Pengalaman seminggu di Rome/ Vatican selama Pekan Suci dan Triduum Paskah, Maret 2024.


Pengalaman seminggu di Rome/ Vatican selama Pekan Suci dan
Triduum Paskah, Maret 2024.

 

 

 

Pertama, saya mengucap rasa syukur and pujian pada Tuhan Yesus Kristus yang telah
memberi kesempatan, kesehatan dan kemampuan materi untuk saya mampumelakukan ziarah tsb.

 

Untuk mendapatkan tiket masuk misa Minggu Palem, Audiensi dengan Sri Paus, Easter
Vigil dan Minggu Paskah, saya telah mendaftar 6 bulan dimuka melalui situs resmi
Vatican secara on line. Kira2 sebulan sebelum Minggu Palma, mereka membalas email
saya dan memberi instruksi diamana tiket harus diambil dengan menunjukan email
yang telah mereka setujui dengan tertanda cap resmi dari Vatican. Semua tiket didapat
secara gratis, tidak ada pungutan bayaran atau sumbangan.

 

 

 

Tempat ziarah yang saya kunjungin selama sepekan:
 Vatican, St. Peter’s Basilica
 Pantheon
 Basilica of St. Paul
 The Sanctuary of Eucharistic Miracle di Lanciano, Italy
 The Sanctuary of St. Padre Pio di San Giovanni Rotondo, Italy

 

Suatu pengalaman yang telah memperkaya iman saya dan mendalami kasih Yesus
Kristus, bundaNya dan para kudus yang telah sangat mencintai Yesus dalam kehidupan
mereka, menyangkal ego dan keinginan duniawi mereka dengan memanggul salibNya

 

 

 

Seusia saya, 72 tahun, “solo pilgrimage” yang utama saya rasakan adalah rasa cape.
Untuk ikut perayaan misa di Vatican, saya datang jam 6 pagi naik metro, untk Minggu
Palma dan Minggu Paskah, dimana acara dimulai jam 9 pagi. Jam 6 pagi, manusia
sudah antree panjang, berdiri terus, sampe kaki rasa pegal2, dan sakit.

 

“Easter Vigil” mulai jam 7.30 malam, ini didalam St. Peter's Basilica bukan di halaman
terbuka. Saya datang jam 3 sore, antrean umat sudah panjang. Security ketat sekali, 2
x pemeriksaan, semua jaket, tas diperiksa dan lewat monitor seperti di airport.

Untuk dapat tiket misa “Easter Vigil”, karena didalam basilica, lebih sulit, kapasitas lebih
kecil, sekitar 9000 org. Kl di “St.Peter’s Square” kan bisa puluhan/ ratusan ribu. Maka
banyak yangg gak dapat. Beruntung, puji Tuhan, saya dapat tiketnya.

 

 

Untuk audiensi dengan Sri Paus hari Rabu, juga sama, dari jam 6 pagi antrean sudah
panjang sekali, acara mulai jam 9 pagi.

Good Friday, Station of the Cross {Jalan Salib} di Colloseum juga ngantre. Saya sudah
datang jam 3 sore, untuk acara yang dimulai jam 9 malam. Makin malam , makin
banyak umat yang masuk, suasana didalam penuh sekali, gak bisa duduk. Selama
acara saya tidak bisa ikut berlutut, karena bawahnya batu, dengkul bisa sakit. Mereka
muda/ tua banyak yang ikut berlutut pada setiap station.

Saya merasakan ikut menyambut kedatangan Sang Penebus, di Minggu Palma, rasa
haru, dengan penderitaanNya dan kemenanganNya di hari2 Triduum Paskah. Tidak
lupa, saya lakukan kerinduan saya sebagai manusia berdosa dan sebagai umat katolik,
merendahkan hati untuk “confession” dan menerima “sacramen reconciliation”. Rasa
cape, beban seakan diringankan.
Seminggu bener2 cape tetapi saya katakan “worth it” dan tidak kapok.

 

 

Pantheon

Didirikan sebelum penanggalan Masehi (25 – 27 BC). Gedung ini merupakan temple
untuk pagan Roman. Sejak 609 AD, dibangun dari reruntuhan gedung asal, menjadi
Roman Catholic Church {Church of Santa Maria Rotonda atau Santa Maria and
Martyres}. Didalam Pantheon juga terdapat kuburan raja2, dan filosoph2 terkenal Italy.

 

Basilica of St. Paul.

Didalamnya terdapat sacrophag tempat jenazah rasul Paulus yang terpenggal
kepalanya. Berbeda dengan cara hukuman rasul Petrus, sebagai orang Romawi,
kekaisaran Roma tidak menyalibkan rasul Paulus, melainkan memenggal kepalanya.

Lanciano (The Sanctuary of Eucharistic Miracle)
Naik Flixbus dari Roma ke Lanciano, perjalanan 2 jam
Kota kecil yang jarang dikunjungin para ziarah. Saya menginap semalam, hotel deket
dengan gereja, dimana Eucharistic Miracle terjadi di abad ke 8. M.Lukas 22:19: “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan
memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi
kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."
Jelas Alkitab menulis, “Tubuh dan Darah Ku” bukan lambang.

 

Didalam Kisah Para Rasul Lukas menuliskan tentang apa yang dilakukan oleh umat
Gereja Purba kala itu di dalam sebuah ibadah, dan dalam teks bahasa Aram – Peshitta
ditemukan kata ܕ݁ܶܐܘܟ݂ܰܪܺܣܛܺܝܰܐ de'ukharistiya, yang diterjemahan ke dalam bahasa Inggris
menjadi “eucharist” yaitu Ekaristi. Tentu Ekaristi itu yang dimaksud adalah Perjamuan
Kudus, sehingga setiap mereka yang berkumpul untuk beribadah tidaklah lepas dari
Perjamuan Kudus yang menjadi poros atau pusat dalam ibadah pada hari Minggu.

 

Perlu diketahui, Perjamuan Kudus memiliki makna teologis yang begitu dalam dan
bersifat anamnesis. Oleh karena Roh Kudus, kita telah dimanunggalkan menjadi satu
kesatuan dengan Tubuh dan Darah Kristus melalui roti dan anggur yang dipahami
sebagai sarana pada sakramen Perjamuan Kudus supaya kita menjadi satu-tunggal di
dalam Yesus Kristus. Dengan demikian, roti dan anggur secara mysterion adalah Tubuh
dan Darah Kristus sendiri. Pertanyaannya, apakah selama ini kita dengan segenap hati
dan pikiran sudah mempersiapkan diri untuk menyatu dan manunggal dengan-Nya?

 

San Giovani Rotondo (The Sanctuary of St. Padre Pio)
Dari Lanciano naik kereta api dan bus ke San Giovanni Rotondo, sekitar 3 jam
perjalanan.

Saya ikut merayakan misa Kamis Putih didalam gereja kecil berdekatan dengan
Sanctuary Padre Pio.

Semalam saya menginap di hotel deket sanctuary. Hari jumat nya balik ke Roma naik
bus untk mengikuti prosesi Jalan Salib.

Leo Hadiprodjo / IM
15 April 2024

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *