Sapta Ronggo, dulu dan sekarang (bagian I)
dilaporkan: Setiawan Liu

Era tahun 1980 an, Sapta Ronggo selalu dipadati pengunjung terutama pada hari Kamis. Bahkan mobil yang parkir meluber sampai keluar jalan Petojo VIJ III. Selain para pedagang kembang untuk sesajian ini antara lain kembang melati, mawar, kenanga, kantil atau cempaka dan lainnya kelimpahan rezeki. “Almarhum sangat baik, walaupun dia dapat duit dari jasa persembahyangan orang meninggal, tapi langsung dibagi-bagikan kepada pegawai, anak asuh atau warga yang butuh. Karena keluarga yang meninggal merasa berterima-kasih dan berdana uang dalam jumlah besar untuk Suhu. Nilainya bisa sampai Rp 1 juta. Tahun 1980 – 1990 an, nilai tersebut kan sangat tinggi,” kata ibu Ujang.
Kilas balik, waktu Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau G30S/PKI meletus, ibu Ujang menyusul suaminya yang sudah lebih dulu bekerja sebagai tukang masak di Sapta Ronggo. Ia merasakan sulitnya menempuh perjalanan dari Sumedang, Jawa Barat ke Jakarta. “Saya datang ke Petojo VIJ, itu pun susah masuk Jakarta. Karena setiap orang harus mempunyai surat jalan, diperiksa petugas. Sama seperti sekarang, setiap orang bepergian naik kereta, pesawat harus membawa surat vaksin (covid 19),” kata perempuan kelahiran 73 tahun yang lalu.
Waktu itu, ia masih berumur 18 tahun dan baru saja menikah dengan suaminya di Sumedang. Suaminya sudah lebih dulu bekerja di Sapta Ronggo, setelah diajak Suhu Acong. Pertemuan suaminya dengan Suhu Acong berlangsung sebelum Sapta Ronggo dikenal orang dari berbagai pelosok, termasuk luar kota seperti Bogor, Bandung. Waktu itu, Suhu Acong masih disapa ‘Babah’ oleh warga sekitar daerah Petojo Jakarta Pusat. “Babah masih mengenakan kain sarung sehari-harinya, temu suami saya di sebuah warung di Petojo. Ibaratnya, Babah belum menjadi ‘Suhu’ (Acong). Lalu (Sapta Ronggo) baru mulai dikenal juga karena ada Eyang Djoego Gunung Kawi. Sapta Ronggo dibuka, dan banyak dikunjungi. Babah juga memungut tiga orang anak dari keluarga kurang mampu. Bahkan salah satunya kuliah fakultas kedokteran umum Trisakti (Jl. Kyai Tapa Grogol) sampai sekarang sudah praktik dokter di Bogor,” kata ibu Ujang.
Setelah lebih dari setengah abad berdiri, kondisi Sapta Ronggo sekarang sudah sepi. Karena pengunjung, termasuk umat Buddha yang dulu sering bersembahyang sudah banyak yang meninggal dunia. Sekarang, pengunjungnya yang muda-muda saja, berusia di bawah 50 tahun. Mereka biasanya bersembahyang pada hari Kamis, siang ataupun sore hari. “Setelah suhu meninggal tahun 1991, (suasana Sapta Ronggo) masih ramai dikunjungi. Tapi ketika kerusuhan rasialis Mei 1998, Sapta Ronggo drastis menjadi sangat sepi,” kata ibu Ujang.
Rentang waktu 1991 – 1998, Sapta Ronggo dikendalikan oleh anak-anak angkat Suhu Acong. Tapi banyak pengunjung yang kurang merasa nyaman lagi untuk persembahyangan. Bahkan beberapa warga sempat mengaku bahwa sepeninggalan Suhu Acong, pengurus cenderung ‘berebutan’ dana uang sumbangan umat. Walaupun Suhu sudah meninggal, tapi umat masih datang untuk bikin (acara) selamatan tahun 1991 – 1998. Tapi kondisi seputar Roxy, banyak jalan yang ditutup. “Roxy Mas kan selalu ramai, sehingga pengaturan lalu lintas dengan penutupan (simpul) jalan yang sering bikin macet. Arah dari Grogol, pengunjung harus muter jalan jauh sampai ke Jalan Cideng. Arah dari (jalan) Jembatan Lima, perempatan jalan yang dulunya ada gedung Bioskop Roxy juga sudah ditutup karena dilintasi jalur busway,” kenang ibu Ujang. (sl/IM)














