Kisah Korban Cuci Otak NII


Selain narkoba, ada satu musuh mahasiswa yang sangat berbahaya yaitu pengaruh ajaran kelompok Negara Islam Indonesia (NII). Setidaknya, ini berdasarkan pengakuan mantan pengikut NII yang juga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Tikno.

Aktivis Jaringan Aksi Mahasiswa dan Pemuda Surabaya (JAMPS) ini mengaku pernah masuk perangkap kelompok pendukung Negara Islam Indonesia (NII) saat berkenalan dengan seniornya di kampus bernama Joko.

Joko, kata Tikno, sering menemuinya, kemudian berlanjut dengan diskusi soal keimanan di lingkungan kampus, terutama di perpustakaan. “Dan, itu selalu terjadi malam hari,” kata dia dalam perbincangan dengan wartawan, Selasa 26 April 2011.

Sekitar empat bulan, rutinitas pertemuan pun mengerucut pada tujuan ‘Dukung Gerakan Berdirinya NII’. Untuk menyamarkan sebutan NII, komunitas mahasiswa Tikno di era itu menyebut dengan kode N11 (N sebelas) untuk NII. “Itu cara kami menyebut NII.”

Saat itu, Joko dengan terang-terangan mengatakan semua pemimpin di negeri ini adalah kafir dan pendirian NII adalah bagian penting perjuangan untuk menuju kesempurnaan. “Di negeri kafir semua tindakan dihalalkan, termasuk merampas, merampok, bahkan membunuh untuk kepentingan NII.”

Persis yang dialami korban NII lainnya, doktrin ini dijejalkan kepada Tikno dan teman-teman lain yang mengikuti jalan itu. “Kepada saya, Joko mengatakan tidak ada gunanya beribadah. Karena NKRI yang saya tinggali masih kotor dan dihuni orang-orang kafir. Sambil menyitir kisah Nabi Muhammad SAW, yang harus melakukan hijrah untuk menyempurnakan keimanan. Itu harus saya lakukan, bergabung mewujudkan NII, dan harus mengikuti baiat untuk pengambilan sumpah.”

Tidak tanggung-tanggung, lanjut Tikno, Joko ketika itu telah membawahi sedikitnya 25 mahasiswa yang telah sepakat mewujudkan NII. “Sejak itu, pertemuan intens kami lakukan, seminggu tiga kali,” lanjutnya.

Tikno mengaku tidak bisa menghindar dari seniornya itu. Meski rumah kosnya jauh, Joko kerap menjemput dan mengajak ke tempat diskusi. “Tidak selalu ada kendaraan, dan kami kerap berjalan kaki menuju tempat diskusi,” lanjutnya.

Di lokasi tersebut, materi yang dijejalkan terkait keimanan termasuk motivasi jihad untuk menggapai surga. Akibatnya, Tikno mengaku sempat bingung dengan terpecahnya konsentrasi. Kuliah mahasiswa angkatan 1998 ini sempat kocar-kacir sampai cuti satu semester. “Dan kerap ditegur dosen.”

Meski mengaku sempat goyah karena gigihnya serangan gerilya NII, Tikno kemudian menemui senior lainnya di organisasi binaan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), yakni di JAMPS.

Namun, ia pun sempat kaget ternyata sejumlah kakak kelas di JAMPS menyarankan dan mendukung dirinya untuk terus berselancar di NII. “Ikuti terus, seberapa jauh upaya mereka [NII] merekrut kamu,” kisah Tikno menirukan ucapan sang senior.

Selain masalah keimanan, Tikno dan mahasiswa lainnya pun diminta mengumpulkan biaya untuk keperluan perjuangan, berupa infak amal ke kas NII. “Ada infak harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Katanya semua dosa harus ditebus dengan membayar sejumlah uang,” tambahnya.

Genap empat bulan, Tikno yang mengaku tidak betah akhirnya menantang. “Anda jangan desak saya lagi, saya telah keluar dari agama saya. Dan, saya tidak akan terpengaruh dengan ajakan anda. Saya telah pindah agama,” katanya menyiasati.

Sejak itu, Tikno pun pindah dari satu kamar kos ke lokasi kos lainnya. Puncaknya, ia menetap di sekretariat JAMPS tempatnya berorganisasi. Di lokasi itu ia merasa aman, karena pengikut NII itu tidak lagi berani mengejarnya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *