MASYARAKAT INDONESIA DI GUAM, AS


Sigit Aris Prasetyo- penulis

Tulisan ini merupakan catatan kecil dalam tugas persiapan transit pesawat Presiden RI di Bandara
Internasional Guam menuju Hawaii dalam pertemuan KTT APEC 2011 di Honolulu, Hawaii.

Sekilas jika melihat peta dunia, nampak bahwa jarak antara Indonesia dan AS dipisahkan oleh Samudera
Pasisik yang membentang luas. Namun jangan salah, jika kita melihat seksama ternyata ada wilayah AS
sangat dekat dengan Indonesia. Wilayah AS tersebut adalah Kepulauan Guam yang merupakan rangkaian
kepulauan Marianas yang terletak di wilayah bagian paling selatan AS. Jika diukur dari teri, Guam hanya
berjarak 1821 km dari Jayapura, Papua dan sekitar 4727 km dari Jakarta. Penduduk asli Guam yaitu suku
Chamorro, yang hingga kini diperkirakan berjumlah sekitar 117.000 berdasarkan sensus tahun 2009.
Dilihat dari sejarahnya, suku Chamorro telah menetap di kepulauan Guam sejak 4000 tahun yang lalu.
Pada tahun 1521, Ferdinand Magellan mendarat di Guam dan menjadikan wilayah tersebut sebagai daerah

Masyarakat Indonesia di Guam

koloni Spanyol. Baru pada tahun 1898, wilayah tersebut diserahkan pada AS menyusul berakhirnya
perang Spanyol-AS.

Dalam perkembangannya, struktur masyarakat Guam merupakan salah satu contoh masayarakat AS
yang bersifat Melting Pot, karena terdiri berbagai etnis dan suku bangsa seperti Chamorro (indigenous),
Filipina, Chinese, Japan, Korea, Micronesia, Vietnam, Indian, Eropa dan tentunya AS. Berdasarkan
sensus penduduk tahun 1990, komposisi penduduk wilayah tersebut terdiri dari Chamorro (43%), Filipina
(23%), Kaukasian (14%), Pacific Islander (5%) dan etnis lainnya (15%).

Ancestors Guam dari Indonesia?

Hal yang menarik untuk diketahui dari Guam adalah adanya beberapa sumber yang menyatakan bahwa
nenek moyang Guam, yaitu suku Chamorro berasal dari Asia Tenggara yang bermigrasi ke kepulauan
Marianas, termasuk Guam pada waktu sekitar 2000 BC. Bisa diasumsikan juga bahwa kemungkinan
nenek moyang suku Chamorro berasal dari salah satu kepulauan Indonesia, walaupun belum ada kajian
sejarah mengenai hal tersebut hingga kini. Bahkan menurut suatu sumber, dipercayai bahwa Guam
untuk pertama kalinya ditemukan oleh para pelaut dari bagian tenggara (Southeastern) Indonesia sekitar
2000 BC yang lalu (Wikipedia). Namun, terlepas dari asumsi tersebut, terdapat hal yang menarik yaitu
persamaan kosakata bahasa Chamorro dengan bahasa Indonesia, yaitu: jalan, manuk (burung), langit,

Konjen RI di Houston bersama Masyarakat Indonesia di depan Spa Bali, Guam

mata, nyamuk, ketupat, karabou dan masih banyak lagi. Kontruksi rumah tradisional juga memiliki
persamaan, yaitu adanya tiang tiang penyangga di setiap sudut rumah penduduk asli Guam.

Masyarakat Indonesia yang tinggal di Guam memang relatif kecil. Berdasarkan catatan kekonsuleran
KJRI Los Angeles tahun 2010, jumlah warga negara Indonesia di wilayah kepulauan tersebut hanya
sekitar 41 warga. Banyak diantara mereka adalah kalangan professional dan beberapa bekerja di Spa yang
banyak ditemukan di Guam. Saat persiapan kegiatan penyambutan transit pesawat Presiden Indonesia
di Guam menuju Hawaii, tim KJRI LA yang terdiri dari bapak Al Busra Basnur (Konjen RI di Houston
yang mewakili Konjen RI di LA yang bertugas di Hawaii dalam petemuan KTT APEC 2011) dan penulis
melakukan pertemuan informal dengan masyarakat Indonesia di Guam. Dari sumber yang diterima
diterima hanya terdapat sekitar 15 keluarga Indonesia dan beberapa warga Indonesia yang bekerja di Spa
di beberapa hotel dan resort di Guam.

Saat ditemuai dalam pertemuan tersebut, Ibu Ellen Mulianingsih, warga Indonesia yang telah menetap
sekitar 13 tahun dan menikah dengan warga AS di Guam menyatakan bahwa warga Indonesia yang
selama ini tinggal di Guam dapat hidup berdampingan dengan masyarakat Chamorro dan masyarakat
pendatang lainnya seperti Filipina, Jepang, Korea dll. Menurutnya, penduduk asli Chamorro akan
menghormati penduduk pendatang jika mereka juga menghormati adat istiadat dan budaya setempat.
Mengenai potensi bisnis, Ibu Ni Luh Putu, salah satu warga Indonesia yang mengeluti bisnis furniture dan
handicraft Bali menyatakan bahwa potensi sektor tersebut sangat terbuka luas. Menurutnya, penduduk
Guam tertarik dan mulai familier dengan produk kerajinan Bali yang dikenal dengan kualitas dan
keindahannya, seperti halnya banyak ditemukan di hotel-hotel Guam yang memajang asesoris produk dari
Bali. Namun menurutnya, potensi tersebut akan semakin terbuka lebar jika ada penerbangan langsung
dari Guam ke Indonesia sebagaimana sebelumnya rute tersebut telah ada namun dihentikan sejak tahun
1998.

Industri Pariwisata Guam berkembang dengan pesat, dan merupakan salah satu sektor unggulan selain

Pacific War Museum di Guam

military expenditure dan kontruksi. Setiap tahunnya, diperkirakan sekitar 1 juta wisatawan yang
mengunjunggi Guam karena eksotik alamnya, wisata sejarah PD II dan wisata belanja duty free shops
yang banyak ditemukan di Guam. Sebagai salah satu saksi sejarah PD II, Guam memilki banyak tempat
bersejarah dan cerita tentang perang akbar tersebut. Salah satu cerita yang masih melegenda hingga
kini yaitu kisah seorang tentara Jepang, Sgt. Shoichi Yokoi yang sembunyi di gua (tunel) yang ia gali
di rimba Guam hingga 28 tahun sejak berakhirnya PD II. Tentara Jepang tersebut baru ditemukan pada
tahun, 1972 di dekat sungai Talofofo oleh pemburu setempat. Tidak begitu lama setelah di bawa pulang
ke Jepang, Yokoi meninggal dunia dengan memendam perasaan bersalah karena pulang dengan kondisi
selamat sedangkan teman-teman seperjuangannya gugur dalam medan pertempuran di Guam. Hingga
kini para wisatawan dapat melihat gua tersebut beserta riwayat ceritanya. Pulau Guam memang memiliki
keunikan sendiri, eksostisme keindahan alamnya, saksi sejarah PD II dan wisata belanja yang layak untuk
dikunjungi.(Penulis adalah Vice Consul KJRI Los Angeles )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

8 thoughts on “MASYARAKAT INDONESIA DI GUAM, AS

  1. manish
    October 16, 2014 at 9:40 pm

    I need vsit to guam. What can I do for visa.

  2. manish
    October 16, 2014 at 9:41 pm

    I need visa.

    1. James
      October 17, 2014 at 6:13 pm

      please ask and info from the Embassy of USA, because Guam under the colony of USA or part of USA

  3. heri
    October 17, 2014 at 7:51 am

    Hello Aris,

    Piye kabare apik yo? salam dari heri kebumen, abayo

  4. Sigit aris
    December 5, 2014 at 8:35 pm

    US visa is needed if US non residence might visit Guam.

    Hi Heri,,apa kbr? Sekarang dimana? Ini email aku, aris_blueocean@yahoo.com. Kabari ya? Thks

  5. Liu muk hin
    August 12, 2017 at 9:56 am

    Gimana cara kita untuk ke guam. Apakah di indonesia ada konsulat atau kantor duta besar buat apply visa ke sana. Trims

  6. deny
    August 12, 2017 at 2:23 pm

    Klu dar kata manuk=ayam.sama dgn bahasa di daerahku pulau flores manggarai ntt indonesia

  7. deny
    August 12, 2017 at 2:25 pm

    Salam buat suku camorro. Semoga sejarah membuktikan asal usul suku ini berasal dari daerahku manggarai flores ntt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *