Dipensiunkan Dini oleh Soeharto, Ini Profil Jenderal Hoegeng yang Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional


Begini sosok dan profil Hoegeng, seorang jenderal polisi yang kini diusulkan jadi pahlawan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Jenderal Polisi Hoegeng dikenal sebagai polisi jujur sekaligus legenda serta panutan polisi yang ideal.

Bahkan, Jenderal Polisi Hoegeng pernah dipensiunkan dini oleh Soeharto karena bersikeras mengusut dugaan keterlibatan anak pejabat dalam pemerkosaan kasus Sam Kuning.

Kini, Hoegeng diusulkan sebagai pahlawan nasional oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Berikut sosok dan profil Hoegeng dilansir dari Tribunnews.com dalam artikel ‘Sosok Jenderal Hoegeng, Polisi Jujur yang ‘Dipensiunkan’ Soeharto, Kini Diusulkan jadi Pahlawan’

1. Profil Hoegeng

Hoegeng lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921 dengan nama lengkap Hoegeng Imam Santoso.

Awal kariernya sebagai polisi diawali saat masuk Akademi Kepolisian di Yogyakarta.

Agresi Belanda menyebabkan akademi itu tidak jelas nasibnya.

Hoegeng mendapat tugas dari Kapolri saat itu, Soekanto untuk menyusun jaringan sel subversi, menghimpun informasi, hingga membujuk pasukan NICA untuk membela Indonesia.

Meski tidak digaji, Hoegeng menjalani tugasnya dengan rasa nasionalisme yang tinggi.

Dikutip dari Kompas.com, Hoegeng memutuskan menyamar menjadi pelayan restoran yang biasa didatangi orang Indonesia dan orang Belanda bernama “Pinokio.”

Di sana, Hoegeng diterima menjadi pelayan dan tak digaji.

Sebagai ganti, pemilik resto memberikan makanan gratis tiap hari untuk pegawainya.

Hoegeng menikah dengan Merry Roeslani pada 31 Oktober 1946.

Saat ‘bertugas’ di restoran tempatnya menyamar, rupanya Merry juga berjualan sate untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tidak ada seorang pun yang tahu Hoegeng dan Merry adalah pasangan suami istri saat itu.

Hoegeng meninggal dunia pada 14 Juli 2004 karena menderita stroke.

Mereka dikaruniai tiga anak yaitu Reni Soerjanti, Aditya Soetanto, dan Sri Pamujining Rahayu.

Hoegeng juga meninggalkan empat cucu dan empat cicit.

2. Minta istri tutup toko bunga

Sebelum menjadi Kapolri, Hoegeng pernah menjadi Kepala Jawatan Imigrasi pada 1960.

Saat menjabat, Hoegeng meminta sang istri,menutup toko bunganya.

“Saat membuka toko bunga di garasi kami untuk menambah pemasukan, waktu dia menjabat kepala imigrasi minta menutup toko itu.”

“Sudah 60 tahun saya bersama Mas Hoegeng, saya tahu sifatnya, mau ke mana arahnya,” ujar Meri, dikutip dari Kompas.com.

Rupanya Hoegeng khawatir orang-orang yang membeli bunga nantinya merupakan relasinya di Imigrasi dan ia tak mau itu terjadi.

Akhirnya Meri menutup toko bunganya.

Pun saat Hoegeng menjadi Kapolri, Meri tidak secara langsung menjabat sebagai Ketua Umum Bhayangkari.

Hoegeng meminta pemegang jabatan itu dipilih dengan pemilihan.

3. ‘Dipensiunkan’ Soeharto

Pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat sebagai Kapolri ke-5.

Dikutip dari wikipedia.org, saat menjadi Kapolri, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi di tingkat Mabes Polri.

Hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif.

Namun, saat usianya baru menginjak 49 tahun, Hoegeng “dipensiunkan” Presiden Soeharto.

Sebab, ia bersikeras mengusut dugaan keterlibatan anak pejabat dalam pemerkosaan kasus Sam Kuning.

Padahal Hoegeng dikenal pekerja keras dan bekerja dengan kejujuran.

“Beliau pensiun usia 49 tahun, ketika sedang energiknya,” kata anak Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng atau Didit dikutip dari Kompas.com.

Sebelum itu, Soeharto mengusulkan Hoegeng menjadi Duta Besar Swedia dan sempat ditawari menjadi Dubes di Kerajaan Belgia.

Namun, Hoegeng menolak karena memilih tetap mengabdi pada Tanah Air.

Saat itu Presiden Soeharto dinilai ingin “membuang” Hoegeng ke luar Indonesia.

Hoegeng akhirnya diberhentikan sebagai Kapolri oleh Presiden Soeharto pada 2 Oktober 1971.

4. Dapat Uang Pensiunan Rp 10 Ribu

Masih dari Kompas.com, setelah berhenti sebagai Kapolri, Hoegeng menemui sang ibu di rumah karena tak lagi punya pekerjaan.

“Dia datang ke rumah menjumpai ibunya. Saya menghormati sekali. Saya tidak bisa lupakan itu.”

“Dia sungkem katanya, ‘saya tidak punya pekerjaan lagi, Bu’. Ibunya mengatakan, ‘kalau kamu jujur melangkah, kami masih bisa makan nasi sama garam.’ Itu yang bikin kita kuat semua,” kenang Meri.

Peristiwa ini sangat melekat di memori Meri.

Hoegeng ternyata mewarisi sifat orangtuanya dalam hal kejujuran

Sementara itu, Didit berkisah, setelah pensiun, sang ayah pernah menerima uang pensiun hanya Rp 10.000 per bulan.

Pensiunan itu diterimanya selama puluhan tahun hingga 2001.

“Sampai 2001 uang pensiunan bapak (Hoegeng) Rp 10 ribu. Setelah 2001 baru ada penyesuaian jadi sekitar Rp 1 juta,” kata Didit.

Setelah pensiun, Hoegeng beralih profesi menjadi pelukis.

Untuk menghidupi keluarganya, Hoegeng menjual lukisannya.

5. Diusulkan jadi Pahlawan Nasional

Bersama dua tokoh asal Jateng, dr Kariadi dan Profesor Soegarda Poerbakawatja, Hoegeng diusulkan menjadi pahlawan nasional.

Usulan ini sudah memenuhi syarat tim peneliti dan pengkaji gelar daerah Jawa Tengah.

Menurut Ganjar, Jenderal Hoegeng dinilai telah berjasa dan mengabdi pada bidang kepolisian Republik Indonesia.

Ganjar menjelaskan, banyak pertimbangan yang dilakukan untuk pengusulan ketiga nama tersebut, termasuk Jenderal Hoegeng.

“Itu detail, ada usulan dari masyarakat, ada data yang dilampirkan. Tugas kami memverifikasi saja, apakah semuanya betul dan tidak ada yang terlanggar.”

“Kemudian setelah itu, kami meneruskan ke pusat,” ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, usulan gelar pahlawan nasional akan ditindaklanjuti Kementerian Sosial.

“Sampai pada Sekmil Presiden yang nanti akan memutuskan terakhir. Kami hanya meneruskan saja,” kata Ganjar dikutip dari Kompas.com.

Ganjar juga berharap bulan Agustus tahun ini pemerintah bisa meluluskan usulan tersebut dan mengumumkan ketiga tokoh itu untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

Karena ketiganya dinilai layak menjadi pahlawan nasional karena ikut dalam perjuangan Bangsa Indonesia.

Kisah Hoegeng saat pensiun dini

Dilansir dari Tribun Jabar dalam judul ‘Jenderal Hoegeng Dipensiunkan Dini oleh Soeharto Karena Usut Kasus yang Guncang Kestabilan Negara’, Jenderal Hoegeng adalah aparat penegak hukum yang menjabat sebagai Kapolri sejak 9 Mei 1968

Namun, saat duduk di puncak kariernya, Jenderal Hoegeng justru harus menelan pahitnya kenyataan.

Jenderal Hoegeng tiba-tiba dicopot dari jabatannya oleh Presiden Soeharto pada 2 Oktober 1971.

Dilansir oleh Tribunjabar dari Kompas.com, sebelumnya, Jenderal Hoegeng sempat ditawari menjadi duta besar Swedia dan Belgia.

Namun, tawaran itu ia tolak karena bersikukuh ingin mengabdikan dirinya di tanah air.

Namun, nasib berkata lain.

Usianya yang masih 49 tahun harus digantikan senior yang berusia empat tahun lebih tua darinya, Jenderal Moh Hasan.

