. Seketika kurva kasus covid-19 khususnya di Jakarta terus landai, Chandra Naya akan kembali dikunjungi para wisatawan dalam dan luar negeri.
“Kami serius tangani konservasi. Bangunan inti di tengah dikonservasi karena seluruh komponen terutama lantai, atap genteng masih asli. Upaya perbaikan atap, (awal konservasi) genteng-genteng berjamur. Ada juga yang pecah, bolong, sehingga kami bawa (genteng berjamur) ke Jatiwangi Pabrik Sinarmas (di kab. Majalengka, Jawa Barat) untuk moulding. Sehingga (genteng dibuat) persis (dengan yang asli) untuk tambal yang pecah. Secara keseluruhan, kondisi genteng gedung inti Chandra Naya, 90 persen masih asli,” Naniek Widayati mengatakan kepada Redaksi.
Situs Chandra Naya masih sangat menarik, termasuk harmonisasi dengan bangunan modern. Selain, bangunan tua tersebut berdiri di atas lahan milik swasta. Dan kebetulan juga, di dalam komplek gedung modern berupa superblok GCC (Modern Group), ada bangunan cagar budaya. “Hal ini semakin menarik, karena masih banyak kelompok ataupun komunitas sosial yang mengaku punya hubungan emosional dengan Chandra Naya. Mereka dulunya mengaku alumni Sekolah Chandra Naya, atau peserta kursus fotografi, pelatihan karate, tenis meja dan lain sebagainya,” tegas Kepala Program Studi Magister Arsitektur Untar Jakarta.

Sehingga, owner juga berupaya mencari sumber dana, salah satunya dengan menyewakan beberapa bangunan bukan inti. Situs Chandra Naya, terdapat bangunan inti dan dua bangunan pada sayap kiri dan kanan. Kondisi sekarang, deretan bangunan pada kedua sayap disewakan untuk café, resto. “Bangunan yang tidak menjadi inti bisa disewakan, (yakni) resto dan berbagai jenis food and beverage. Dalam kondisi normal, sebelum pandemic covid-19 mendera, resto dan café selalu dipenuhi pengunjung. (pemanfaatan bangunan non-inti) menghasilkan uang untuk biaya maintenance,” tegas Naniek Widayati. (sl/IM)















