IAI Sambut Baik Kemungkinan Kolaborasi dengan CMRA


IAI Sambut Baik Kemungkinan Kolaborasi dengan CMRA

 dilaporkan: Setiawan Liu

Jakarta, 8 September 2023/Indonesia Media – Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), pada pertemuan dengan China Construction Materials Rental Contractor Association (CMRA) menyambut baik kemungkinan kolaborasi, pertukaran pengetahuan serta upaya mempererat antara jaringan profesional arsitek. Ke depannya, peran arsitek akan menentukan pemanfaatan hasil perancangan kepada masyarakat pengguna, industry konstruksi. Teknologi konstruksi yang digunakan dalam berbagai pembangunan termasuk IKN (Ibu Kota Negara, di wilayah Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur) akan mengadopsi teknologi- teknologi termutakhir dan ramah lingkungan. “Dalam satu dekade ke depan, Indonesia akan banyak berfokus pada pembangunan IKN maupun beberapa destinasi wisata prioritas,” Wakil Sekjen IAI Firman Herwanto mengatakan kepada Redaksi.

Pemerintah saat ini mendorong pembangunan-pembangunan strategis tersebut dilaksanakan dengan cepat namun tetap mengutamakan sustainability (keberlanjutan). Terutama dalam konteks pembangunan IKN, Indonesia hanya memiliki satu kesempatan untuk memindahkan dan membangun kembali Ibukota. Oleh karena itu, diharapkan bahwa teknologi konstruksi yang digunakan dalam pembangunan di IKN akan mengadopsi teknologi- teknologi termutakhir dan ramah lingkungan. “Di Asia, China terkenal dengan teknologi konstruksi yang cepat. Jika CMRA memiliki memiliki produk-produk teknologi rancang bangun termutakhir yang dapat mendukung pembangunan yang cepat, zero waste dan sustainable, IAI terbuka untuk mengundang CMRA menampilkan teknologi-teknologi tersebut pada Festival Arsitektur terbesar di Indonesia yaitu ARCH-ID yang akan digelar kembali di ICE BSD pada 22-25 Februari 2024,” kata Firman Herwanto.

Di tempat yang sama, Ketua Badan Media, Publikasi dan Kemitraan IAI, Theresia Purnomo berbicara tentang skala pembangunan, sebagaimana yang juga dipaparkan oleh PT Citra Inovasi Strategi (CIS) sebagai mitra penyelenggara ARCH-ID tahun depan. Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia pada tahun 2023, mencapai 2777,7 juta jiwa. Pada tahun 2050, Indonesia diperkirakan akan menjadi negara dengan GDP terbesar ke-4, sehingga akan memiliki dampak signifikan pada ekonomi dunia. “Indonesia masih merupakan negara berkembang, dimana pertumbuhan di segala sektor masih jauh dari titik jenuh. Dari seluruh sektor penyumbang GDP, sektor konstruksi sendiri berkontribusi pada GDP Indonesia pada peringkat ke-4,” kata Theresia Purnomo

Di Indonesia terdapat perusahaan-perusahaan kontraktor besar, baik swasta maupun BUMN. Teknologi konstruksi yang digunakan saat ini sudah cukup baik, namun masih ada potensi untuk peningkatan lebih lanjut. Peralatan dan teknologi yang digunakan (termasuk scaffolding, formwork, dll) tidak hanya dimiliki oleh perusahaan itu sendiri. “Namun ada beberapa yang disewa dari vendor-vendor lokal maupun internasional,” kata Theresia Purnomo.

Teknologi konstruksi yang dibutuhkan di Indonesia sebagian besar masih berkaitan dengan infrastruktur seperti jalan, jembatan, terowongan, dll, karena Indonesia masih perlu pemerataan ekonomi dari Timur hingga Barat. Berbeda dengan China yang merupakan daratan yang luas, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau, sehingga termasuk negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada. “70 persen wilayah Indonesia adalah lautan, sehingga teknologi yang dibutuhkan tidak hanya yang berkaitan dengan infrastruktur darat saja, namun juga infrastruktur kelautan,” kata Theresia Purnomo.

IAI menyadari kecepatan China dalam melakukan konstruksi, bahkan hambatan musim tidak mempengaruhi proses pembangunan. Kami berharap dalam waktu dekat Indonesia juga bisa membangun dengan lebih cepat namun tetap bertanggung jawab. Sebagai negara tropis dengan wilayah hutannya yang penting bagi ekosistem global, pembangunan di Indonesia harus beriringan dengan tanggung jawab terhadap masalah lingkungan.

Di balik semua itu, tantangan terbesar yang dimiliki Indonesia adalah letak geografisnya yang berada di Cincin Api Pasifik. Hal ini menyebabkan Indonesia rawan bencana termasuk banjir, tsunami, gempa bumi, letusan gunung api, longsor, dll. Oleh karena itu, selain memerlukan teknologi-teknologi mutakhir yang berkelanjutan, Indonesia juga memerlukan teknologi untuk mitigasi bencana. “Sebagai sesama warga dunia, kami mengundang teman-teman dari China untuk ikut serta menjaga dunia dengan mengambangkan teknologi-teknologi konstruksi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Teknologi-teknologi ini yang kami nantikan dapat dipamerkan pada perhelatan akbar Arsitektur Indonesia ARCH-ID,” kata Theresia Purnomo. (sl/IM)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *