Polisi Kembali Ciduk Sembilan Tersangka Kerusuhan 21-22 Mei 2019, Salah Satunya Provokator


POLISI kembali menangkap sembilan orang yang diduga terlibat dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019.

Penangkapan tersebut dilakukan berdasarkan bukti elektronik dan pendekatan pengenalan wajah (face recognition) terhadap pelaku.

“Total awal tersangka ialah 447 orang, kini jadi 456 orang. Artinya bertambah sembilan orang,” ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (19/7/2019).

Kesembilan orang tersebut telah ditetapkan menjadi tersangka.

Polisi menangkap satu provokator yang berada di Ciamis, Jawa Barat, berdasarkan pemeriksaan bukti visual di lokasi bentrok dan Asrama Brimob Petamburan.

“Bukti elektronik ini mengarahkan mereka kepada provokasi. Satu orang atas nama YG di Ciamis, juga ditangkap karena ia provokator peristiwa. Dia termasuk dalam sembilan orang itu,” ungkap Asep.

Sembilan orang itu rata-rata berasal dari luar Jakarta. Dari 456 tersangka, ada 207 orang yang ditangguhkan penahanannya.

Selebihnya, masih proses penyidikan dan pemberkasan. Pertimbangan penangguhan penahanan adalah penilaian subjektif penyidik.

“Bila yang bersangkutan tidak melarikan diri, tidak mengulangi perbuatannya, tidak merusak barang bukti, dan ada penjamin dari keluarga atau pengacaranya bisa kami lakukan itu (penangguhan),” tutur Asep.

Sebelumnya, polisi berhasil mengidentifikasi penembak misterius yang menewaskan sejumlah orang, saat kerusuhan 21-22 Mei 2019.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, ciri-ciri dari penembak misterius tersebut diketahui setelah terlihat oleh saksi.

“Ada seseorang yang tingginya sekitar 175 sentimeter, kemudian rambut panjang, kurus,” ujar Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Jumat (5/7/2019).

“Dia menembakkan dengan tangan kiri. Ini yang sedang kami dalami. Ada saksinya.”

“Karena ada saksi yang melihat korban itu tertembak, jatuh, kemudian dievakuasi. Semuanya itu akan kami dalami,” tambah Dedi Prasetyo.

Keterangan ini sesuai hasil uji balistik terhadap korban meninggal dunia.

Arah peluru dianalisis bukan berasal dari arah depan atau petugas kepolisian, melainkan dari samping.

Polri menggunakan sejumlah cara untuk mengidentifikasi penembak misterius tersebut.

Cara pertama yang dilakukan penyidik adalah menganalisis video rekaman kerusuhan.

Metode ini dilakukan untuk mengidentifikasi wajah si penembak misterius.

“Kami sedang menganalisis kembali menggunakan face recognition dari berbagai macam visual yang ada,” tutur Dedi Prasetyo.

“Baik melalui video, CCTV, termasuk kita combine dengan keterangan saksi,” imbuhnya.

Cara kedua, lanjutnya, penyidik juga menggunakan teknologi voice analysis.

Cara ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis suara letusan saat kerusuhan.

“Dianalisis apakah benar suara senjata api. Karena setiap letusan itu punya kekhasan masing-masing.”

“Atau letusan petasan. Ini semuanya akan dibedakan nanti,” jelas Dedi Prasetyo.

Hasil dari analisis keduanya akan dikombinasikan dengan hasil rekonstruksi terhadap korban meninggal dunia, termasuk keterangan saksi.

Sebelumnya, berdasarkan hasil investigasi Polda Metro Jaya, ditemukan dugaan dua korban tewas saat kerusuhan 22 Mei ditembak orang tidak dikenal.

Dua orang tersebut adalah Harun Al Rasyid di Slipi dan Abdul Aziz di Asrama Brimob, Petamburan.

Polisi menemukan dua proyektil di tubuh kedua korban.

”Korban Harun Al Rasyid ditembak dari jarak 30 meter dari sisi kanan,” beber Direskrimum Polda Metro Jaya Suyudi Ario Setio di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Jumat (5/7/2019).

“Sisi kanan itu ruko-ruko di dekat flyover Slipi,” terangnya.

Dari sembilan korban yang tewas, dua jasad telah selesai diautopsi. Jasad lain tidak diautopsi karena keluarga tak mengizinkan.

Suyudi menjelaskan, dari keterangan saksi yang diperiksa, Harun ditembak menggunakan pistol berwarna hitam yang mengarah ke perusuh.

Penembakan dilakukan menggunakan tangan kiri.

”Harun Al Rasyid meninggal di TKP kemudian dibawa ke rumah sakit,” ungkap Suyudi.

Dirinya memastikan penembakan bukan dilakukan oleh anggota Polri.

Menurutnya, anggota Polri yang mengamankan lokasi berada pada jarak 100 meter.

Kejadian sama berlangsung saat kerusuhan di depan Asrama Brimob Petamburan.

Abdul Aziz ditemukan tewas karena ditembak orang tak dikenal, dengan tembakan mengenai punggung kiri.

Sebelumnya, hasil investigasi kerusuhan 21-22 Mei 2019 oleh tim gabungan yang dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian, menyebutkan empat dari sembilan korban tewas akibat peluru tajam.

“Kemudian dari yang 9 korban ini sudah dilakukan autopsi,” ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (17/6/2019).

“Dan hasilnya bahwa 4 korban jelas itu merupakan korban meninggal karena peluru tajam,” sambungnya.

Asep mengungkapkan, penyidik telah menyita dua proyektil untuk dilakukan uji balistik.

Tim forensik menemukan proyektil peluru di tubuh dua korban.

“Dari empat korban yang diautopsi, ada dua proyektil ditemukan di dua tubuh korban. Sementara yang lainnya tidak ditemukan proyektil, namun ada bekas luka tembak juga,” ungkap Asep.

“Dari sembilan yang meninggal, sudah lima yang kita ketahui TKP penemuan korban tersebut. Keseluruhan berada di wilayah Petamburan,” jelasnya.

“Yang empat masih dalam proses pendalaman,” tambah Asep.

Sedangkan korban lainnya, lanjut Asep, satu tewas diduga akibat tindak kekerasan menggunakan benda tumpul saat kerusuhan 21-22 Mei 2019. Sementara, empat korban lainnya masih dalam upaya penyelidikan.

“Memang yang lima belum diautopsi karena langsung diambil oleh pihak keluarga,” cetus Asep.

Sebelumnya Wartakotalive memberitakan, polisi terus berupaya menyelidiki penyebab kematian sembilan orang dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra mengungkap hambatan pihaknya dalam mengetahui penyebab kematian, salah satunya adalah tidak diketahuinya lokasi tewas para korban.

“Tidak secara keseluruhan kita mengetahui di mana TKP terjadinya hal yang menyebabkan meninggal dunia tersebut,” ujar Asep di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (12/6/2019).

“Karena semuanya, korban-korban ini diduga pelaku aksi rusuh ini, langsung diantarkan ke rumah sakit,” sambungnya.

Mantan Kapolres Metro Bekasi Kabupaten itu mengatakan, para penyidik tengah mendalami semua hal terkait peristiwa tersebut. Mulai dari keterangan para saksi, hingga menelusuri lokasi dan kronologi kejadian.

Menurutnya pula, penyelidikan terhadap arah dan jarak tembak perlu dilakukan. Alasannya, kata dia, korban diduga meninggal karena peluru tajam yang menembus tubuh.

Selain itu, Asep menyebut tim investigasi gabungan yang terdiri dari Polri, Kompolnas, Komnas HAM, dan Ombudsman, nantinya akan menyampaikan hasil pemeriksaan uji balistik peluru yang mengakibatkan korban tewas.

“Kami harus tahu bagaimana arah tembak, jarak tembak, dan sebagainya. Jadi olah TKP itu penting. Tapi kuncinya sekali lagi kita menemukan di mana TKP-nya, itu tugas kita,” paparnya.

“Nanti pada kesempatan yang akan dijadwalkan akan disampaikan (hasil pemeriksaan uji balistik peluru),” cetus Asep ( WK / IM )

 

 

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *