Tanah Pengasingan Bagian ke-18B -Sirima, Biduan Yang…


Sobron Aidit-Penulis

Pada hari lain, ketika aku sendirian dan Maya tak ikut, aku mencari Sirima

sampai Gare de L*Est, stasiun yang keretanya menuju ke Timur seperti ke

Jerman dan lain-lain. Ternyata mereka berdua ada di sana. Dan aku langsung

memeluk Sirima dan mencium pipinya, yang ketika itu sedang istirahat

sedangkan Mouk memainkan gitarnya.

“Mana Maya”, katanya.

“Dia tidak ikut, ada keperluan lain”.

“Siapa sih sebenarnya dia itu?”

“Kan dulu sudah kukatakan, dia keluargaku. Dia memanggilku kakek”.

“Kok nggak mirip keluarga, sangat lain rupanya”.

“Ya, bukannya keluarga langsung”.

“Nah, itu sudah kusangka”, katanya.

“Lain kali kau cerita yang panjang ya, aku mau dengar”, katanya lagi.

Dan aku menanyakan keadaan kehidupan mereka berdua Mouk, bagaimana, dan apa

rencana selanjutnya. Tampaknya mereka memang hidup-bersama, kumpul-kebo.

Sampai ke masalah ini, lalu agak

lama Sirima diam. Dan tampak airmukanya redup dan melihat ke kejauhan.

Tampak matanya agak merah, dan ada butiran berkilat bagaikan permata,

airmatanya akan segera menggenang. Cepat-cepat dia menghapusnya dengan

saputangan. Dan tiba-tiba saja dia menjatuhkan kepalanya ke dadaku. Pelan

sekali dia mengatakan:

“Tak tahu jadinya bagaimana kehidupanku ini di bawah kekuasaan Mouk ini.

Dia sangat pencemburu, dan aku terlalu banyak tidak boleh ini, tidak boleh

itu”, katanya sambil sedikit terisak. Sebenarnya aku sudah sangat kuatir,

sebab bagaimana sekiranya Mouk melihat kejadian ini, untung saja lagu yang

dia mainkan tidak akan segera berhenti karena sudah habis. Dan kami masih

sempat sedikit ngobrol dengan Mouk, sedangkan airmata dan wajah Sirima

sudah tidak sekusut tadi lagi. Dan ketika aku minta diri buat pulang,

Sirima bagaikan tidak begitu rela :

“Kau tidak sama-sama kami pulangnya? Okey lah, salam hangat kepada Maya

yang katamu itu cucu kamu itu ya”, kata Rima sambil masih sempat mencubitku

di tangan ketika salaman.

Sudah itu lama kami tak bertemu. Aku mencari Sirima dan Mouk ke mana-mana

dan tak ketemu. Kutanyakan kepada temannya yang kira-kira kenal mereka,

tetapi itupun tidak berhasil. Banyak sekali

orang-orang penggemar suara Sirima yang juga mencari Sirima, ke mana dan di

mana mereka?! Dan aku sangat ngotot mencari Sirima dan Mouk. Terasa aku

sangat merindukan Sirima dan juga barangkali Mouk. Kutanyakan ke mana-mana,

bahkan kucari temannya yang sama-sama orang Laos juga. Bahkan kenapa aku

sudah begitu gila, kutanyakan kepada polisi di situ yang berpos di Chatelet

Les Halles. Dan betapa aku kaget dan shock-nya mendengar penjelasan bagian

kepolisian, setelah mereka menanyakan siapa indentitasku, bahwa Sirima mati

terbunuh oleh Mouk sendiri! Dan Mouk ada di penjara, karena

dengan sukarela menyerahkan diri kepada polisi. Terasa badanku lemas, dan

berkeringat dingin sekurjur tubuh. Sudah tak tentu rasa, dan puyeng.

Kuusahakan agar bisa menguasai diri. Dan sesampainya di rumah, aku minum

air-dingin dan menenangkan diri. Inikah akhirnya perkenalanku dengan Sirima

dan Mouk? Perkenalan yang bagaikan tadinya sebagai kecambah yang mau

tumbuh, tetapi tiba-tiba layu dan

mati oleh angin-sakal atau racun-berbisa. Tak dapat aku mengerti bagaimana

maka terjadi hal-hal demi-

kian. Sudah tercium memang bahwa Mouk itu sangat pencemburu, dan suka mukul

Sirima, tetapi akan terjadi pembunuhan, samasekali di luar perhitungan

akal-sehat. Namun tetap saja terjadi. Tadinya ada maksudku mau mengunjungi

Mouk di penjara, tetapi setelah dipikir-pikir panjang, baiklah ditunggu

saja,

kapan ada waktu yang baik, atau tunggu sampai dia keluar penjara. Tetapi

berapa lama, berapa tahun la-

gi? Pembunuhan hukumannya bisa puluhan tahun, atau bisa seumur-hidup,

tergantung perkaranya bagai-

mana.

Dan sukurlah, Mouk “hanya” dihukum tujuh tahun. Dia berkelakuan baik,

samasekali tidak mempersukar pengadilan dan selama di penjara kelakuannya

terpuji sangat. Pengampunan ini semoga saja menjadi pelajaran yang sangat

mencengkam dirinya sepanjang hidupnya. Dan betapa akan halnya Sirima,

biduan yang sebenarnya haridepannya sangat gemilang, sayangnya nasib saja

yang cukup buruk. Suaranya yang begitu bagus, merdu, dan orangnya yang

selalu tersenyum ramah, dan kalau dengan rambut ekor-kuda seperti pernah

kulihat ketika kami saling janji itu, betapa cantiknya dan sportifnya dia.

Dan sangat lama Maya yang dari Jakarta menilpunku menanyakan keadaan

Sirima, tidak percaya akan ceritaku. Dia me-

ngucap berkali-kali kata Innalillahi waillahiroi jiun dan kagetnya bukan

main. Lama sekali aku meyakinkan

Maya, bahwa memang Sirima dibunuh oleh temannya sendiri, Mouk.

Dan inilah keanehan dunia, aku masih sempat bertemu Mouk, dan kami ngobrol

lagi di tempat yang dulu mereka saling kerjasama dalam “pengamenannya”.

Semula dia sangat sedih bertemu denganku, sebab biasanya dulu itu kalau

kami bertemu selalu bertiga dengan Sirima, kini hanya berdua saja. Dan Mouk

tetap masih main musik gitar-listrik dan tetap menyanyi sebagaimana sebelum

kenal dengan Sirima dulu itu. Begitu setiap kali aku mendengar

gitar-listrik Mouk, langsung saja aku teringat Sirima yang sebenarnya dia

sudah dengan pelan-pelan masuk ruang relung hatiku yang sangat jauh dan

dalam.-

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *