Ada Apa Mendagri Berbicara SARA?


Baru terdengar seorang menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II secara terang-terangan berbicara SARA ketika mengomentari  lurah cantik Susan Jasmine Zulkifli.

Apakah benar kalimat yang diucapkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Gamawan Fauzi  murni keluar dari hati dan pikirannya sebagai pejabat negara atau ada yang menyetirnya?

Melihat sosok Gamawan Fauzi, sulit untuk kita memahami dia bisa berbicara seperti itu. Pasti ada sesuatu, sehingga Gamawan Fauzi  mau dicaci-maki publik atas pernyataannya.

Wakil Ketua DPD RI, Laode Ida mengaku tidak memahami pernyataan Gamawan  Fauzi, yang adalah pejabat negara.

“Sikap Mendagri Gamawan Fauzi terhadap Lurah Lenteng Agung sangat aneh, dan sebenarnya tak pantas diekspresikan oleh seorang pejabat negara, apalagi posisi Mendagri,” katanya baru-baru ini.

Laode menilai sikap Gamawan terkesan bernuansa SARA, karena seolah tidak menerima seorang lurah non-muslim di wilayah tertentu, meski hanya terprovokasi resistensi sekelompok orang.

“Ini akan membangun kesan bahwa Mendagri anti-pluralisme, padahal pluralisme  itu bagian dari realita sosial budaya dari Indonesia ada dan dijamin dalam konstitusi,” katanya.

Siapa Gamawan Fauzi?   

Mari kita mencoba memahami siapa Gamawan Fauzi dari track record politiknya selama ini.

Publik Indonesia tidak terlalu mengenal sosok Gamawan Fauzi ketika dia menjadi gubernur Sumatera Barat (Sumbar).

Tetapi namanya  mencuat ketika Gamawan Fauzi membacakan  deklarasi pada pencalonan capres dan cawapres SBY-Boediono pada tahun 2009. Semua orang terkejut, kaget, dan bertanya-tanya.

Mengejutkan karena Gamawan naik menjadi gubernur Sumbar karena didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Bulan Bintang (PBB).

“Dengan mengucapkan bismilahirrahmanirahim, dari Sabang sampai Merauke, dengan ini menyatakan dukungan penuh pada Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Calon Wakil Presiden Boediono,” kata Gamawan di Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat 15 Mei 2009.

“Hidup SBY Berboedi!” kata Gamawan menutup pembacaan deklarasi.

Dalam maklumat deklarasi yang dibacakan Gamawan itu, SBY diceritakan sebagai jenderal purnawirawan yang berprestasi.   Sementara Boediono adalah ekonom kawakan yang banyak berperan dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Sampai di sini, kritikan pun bermunculan. Gamawan menjawab semua kritikan dengan santai.

“Saya membacakan deklarasi tersebut sebagai rakyat Indonesia, bukan sebagai Gubernur Sumbar. Jadi jangan dipolemikkan,” katanya.

Ia pun mengakui dia  diminta khusus oleh SBY pada beberapa waktu sebelumnya.

“Pak SBY beberapa waktu sebelumnya mengundang saya secara khusus dan meminta untuk membacakan deklarasi itu hanya sebagai rakyat Indonesia, bukan karena jabatan gubernur, apalagi saya ketika itu cuti,” katanya.

Gamawang menyatakan, dirinya sedang cuti dari tanggal 13 sampai 24 Mei 2009, sehingga tidak menyalahi etika ketika dirinya membacakan deklarasi tersebut.

Dari sisi etika cuti, memang Gamawan Fauzi tidak bisa disalahkan. Tapi ada etika lain yang dia langgar, yakni dia adalah kader PDI-P dan orang yang sangat dekat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika itu.

Menurut sumber SP di Jakarta, Selasa (1/10), ketika menjadi gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi banyak mendapat privilese terkait pembangunan di daerahnya, karena kedekatannya dengan Yusuf  Kalla (JK).

JK yang istrinya berasal dari Sumbar adalah salah satu faktor kedekatan itu. Tetapi ketika membacakan deklarasi SBY-Boediono, Gamawan Fauzi  meninggalkan JK.

“Gamawan Fauzi juga meninggalkan Megawati Soekarnoputri dan PDI-P, partai yang membesarkan dia. Ternyata semua itu dilakukan karena ada deal antara dia dan SBY,” kata sumber itu.

Lalu bagaimana dengan kasus lurah Susan?  Sumber SP mengatakan, Gamawan Fauzi lagi-lagi menjadi pion dalam kasus ini.

Gamawan disuruh oleh sebuah kekuatan besar untuk mencoba menakar kekuatan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) yang digadang-gadangkan banyak orang sebagai calon presiden.

“Seperti test the water saja, melihat bagaimana reaksi masyarakat atas pernyataannya. Kalau Jokowi goyah dan memindahkan lurah Susan, maka  konstelasi politik 2014 akan berubah total,” katanya.

Ternyata, upaya ini mendapat reaksi keras dari publik. Gamawan Fauzi pun menjadi korban caci maki publik.

Gamawan Fauzi untuk kali ini gagal memainkan skenario yang disutradarai oleh sebuah kekuatan besar yang ada di belakangnya.

Kalau asumsi sumber SP ini benar, maka sangat disesali para pejabat negara, penguasa, dan elite politik  di negara ini ternyata telah menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuannya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *