Jenderal humanis, bersikap negarawan meningkatkan diplomasi hubungan Indonesia – Tiongkok


Jenderal humanis, bersikap negarawan meningkatkan diplomasi hubungan Indonesia – Tiongkok

dilaporkan: Setiawan Liu

Jakarta, 25 Agustus 2021/Indonesia Media – Memasuki daerah Cijantung, tepatnya seputar Markas pasukan elit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD), Kopassus dulunya masyarakat sering menginterpretasikan dengan ‘kandang macan.’ Kawasan Cijantung dengan ‘atmosphere’ Kopassus memang sempat menyeramkan walaupun lingkungan fisiknya sangat asri, hijau dan apik. Sekarang tak ada lagi kesan menyeramkan, bahkan atmosphere ramah dan adem. Pengalaman yang saya alami, pada sekitar tahun 2002/2003, saya bermaksud temu mantan Danjen Kopassus, Letjen TNI (pur.) Kuntara yang baru meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Saya sudah bikin appointment untuk wawancara di rumah dinas almarhum. Hasil wawancara juga untuk sekapur sirih buku rekan saya, Sunardi Mulia. Saat itu, beliau mengutarakan pemikiran mengenai demokrasi, kebangsaan, keadilan sosial, hak azasi manusia, kenegarawanan. Sosok almarhum yang humanis semakin menghilangkan kesan Cijantung sebagai ‘kandang macan’. Wawancara berlangsung dengan suasana rileks dan hampir tidak ada kesan angker dari penampilan almarhum.

Letnan Jenderal TNI (Purn) Kuntara meninggal dunia di usia 82 tahun. Beliau satu-satunya duta besar Indonesia (1999 – 2001) untuk Tiongkok yang bisa berbahasa mandarin dengan baik. “Beliau bukan hanya berbahasa mandarin, tapi juga bisa menulis dengan baik. Mungkin, (kemampuan berbahasa mandarin) berdampak pada semakin eratnya hubungan  Indonesia – Tiongkok,” kata Sunardi Mulia, wartawan senior dan penerbit berbagai buku Bahasa mandarin. Saat menjabat, hubungan kedua negara baik-baik, bahkan meningkatkan kerjasama ekonomi. Kemampuan mandarin sebagai nilai plus kepemimpinan beliau untuk berdiplomasi people to people.  “Beliau bisa bahas langsung dengan pejabat di Tiongkok, dan bisa lebih dekat dengan masyarakatnya. Beliau memahami budaya orang Tiongkok karena dengan bisa berkomunikasi langsung,” kata Sunardi Mulia.

Sekembali dari Tiongkok, almarhum Kuntara dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia dan Tiongkok (LIT). Juniornya, Sudrajat (purnawirawan perwira tinggi TNI-AD) yang juga menjabat duta besar Indonesia untuk Tiongkok (2005 – 2009) juga aktif pada LIT. Almarhum Sukamdani Sahid Gitosardjono (pengusaha Sahid Group) yang lebih dulu membantu LIT. “tiga sosok yang aktif pada LIT sehingga bilateral Indonesia – Tiongkok semakin meningkat,” kata Sunardi Mulia.

Almarhum Kuntara, sejak kecil di Cirebon dan masuk sekolah Tionghoa. Dari situ, ia memahami bahasa mandarin. “Beliau ramah dan mau membantu siapa saja. Untuk kata sambutan pada Buku saya, (proses pengerjaan) nggak sulit karena jiwanya memang selalu mau membantu orang lain,”  kata Sunardi Mulia.

Letjen Kuntara, meninggal di RSPAD menghembuskan nafas terakhir. sebelumnya, almarhum disemayamkan di Balai Mako Kopassus Cijantung. Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad), Danjen Kopassus juga sangat dihormati juniornya, Jenderal (pur) Agum Gumelar dan Mayjen TNI (pur). Daniel Tjen. Keduanya sempat besuk almarhum di RSPAD. Sosok beliau, dimata Agum Gumelar, sebagai senior, pendahulu sebagai Danjen (komandan jenderal) Kopassus. Beliau punya kemampuan intelijen yang sangat kuat, Sandhi Yudha (satuan Kopassus yang memiliki spesifikasi tugas perang rahasia ‘Clandestine Operation’ selain kemampuan dalam intelijen tempur. “Sandhi Yudhanya sangat kuat. Saya banyak belajar dari beliau, mengasah kemampuan Sandhi Yudha. beliau, seorang jenderal yang sederhana sehingga dipercaya pada beberapa jabatan,” kata Agum Gumelar. (sl/IM)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *