
May Swan-Penulis
Para penduduk di sekitar estate lebih suka datang menonton beramai dengan penggemar bola lainnya, suasana jauh lebih seru dari pada nonton sendiri di rumah atau bersama keluarga yang sebagian malah kurang berminat dan memilih tidur santai daripada menyaksikan sekumpulan orang dewasa lari mati matian mengejar sebuah bola di lapangan terbuka semalam suntuk. Umumnya yang tergila gila dengan pertandingan World Cup adalah kaum pria, tapi dalam dunia modern yang katanya sudah banyak maju, wanita senantiasa tidak mau kalah dalam segala hal, termasuk interest dalam bidang sepak bola. Cukup banyak kaum hawa yang juga sangat bersemangat mengikuti jalannya pertandingan, bahkan ikut menyaksikan pertandingan di stadium setempat. Pokoknya “What You Can Do, I Can Do Better.” Semboyan yang memicu agar wanita berani mendombrak ikatan tradisi, keluar dari cekalan budaya yang melecehkan kaumnya.


Kembali kepada aficionado bola sepak yang sedang duduk bersama menunggu tibanya pertandingan final antara Belanda dan Spanyol pada jam 2.30 pagi, terdengar percakapan meriah membincangkan team mana yang akan keluar menjadi juara. Setelah itu, seperti biasanya percakapan dikalangan para pria, terlebih pula setelah diiringi dengan minuman, topik pembicaraan tidak jauh dari perempuan. Seorang pria berkata pada temannya yang baru kembali dari Shenzen, “Bagaimana kabarnya? Aku dengar gadis di sana cantik cantik. Jangan main main, ya? Jangan sampai lupa keluarga, lho.” Dengan langgam acuh tak acuh bagaikan meneguk air putih, temannya menyahut, “No problem. Selingkuh itu kan Selingan Indah Keluarga Utuh.” Suara tawa beruntutan dari meja ke meja, lalu mendadak berhenti, terutup oleh sorak tepuk tangan ketika kedua team pertandingan menjelma di layar.














