Kisah Pulkam Bang Jeha # 13


Kemarin 10 Oktober 2010, disingkat 10-10-10 alias tanggal istimewa sehingga banyak warga Planit
Bumi ini pada kawin, maksudnya menikah agar dapat dijadikan kenangan atau mudah diingat tanggal
pernikahannya. Maklum bapak- bapak kalau sudah puluhan tahun menikah suka sudah lupa, maksudnya
karena ya pikun. ūüôā Jangankan lupa tanggal pernikahan, lupa pula anak isteri ada berapa. Nah, karena
tidak mau bentrok dengan 10 pasangan yang menikah di hari yang sama, keponakan Cecile sudah
menikah di tanggal 9-nya. Dengan hadir di pernikahan itu genaplah atau selesailah obyektif utama
kunjungan kami pulkam di tahun ini, menghadiri dua pernikahan keponakan kami. Sekarang kami tinggal
mengatur menjadwalkan undangan makan para prens kami yang sudah rindu bertemu. So pasti mereka
tidak akan mengajak hamba ke KFC.

Hadir di 2 pernikahan keponakan kami di Indo, plus sekali undangan pren kami warga Toronto yang
menikahkan anak mereka di Jakarta, saya dapat sedikit bersaksi. Upacara atau acara pernikahan sudah
membuat tambah macetnya lalulintas! Gimana engga. Ribuan undangan yang disebar ke para tetamu
dengan sedikitnya dua acara yang berbeda berlainan tempat, jam dan waktunya. Yakni Misa Kudus atau
acara gereja supaya afdol denganNya dan acara resepsi, supaya sreg dengan para ciptaanNya. Jadi biasa
atau lumrah di resepsi maupun Misa yang saya hadiri, ada yang datang sangat terlambat, ketika semuanya
sudah mau selesai. Kata mereka, “Gue kejebak macet total 2 jam”, dan semua cuma bisa mengangguk
mengiyakan sebab itulah nasib anak bangsa Indo yang tidak punya pengawal bersirene mobil.

Akhir pekan ini, 11 Oktober di Kanada adalah Thanksgiving Day, hari yang kami tunggu-tunggu bila
kami ada disana. Sebab selama sedikitnya 10 tahun terakhir ini, saya selalu pergi canoeing camping
ke cagar-cagar alam di propinsi Ontario kami. It’s da best trip of the whole year. Beberapa sebab
musababnya. Paling penting keindahan warna-warni pepohonan yang akan rontok tiada duanya di Planit
Bumi. Tidak banyak negara di dunia yang pemandangan ‘fall colour’nya seindah Kanada. Di Eropa
umumnya hanya berwarna kuning, cuma beberapa negara bagian Amrik di daerah timur lautnya yang fall
colour-nya juga indah, plus konon di RRT. Sebab atau alasan yang kedua adalah tiadanya lagi serangga
pengganggu kenyamanan hidup seperti nyamuk dan blackflies yang menjadi biang kerok kita yang
kempingnya cuma di musim panas. Di suhu yang sudah tinggal satu digit, terkadang minus Celcius bila
malam hari, serangga sudah melungker atau tewas binasa semuanya. Juga karena kami senang menonton
bintang-gemintang di langit, kemping di bulan Oktober dimana matahari lekas terbenamnya, jam 7-an
sudah gelap, lebih banyak waktu untuk melihat mengagumi Gugusan Bima Sakti, Milky Way Galaxy.

Kehilangan itu kami kompensasikan hari-hari ini dengan makan makanan yang yum-yum, syik-asyik,
uenak tenan di tanah air kita bersama. Dari mulai es kopyor duren sebagai appetizer :-), ke sagurangi dan
cem-macem jajanan pasar sampai ke masakan aneh bin ajaib (alias tak ada di Toronto) sampai ke
menu kreasi chef Paul Bocuse di restoran Hotel Mulia. Seriusan, bila hidup Anda untuk makan, variasi
masakan di Indonesia dengan seluruh variasi kuliner dari kilometer nol di Sabang sampai ke ayam
Taliwang di Lombok (forget Merauke, tiada cita-citaku kesitu), tak bisa dilawan macam dan enaknya
(untuk mereka yang doyan pedas :-)). Mudah sekali menduga mengiranya sebab flora dan fauna tanah air
kita luar biasa variasinya dan dengan demikian juga seluruh khasanah bumbu-bumbu yang bisa dipakai
untuk masak.

Hanya karena kurang pemasaran sahaja, maupun tak banyak anak-anak Indo di luar batang, apalagi
yang jadi imigran, buka restoran, maka kesedapan kuliner Indonesia tak dikenal di luar negeri. Satu hal
menarik tapi kualami. Anda banyak yang tahu Cecile pembuat tempe dengan mutu teroke di seluruh
Amerika Utara :-), kuberani taruhan ambil-ambilan tendaku :-). Ternyata sebulanan kami makan di Indo,
setiap ada kesempatan makanan yang ada tempenya kami ambil tuk dicobai, tak ada yang bisa melawan
mutu tempe dia. Tempe di Indo banyak yang asam, fermentasinya kurang bagus sebab wanginya tidak
murni wangi tempe tapi tercampur bakteri Ciliwung :-), plus mutu kedelainya terlihat terasa tersantap
kurang oke. Anda para kustomer tempe kami, sabar yah menunggu tibanya juragan bakul tempe Mpok
Cecile balik ke Toronto, bila stok tempemu sudah habis :-).

Biang kompensasi kehilangan kesempatan kemping Thanksgiving Day 2010 tiba ketika kami di Grand
Ballroom Four Seasons Hotel di Kuningan, menghadiri pesta pernikahan anak sohib kami, Mila dan
Witono. Luwar biasa rek sebab kalau di Kanada, cuma kelasnya Stephen Harper sang PM yang mampu
menyelenggarakan pesta semewah pesta tersebut. Pestanya pakai duduk, sitting dinner dan menu
makanannya lain dari yang lain sebab membuat ikan hiu semakin punah dan juga bebek dari Peking
bergelimpangan :-). Seriusan, pilihan makanannya istimewa, dekor ruangan pesta bukan main indahnya,
di tengah-tengah meja wangi ‘tiger lily’ di antara hiasan aneka bunga lain, harum menerbak mengiringi
santapan kami. Kaga rugi banget dah punya teman kaya si Witono dan diundang ke pesta pernikahan
tersebut. Tidak kalah istimewanya saya dan Cecile dijemput oleh pren kami dari Toronto, Hendry dan Ira.
Trims berat kepada kalian juga, selama beberapa jam saya dapat merasakan bagaimana rasanya jadi pren
di keliknya Stephen Harper atau Barack Obama :-).

… (bersambung) …

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *