Panen Pinang di Bangka, Harga Pantas untuk Eksportir
dilaporkan: Setiawan Liu

CV Sinyo mengumpulkan pinang-pinang dari petani di pelosok hutan di Mendo Barat. Kegiatan pengumpulan dibarengi monitor langsung di lokasi perkebunan, sambil bersilaturahmi dengan petani. Selama ini, ketika panen tiba, CV Sinyo mengendarai mobil pickup untuk membawa pinang ke kampung terdekat. “Kawan-kawan petani yang memanen, kami ambil dan bawa ke kampung. Kami timbang, kami beli langsung dengan cash,” kata Sarbini.
Perjalanan dari kampung ke hutan sekitar 3 km dengan mobil pickup, dengan kondisi jalan berlumpur dan berlobang. Sehingga ketika ada insiden terutama mobil terperosok ke dalam lumpur, kegiatan pengumpulan pinang lebih lama. Mobil pickup tidak bisa langsung ke kebun, sehingga Sinyo dan petani harus berjalan kaki. “Kami yakini petani, kalau harganya bersaing, akan ada repeat order dari eksportir. Kami jual dengan harga Rp 15.000/kg, sementara harga pasaran Rp 20.000/kg,” kata Sarbini.
Di tempat berbeda, Aan Kamil dari Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Jawa Tengah membuka peluang kerjasama dengan daerah lain penghasil pinang. P4S sudah dihubungi Dinas Perkebunan kab. Kubu Raya, Prov. Kalimantan Barat (Kalbar) untuk pengelolaan, pengembangan, pemasaran pinang. “Proses pengeringan pinang petani di rumah pengering pinang di Kubu Raya dengan bantuan dari Disbun (Dinas Perkebunan). Kemarin, ada bantuan mesin pengupas. Semoga petani semakin semangat menanam pinang di Kubu Raya,” kata Aan.
Potensi pinang di Kubu Raya melimpah, apalagi di support Disbun. Penanaman pohon pinang baru juga berjalan masif. Dalam beberapa tahun ke depan, kapasitas produksi meningkat. Karena jumlah pohon pinang yang sudah tertanam (existing), sekarang ditambah lagi pohon pinang baru. “Populasi pohon pinang bertambah dan kami juga intens membahas dengan Disbun mengenai pasar, harga pembelian-penjualan dengan petani dan eksportir,” kata Aan. (sl/IM)