Akhirnya, Jenderal Hoegeng terpaksa pensiun dini pada usia yang masih produktif.

Mencuat pertanyaan banyak pihak mengapa Jenderal Hoegeng pensiun dini.

Ternyata, sebelum dipensiunkan dini oleh Presiden SoehartoJenderal Hoegeng rupanya tengah mengusut tuntas sebuah kasus pemerkosaan.

Kasus pemerkosaan ini dikenal sebagai kasus Sum Kuning, yang menimpa seorang gadis berusia 18 tahun, Sumarijem.

Melansir dari Intisari, Sumarijem adalah seorang penjual telur.

Pada 21 September 1970, Sum diseret oleh sejumlah pria tak dikenal dan dimasukan ke dalam mobil, kemudian dibius.

Ia lalu diperkosa di kawasan Klaten secara bergilir oleh sejumlah pria tak dikenal itu.

Puas melampiaskan hasratnya, sejumlah pria tak dikenal tersebut langsung menelantarkan Sum di pinggir jalan.

Sum tak mau tinggal diam, ia lantas melaporkan kejadian itu pada pihak kepolisian.

Namun, Sum justru diserang balik oleh pihak berkuasa.

Ia malah dijadikan tersangka atas tuduhan laporan palsu.

Sum bahkan dituding sebagai anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Ia dituntut tiga bulan penjara dan satu tahun masa percobaan.

Namun, majelis hakim menolak tuntutan itu karena Sum tak terbukti membuat laporan palsu.

Akhirnya, Sum pun dibebaskan dari hukuman.

Namun, polisi justru mempublikasikan sosok yang disebut sebagai pemerkosa Sum.

Ia bernama Trimo, seorang penjual baso. Namun, Trimo justru mengelak semua tuduhan tersebut.

Disamping itu, terungkap pula fakta lain dari hasil putusan sidang.

Rupanya, Sum mengalami hal memilukan di dalam tahanan.

Sambil dianiaya, Sum dipaksa mengakui pelakunya adalah Trimo.

Tidak hanya Sum yang dianiaya, Trimo pun mengalami hal yang sama saat diperiksa polisi.

Melihat peliknya kasus ini, Jenderal Hoegeng pun turun tangan.

Setelah Sum bebas, Jenderal Hoegeng memerintahkan Komjen Suroso mencari orang yang mengetahui fakta dibalik pemerkosaan Sum.

Ia bahkan membentuk tim khusus yakni Tim Pemeriksa Sum Kuning.

“Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak,” ujar Jenderal Hoegeng, seperti dikutip Intisari.

Akibatnya, kasus ini semakin menjadi sorotan media massa saat itu.

Tersiar pula kabar bahwa pelakunya adalah sejumlah sejumlah anak pejabat dan anak seorang Pahlawan Revolusi. Namun, mereka tetap membantah tuduhan tersebut.

Presiden Soeharto pun akhirnya ikut ambil langkah. Kasus ini dinilai mengguncang stabilitas nasional.

Akhirnya, ia memerintahkan untuk menghentikan kasus ini dan diserahkan ke tim pemeriksa Pusat Kopkamtib.

Kemudian, pada sidang lanjutan kasus Sum, polisi mengumpulkan 10 tersangka.

Namun, mereka bukanlah anak pejabat yang Sum tuduhkan.

Mereka bahkan membela diri dan menyebut siap mati demi menolak tuduhan itu.

Pada akhirnya, Jenderal Hoegeng pun tak bisa berkutik karena dipensiunkan dini.

Kariernya yang tiba-tiba hilang, membuat Jenderal Hoegeng mengembalikan semua barang yang dipakai saat menjadi Kapolri.

Kemudian, ia pun langsung menghampiri sang ibu.

Momen ini dituliskan dalam buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan seperti yang dikutip oleh Intisari.

“Saya tak punya pekerjaan lagi, Bu,” kata Jenderal Hoegeng bersimpuh di depan ibunya.

Namun, ibunya tetap menenangkan sang anak.

“Kalau kamu jujur dalam melangkah, kami masih bisa makan hanya dengan nasi dan garam,” kata sang ibu.

Akhirnya, Jenderal Hoegeng pun tak bisa lagi beraksi memberantas kejahatan.

Ia bahkan harus hidup sengsara selama bertahun-tahun ( Trb / IM )

 

 

 

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *