Kemping ke Alaska # 16


Jam 4-an pagi saya sudah bangun sebab semalamnya tidur dini. Tanpa menunggu ekernya Blackberry Benny, saya keluar tenda di jam 4:30 dan mengeluarkan beberapa perlengkapan dari food storage terutama untuk masak air panas. Suhu masih dingin tapi tidak sedingin kemarin malamnya. Tak lama bangun, si Naruo Jepun-ren juga gabung sebab doski mau numpak bis yang

Grizzly saenak-udele di jalan raya, "kampung gue nih mek," katanya

sama, yang jam 6:30 berangkat keluar Denali Park. Para mat kodak tentu tidak akan sampai keluar sebab untuk masuk kudu bayar lagi $ 31.50 tetapi akan minta diturunkan begitu mereka melihat obyek alias satwa yang digandrungi. Naruo belum sempat memotret moose sehingga ia keluar di tempat yang tak jauh dari campground, daerah dimana kami bertemu moose di jalan raya waktu hiking. Para supir bis saking seringnya menjalani trayek mereka setiap hari, akan tahu binatang tertentu ada di daerah mana saja. Juga mereka dilengkapi dengan GPS khusus yang bisa menerima masukan, ada binatang apa, berapa ekor di tempat yang bersangkutan di titik sang GPS. Mereka punya tugas istimewa untuk memasuki data-data tersebut.

Denali Park ini memang luar biasa. Kalau Anda cuma bisa pergi ke satu cagar alam di Amrik,

Wonder Lake di pagi hari dari tempat menunggu bis pulang

pilihlah beliau. Ketika kami keluar hari Sabtu 29 Agustus ini berbis-bis turis masuk ke dalam dan isinya penuh-nuh-nuh. Sepanjang jalan raya di sekitar gerbang masuk ke cagar, ada puluhan hotel dan motel plus tentu berbagai souvenir shop maupun resto. Mirip Niagara Falls dengan harga turis. Tetapi sering Kanada maupun Amrik ini, kalau harganya mahal jualannya mutuan. Kami makan siang fish and chip di resto bernama Alaska Fish House, US$ 15 per porsi tapi mutu ikan halibutnya kaga malu-maluin Barrack Obama :-). Tak usah kalah dengan Herbert Fish and Chip di Town of Killarney dimana saya suka nge-guide kustomer JHO untuk makan disitu sehabis camping ke interior.

Di dalam ‘camper bus’ menuju ke Wonder Lake, saya berkenalan dengan salah satu mat kodak yang lensanya sepanjang teropong bintang, bazooka kata Benny. Lensa itu juga khas karena luarnya tidak berwarna hitam seperti ente punya melainkan loreng-loreng, istilahnya

Selamat tinggal Denali Park, till we meet again

di-camouflage. Benny yang ngerti soal fotografi terkini mengatakan bahwa memang itu dibuat pabriknya untuk para ‘outdoor photographer’ disamping mereka juga pakai baju loreng-loreng a la Kopassus cuma bawaannya pestol air doang, ihik ihik :-). Saya tanya apakah ia pro sebab matanya jeli banget. Beruang sekilometer di atas bukit bisa ia kenali. “I am half pro, I am a website designer,” katanya. Rupanya hasil jepretannya ia pakai untuk mencari nafkahnya itu. Katanya lagi, sudah setahun lebih ia keliling Amrik untuk berburu obyek foto. Ia berasal dari Denver, Colorado. Saya lalu tanya, sudah kelilingan Amrik, mana tempat yang paling indah menurut doski. “Banff and Jasper,” katanya. Saya setuju. Kalau Cuma ada satu tempat di Kanada yang ente bisa kunjungi dan mau tahu itulah pilihan anak Amrik yang sudah mengelilingi negerinya, memang pegunungan Rocky di Alberta itu tiada yang bisa mengalahkan kecantikannya.

Hari ini kami pindah ke Eagle River Campground di cagar alam dekat Anchorage bernama Chugach State Park. Letaknya cuma 20-an km di timur laut Anchorage di Alaska Highway 1. Anchorage adalah kota besar terdekat ke Denali Park, cuma 400-an km sehingga akibatnya menjadi entry city untuk ke cagar alam itu. Seperti kita tahu, semua cruise ship yang ke Alaska mestilah ke Anchorage atau lewat kota itu, juga banyak perusahaan penerbangan melakukan

Pasutri kebanggaan mertua mereka ๐Ÿ™‚

stop-over disana. Itu sebabnya pengunjung Denali menjadi berjubelan termasuk para penumpang kapal dengan bis khusus mereka seperti dari Princess Cruise. Di food shelter kami berkenalan dengan seorang nenek bawel dari Anchorage. Entah sudah berapa puluh kali ia ke Denali alias itu tempat satu-satunya ia kemping. Katanya ia gedheg engga demen ke Alaska State Park atau campground yang lain di kampungnya ini. Hal itu terbukti ketika kami sampai di Eagle River. Semuanya serba spartan alias WCnya cuma pakai lobang doang a la interior camping, boro-boro ada shower room. Bagusnya, ongkosnya murmer $ 15 sehari dan mau pasang 10 tenda 100 orang juga dipersilahkan, cocok untuk kita Melayu :-).

Sehabis makan siang di luar Denali Park, ibuk-ibuk silau matanya oleh tanda ‘end of season sale’ dimana-mana sebab memang cagar akan ditutup 17 September dan bubaranlah semua toko dan

Da best perkedel in da world ๐Ÿ™‚

resto disitu. Kesempatan pengarang Anda untuk mulai meneruskan dongengannya sambil menunggu mereka syoping. Itu juga yang terjadi ketika mereka belanja di suatu supermarket menjelang campground. Janjinya cuma beli satu dua macam makanan untuk makan malam dan roti tuk makan pagi sebab di Anchorage so pasti akan banyak supermarket gede, termasuk Asian. Setengah jam kemudian baru mereka keluar. Tapi hasil belanjaannya memang tak mengecewakan sebab selain ada soto ayam menu makan malam kami, juga ada perkedel kreasi kedua chef ‘da best in da world’ :-). Malam akan tetap dingin prens, kita perlu bae-bae-an ama si bini sebab kaga bisa melokin kamera ribuan dollar plus lensa dan tripodnya yang juga ribu-ribuan dollar:-). Sampai kisah berikutnya, bai bai lam lekom. … (bersambung) …

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *