Seminggu Setelah Gempa Dan Tsunami


Karakuwa, Jepang — Keadaan sangat menyedihkan dikota yang dihantam gempa dan tsunami ini : tidak ada air, listrik dan jaringan komunikasi, namun disebuah sekolah yang dijadikan penampungan nampak warga yang mengungsi sedang menikmati hidangan panas yang dimasak bersama yang berasal dari bantuan yang baru tiba. Para pelajar sibuk menimba air dari kolam renang sekolah untuk penggunaan bersama. Didapur, kepulan nasi keluar dari sebuah penanak raksasa yang disumbangkan seorang warga.

“Selama puluhan tahun, persaudaraan dikota kami sudah terbina dengan baik, jika anda sedang dalam kesulitan, warga akan datang membantu”, ujar Noriko Sasaki (63), salah seorang pengungsi. “Kebersamaan merupakan kebudayaan kami, walaupun kami tidak bersaudara, kami menganggap warga lainnya sebagai saudara”.

Salju yang turun, langkanya bahan bakar dan transportasi yang lumpuh telah menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan pada 450,000 korban bencana diberbagai penampungan.

Lebih dari 10,000 warga dinyatakan tewas akibat gempa dan tsunami dan 10,700 lainnya hilang. Bencana alam ini juga telah merusak pembangkit listrik tenaga nuklir yang berlokasi dipinggiran pantai dan hingga saat ini para pekerja masih berupaya keras mencegah radiasi. Dikota Shizugawa yang rata dengan tanah, Koji Sato, seorang tukang kayu yang biasa membangun rumah, sibuk membuat peti mati. Sato mengatakan bahwa dirinya tidak memikirkan lagi kesulitan yang telah menimpa diri dan keluarganya saat ini. “Saya hanya menyibukkan diri saya membuat peti mati”, ujarnya.

Di Hirota, pesawat heli telah mengirimkan bantuan makanan tetapi tidak mencukupi untuk seluruh warga. Para pengungsi mendapat mie instan, buah-buahan dan roti. Air bersih diperoleh dari sumur dan sungai. Perusahaan dan warga yang tidak menjadi korban bencana menyumbangkan alas tidur dan selimut. Kouetsu Sasaki (60), seorang pegawai kotapraja mengatakan bahwa  para pengungsi membutuhkan bahan bakar, sayuran, kaos kaki, pakaian dalam, cairan anti bakteri dan obat-obatan. “Para pengungsi tidak marah ataupun kecewa, namun merupakan sebuah tanda tanya berapa lama lagi kita semua akan dapat bertahan seperti ini”, lanjut Sasaki. Yang saya lakukan adalah mengerjakan apa yang dapat saya lakukan hari ini, saya tidak lagi memikirkan hari esok”.

Dengan telah mulai dipulihkannya jalan-jalan dan landasan pesawat, para pekerja kemanusiaan berharap akan dapat mengirimkan bantuan yang dibutuhkan pengungsi lebih cepat. Pesawat heli yang berpangkalan  dikapal milik angkatan laut Amerika Serikat diteluk Jepang telah mulai membantu mengirimkan makanan berupa kacang-kacangan dan susu bubuk. Namun turunnya salju dan kekhawatiran akan terkena dampak radiasi nuklir telah menghambat penerbangan heli. “Keadaan ini sangat mengecewakan” ujar seorang anggota angkatan laut Amerika Serikat, Jeff Pearson (25) asal Texas. “Tapi kami tetap melakukan yang kami dapat lakukan untuk membantu mereka, saya yakin tidak lama lagi cuaca akan membaik dan kami dapat lebih cepat menyalurkan bantuan”.

Disebuah sekolah dikota Karakuwa, Emi Yoshida (43) nampak sedang membaca buku. Masih mengenakan pakaian yang sama yang dikenakan dihari tsunami menghantam, Yoshida belum mandi selama seminggu namun masih bersyukur atas seluruh bantuan yang diberikan untuk dirinya dan dua putranya. Tidak jauh dari Yoshida, duduk Yoko Komatsu (62) dan ayah mertuanya Tetsuo Komatsu (88) disebuah tempat duduk menghadap jendela yang ditembus cahaya matahari. Satu-satunya hal yang mengecewakan Yoko adalah para relawan kemanusiaan belum dapat memenuhi keinginannya berkomunikasi dengan dunia luar. Yoko ingin tahu jika saudara-saudaranya yang tinggal dikota lain masih hidup. “Saya ingin menengok dan mengetahui keadaan mereka”, ujarnya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *