Metamorfosis Dharma Sukha Pluit, Dari Rumah Kecil sampai Bangunan 4 Lantai
dilaporkan: Setiawan Liu

Tidak lama kemudian, Siwie Honoris beberapa pengurus sepakat untuk membangun Wihara atau tempat peribadatan yang lebih besar daripada cetiya. Proses pembangunan selesai pada tahun 2007, dan umatnya bisa lebih nyaman melaksanakan puja bakti. Selain, pengurus sepakat untuk menyediakan bangku duduk umat selama mengadakan puja bakti. Sebagaimana, Wihara dan Cetiya pada umumnya menerapkan ‘tradisi’ duduk di atas lantai beralas untuk umat selama menjalankan puja bakti. “Alasan praktis saja, (yakni) kenyamanan untuk umat selama berpuja-bakti. Umat kami dulu banyak yang sudah manula. Orang-orang tua, kalau disuruh duduk di lantai dengan kedua kaki terlipat, (kondisinya) tidak kuat. Sehingga suasana puja bakti dibuat dengan duduk (di atas bangku), itu awal pertimbangan. Sekarang, kan anak-anak muda duduk di lantai juga tidak semuanya kuat. Kalau belum terbiasa, tidak kuat lama (duduk bersila),” kata Mediarto.
Pengurus berpikir perlu melayani umat lebih baik. Walaupun awalnya, ada yang kontra dengan pengubahan tradisi puja bakti, tapi setelah itu semua orang menerima. Para Bhiku (rohaniawan agama Buddha) juga tidak mempermasalahkan, sebaliknya mendukung. Dari tahun ke tahun, pengurus terus meningkatkan kualitas layanan terhadap umat termasuk kegiatan di dalam dan luar DS. Kegiatan utamanya, selain perayaan dan peringatan empat hari besar agama Buddha, ada juga baksos, tim anjangsana, sekolah minggu, remaja dan lain sebagainya. “Tapi mengenai urgensi untuk mengundang penceramah dari luar negeri, tergantung apa keperluannya. Kalau acara besar seperti (hari raya) Kathina, kami mengundang Bhikkhu dari Thailand, Myanmar, Sri Lanka, Australia. Umat DS tidak banyak yang mengerti bahasa mandarin sehingga pengurus memilih mengundang Bhiku Sri Lanka. Selain mereka menggunakan bahasa Inggris yang pada umumnya lebih dimengerti. Tapi kami kan non-sekte,” kata mantan ketua pengurus Vidi Vidi Vici Volleyball.

Sejak dipercaya untuk menjadi ketua pengurus DS pada tahun 1994, pada periode kedua, hal ini dirasa bukan pekerjaan yang mudah. Tetapi ia berkeyakinan, kalau belajar Agama apapun termasuk Agama Buddha, pasti memberi manfaat. Ia menjadi pengurus dengan menerapkan disiplin, etika berorganisasi. Hal-hal yang dianggap bertentangan dengan ajaran Buddha, termasuk sikap urakan atau mau menang sendiri, direduksi sampai nol. Upaya mendisiplinkan para pengurus butuh kesabaran karena hal tersebut merupakan bagian dari praktik ajaran Buddha. “Saya disiplin, tegas. Pimpinan harus bisa membawa ‘warna’ Wihara. Saya ceplas-ceplos, terbuka, dan saya meminta pengurus DS bisa bicara apa adanya. Kalau rapat, sejak dari pertama (menjadi ketua DS), mengalami hal yang tidak menyenangkan, lalu saya benahi. Misalkan 8 dari 10 orang peserta rapat sudah setuju. Usai rapat, kami keluar harus satu suara. Jangan ada yang mengeluh dan protes di luar. Karena kalau tidak mau sepakat, harus dibicarakan langsung pada sesi rapat,” tegas Mediarto.
Hal lain yang sering menjadi pro – kontra, yakni status dan agama pekerja DS. Ada beberapa pekerja yang bukan beragama Buddha. Hal ini sudah sangat dipertimbangkan mengingat ada juga beberapa pekerja beragama Buddha tapi tidak disiplin. “Kami memutuskan, kombinasi (status pekerja) Buddhis dan non-Buddhis, terutama umat Islam. Karena dari pengalaman, tidak semua pekerja beragama Buddha bekerja dengan rapi, tekun. Sebaliknya, yang Muslim bisa kerja lebih baik. Sehingga kami mengombinasi, sampai akhirnya terseleksi (pekerja) yang bisa kerja dengan baik,” kata Mediarto. (sl/IM)














