Pembangunan, Tugas Bagi Sang Pemimpin


Pertarungan Pilpres akan dimulai kurang dari 45 hari lagi. Kedua pasangan Capres – Cawapres telah menuliskan visi misinya dan siap berorasi di seluruh penjuru nusantara. Banyak hal yang menjadi perhatian para Capres, seperti mengenai pengelolaan Sumber Daya Alam, pendidikan , penegakan hukum, kesejahteraan masyarakat, hingga pembangunan.Penyosialisasian program-program tersebut diharapkan dapat dijadikan pedoman bagi masyarakat untuk  memilih pasangan Capres pada 9 Juli mendatang.

Meski pendeklarasian visi misi Capres memberi aroma segar pada masyarakat, tapi masih ada setelintir pihak yang tidak antusias mendengar pemaparan visi misi tersebut. Hal ini disebabkan oleh perasaan kecewa terhadap pemerintahan sebelumnya yang dirasa hanya bisa menngobral janji dan kemudian mendapat ‘amnesia dadakan’ketika  telah terpilih.

Bagi pihak yang perpikir positif, adanya visi misi yang disampaikan oleh pasangan Capres – Cawapres ini merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu, karena melalui visi misi tersebut masyarakat menjadi lebih mengenal sosok dan tipe kepemimpinan Capres. Lebih dari pada itu, visi misi ini akan menjadi pegangan masyarakat untuk menuntut Capres terpilih jika pada masa jabatannya tidak ada upaya realisasi visi misi tersebut.

Diantara berbagai program yang direncanakan oleh pasangan Capres – Cawapres, salah satu program yang menarik perhatian adalah pembangunan.  Dalam kemerdekaan yang  hampir memasuki usia 69 tahun, pembangunan di Indonesia masih dirasakan tidak seimbang, antara pusat dan daerah, dimana pusat (Jakarta) masih menjadi tujuan utama pembangunan, padahal sumber dana pembangunan Jakarta salah satunya berasal dari daerah. Hal ini semakin menjauhkan jarak sosial yang terjadi antara daerah dan pusat. Penetapan otonomi daerah yang diharapkan mampu memberikan keleluasaan bagi daerah agar lebih berkembangpun nyatanya tidak banyak menolong. Rumitnya adminstrasi serta munculnya raja-raja kecil yang sibuk memperkaya diri sendiri menjadi penyebab utamanya. Hla ini dirasakan hampir di seluruh daerah, khususnya daerah terpencil seperti wilayah terluar Nusantara.

Melihat profil garis batas Nusantara, baik melalui pemberitaan media (TV/koran), serta melalui film yang mengangkat tema di perbatasan sungguh sangat memperihatinkan. Hampir di seluruh wilayah terluar belum terasa dampak pembangunan. Daerah tersebut cenderung tertingal. Saat ini gambaran mengenai wilayah terluar Indonesia cukup jelas antara lain minimnnya tempat pengobatan, sekolah, bahkan tenaga pengajar sekalipun. Di wilayah terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, harga produk lokal pun cenderung lebih mahal dari buatan luar negeri, dan yang lebih parah adalah beberapa kalangan masyarakat justru menggunakan mata uang luar negeri sebagai alat tukarnya. Tidak heran jika akhrinya ada masyarakat yang memilih hengkang dari Indonesia dan berpindah kewarganegaraan.

Pembangunan memiliki hubungan yang erat dengan kesejahteraan. Pembangunan yang merata akan memperluas lapangan pekerjaan serta meningkatkan  kesempatan kerja dan memperbesar kemungkinan rakyat menjadi lebih sejahtera. Untuk dapat mewujudkan pembangunan yang merata di segala sektor, diperlukan pemimpin yang peka terhadap lingkungan dan berwawasan yang luas. Untuk itu, melalui momentum Pilpres 2014 yang akan berlangsung pada 9 Juli mendatang marilah kita pergunakan hak suara berdasarkan hati nurani agar terpilih pemimpin yang mampu membangun Indonesia secara keseluruhan tanpa ketimpangan.

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *