Explore Kepri, Aroma Tanah Melayu 2.400 Pulau
dilaporkan: Setiawan Liu

Mobilitas warga khususnya di beberapa kota besar dan antar pulau di Kepri masih sangat mengandalkan speed. Bahkan beberapa pebisnis sering menggunakan speed boat pribadi untuk bolak-balik antar kota dan antar pulau. Perjalanan sekitar satu jam, terutama bagi wisatawan yang baru pertama kali bepergian dengan speed terasa sangat singkat. Karena penumpang bisa melihat keindahan laut dan sekali-kali terlihat pulau kecil. Karena Kepri memiliki sekitar 2.400 pulau, (jumlahnya) jauh di atas Papua Barat yakni 1.945 dan Maluku Utara (1.474 pulau). Ketika speed sampai di pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang, semakin terasa ‘aroma’ tanah melayu. Sebagaimana kebudayaan Melayu tumbuh dan berkembang serta turun temurun dilakukan masyarakat. Menapaki anak tangga speed dan menelusuri jembatan menuju pintu keluar pelabuhan, saya melihat para pedagang makanan khas Tanjungpinang, yakni otak-otak ikan, sotong. Mereka menggunakan gerobak menawarkan kepada setiap penumpang yang keluar/masuk pelabuhan. Pada umumnya pedagang merasakan dampak pandemic covid terhadap usaha mereka, terutama jelang Lebaran. “Biasanya, kalau jelang lebaran, saya bisa dapat Rp 200 – 300 ribu per hari. Tapi sejak tahun lalu, Lebaran sepi dan nggak dapat duit,” kata salah seorang pedagang otak-otak di pelabuhan, Yeti.
Ia berasal dari Padang, Sumatera Barat dan merantau ke Tanjungpinang sejak 10 tahun yang lalu. Selama berdagang, bahan baku ikan juga tidak selalu tersedia. Ada musim-musim paceklik pasokan ikan tenggiri, cakalang untuk bahan baku otak-otak. Satu otak-otak dijual dengan harga Rp 5.000, dan satu kantong Rp 35.000. “Sejak virus corona, kami berdagang ibaratnya hanya sekedar mengisi waktu. Selama 10 tahun dagang otak-otak, saya hanya jualan dan tidak bikin. Ada orang yang bikin dan menitip pada beberapa pedagang,” kata Yeti.

Kondisi pandemic sejak Maret 2020 berdampak juga pada kegiatan pariwisata Kepri, terutama Batam dan Tanjungpinang. Beberapa hotel mengalami penurunan tingkat hunian. Pada kondisi normal, tamu-tamu asal Singapura dan Malaysia rutin berwisata dan menginap di berbagai hotel di Tanjungpinang, Batam, Bintan. Sehingga beberapa karyawan hotel juga sudah akrab dengan dialek hokkian khas Tionghoa Singapura. Walaupun banyak juga, termasuk turis asal Malaysia yang dialeknya khek. Selain hotel, beberapa money changer di pusat kota Tanjungpinang juga melayani transaksi penukaran Dolar Singapura. Turis yang isi kantongnya pas-pasan juga bisa menikmati khas kota Tanjungpinang, termasuk menikmati berbagai menu di pusat kuliner Akau. “Suasananya (pusat kuliner) Akau sengaja di tanah lapang terbuka, bukan di ruangan tertutup. Orang Singapura, Malaysia dan masyarakat local menikmati suasana makan-minum di alam terbuka. Kalaupun hujan, itu resiko dan mereka bubar dengan sendirinya. Tapi Akau hampir tidak pernah sepi, terutama sebelum pandemic covid,” kata Frankim. (sl/IM)














