Menyusup Ring Satu – Bagian ke-10B


Al-Gadri pernah bercerita sejak kecil dia diasuh Murdoko, petani di Kediri. Nama Musso lebih baik
menghilang di Kediri karena sejak 1924, sudah menjadi buron Belanda. “Dia cuma tersenyum kalau
ditanya nama aslinya,” ujar Uchi. Menurut Smaun Oetomo dari Lembaga Perjuangan Rehabilitasi
Korban Orde Baru, nama para anggota PKI sudah diincar. “Karena komunis di dunia ingin menghantam
penjajahan, langsung konfrontasi,” ujar bekas Ketua Buruh Kereta Api itu. Ada pula kisah Mariana
Winarni, putri Al-Gadri. Menurut Mariana, ibunya, Samsirah, bercerai dengan ayahnya, karena
belakangan tahu ayahnya keturunan Musso. “Setelah itu, Ibu tak pernah cerita apa pun soal ini, apalagi
soal Kakek (Musso),” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Magetan.

Waktu menikah, dia memakai nama Mohamad al-Gadri, kelahiran Surabaya, 2 April 1926. Tapi, ketika
Al-Gadri ditangkap, lingkungan di Magetan tahu dia keturunan Musso. Samsirah hanya tahu suaminya
tentara bergelar sarjana hukum militer. Latar belakangnya terbongkar ketika diciduk Resimen Para
Komando Angkatan Darat. Dia dituduh memimpin pasukan mengambil alih Radio Republik Indonesia
dalam peristiwa Gerakan 30 September. Al-Gadri menilai operasi itu cuma jebakan untuk menjerat dia.
Ketika datang, sudah banyak senjata terkumpul, tapi dia dituduh yang menaruh. Uchi tak tahu pasti kapan
tentara mengetahui Al-Gadri putra Musso. “Mungkin sebelum 1965, makanya dijebak.” Dia bebas setelah
16 tahun mendekam di penjara Salemba dan Cipinang, lebih singkat daripada vonis Mahkamah Militer
Luar Biasa selama 20 tahun.

Sekeluar dari penjara, Al-Gadri tak pernah bertemu dengan anaknya, Mariana, dan kakak Mariana,
Winarno. Ketika keluar dari penjara, dia ditampung seorang pendeta di rumahnya, di bilangan
Pakubuwono, Kebayoran Baru. Di sana Samsirah menemui Al-Gadri setelah menerima surat Al-Gadri
yang menyatakan dia ingin bertemu istri dan anaknya. Tapi Samsirah datang tanpa putra-putrinya itu.
Dia datang hanya untuk mengakhiri hubungan. Meski karier militernya yang cemerlang jatuh dan dicerai
karena keturunan Musso, Al-Gadri mengaku tak kecewa. “Saya bangga jadi anak Musso,” ujarnya kepada
Uchi.

Al-Gadri akhirnya bertemu dengan Mariana dan Winarno kala dia koma di rumah sakit. “Kami cuma
sempat pegangan tangan dengan Bapak, besoknya Bapak meninggal,” ujar Mariana. Bersama anak dan
cucunya, Mariana kini tinggal di rumah kontrakan seluas 70 meter persegi, tak jauh dari rumah dia dan
ibunya, Samsirah. Sebagai penyambung hidup, Mariana bekerja sebagai penjahit. Kakaknya, Winarno,
meninggal pada 2002. Sambutan kepada tetamu dari Indonesia di rumah Profesor R. Intojo selalu meriah.
Maklum, flat sastrawan Pujangga Baru di Moskow, Rusia, itu jadi rendezvous orang Indonesia. “Karena
kami keluarga nondiplomat, sering banyak yang berkunjung tanpa sungkan.” Para tamu selalu suka
masakan Indonesia buatan ibunya, seperti ayam goreng dan semur daging.

Intojo dikirim Presiden Sukarno pada 1956, sebagai janjinya kepada Uni Soviet mengirim pakar mengajar
bahasa dan sastra Indonesia ke Negeri Beruang Merah. Vidji Utami Intojo, putri sulung sang profesor,
masih ingat perawakan Musman Pavlov dan Sunar Musso yang tinggi dan berkulit cokelat seperti
Musso. “Seperti orang bule sepekan di Asia,” kata eks pengajar bahasa Indonesia di Institut Hubungan
Internasional itu. Mereka sering ke rumahnya yang cuma empat kilometer di Jalan Leninsky Prospekt.
Bangunan flat di jalan ini untuk kalangan kelas menengah ke atas. Luas rata-rata flat sekitar 80 meter
persegi. Intojo memperkenalkan Musman dan Sunar kepada Ami-sapaan Vidji Utami -yang kala itu
masih 11 tahun, sebagai anak Musso, orang yang lama tinggal di Uni Soviet. “Saya tahu Musso dari buku

sejarah Uni Soviet,” kata Ami.

Sunar, anak perempuan Musso dari pernikahan pertamanya di Rusia, lulusan Jurusan Bahasa Indonesia
Institut Ketimuran Moskow. Musman, anak dari pernikahan Musso yang kedua dengan Lydia Pavlova-
Musman memakai nama belakang keluarga ibunya-kala itu berumur 18 tahun, dan mahasiswa baru
Institut Bahasa Asing Moskow. Di Rusia, Sunar menjadi aktivis seperti ayahnya. Dia anggota Gerakan
Buruh Internasional di Moskow. Hingga akhir 1960, meski sakit-sakitan, dia masih aktif di sana. Pada
1970, Sunar meninggal tanpa sempat berkeluarga. Adapun Musman bekerja sebagai penerjemah bahasa
Jerman dan Rusia. Ia meninggal tiga tahun lalu dan meninggalkan seorang putri.

Meski hidup tanpa sorotan publik di Moskow dan sedikit yang kenal mereka sebagai keturunan Musso,
Ami melihat mereka bangga dengan ayahnya. Mereka tahu ayahnya sedikit dari orang Indonesia
yang menjadi petinggi di Uni Soviet. “Waktu kecil mereka tahu banyak tokoh politik seluruh dunia
bergabung dengan Komintern,” ujar lulusan Sejarah Kesenian Universitas Lomonosov, Moskow, itu.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *