
“Kita masih melihat itu (nilai tukar rupiah) sejalan dan belum overvalue (terlalu kuat),” ujarnya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (25/2).
Darmin mengatakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kesenjangan pertumbuhan ekonomi antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang (emerging market) salah satunya seperti Indonesia.
Tambah dia, kalaupun kesenjangan itu terus berlanjut, maka nilai mata uang rupiah akan cenderung menguat. Apalagi jika ditopang kebijakan moneter dan fiskal yang dapat meningkatkan kepercayaan.
Namun, Darmin tidak bisa memberikan angka berapa nilai rupiah yang diinginkan BI. Pasalnya, pihak BI juga harus mengikuti dinamika pasar. Yang pasti, BI akan menjaga sisi fundamental sehingga tidak menganggu ekspor.
“Kalau ditanya berapa, maka jawabannya adalah Bank Indonesia tidak pernah membuat target nilai tukar rupiah dalam satu angka. Kita pasti akan mengikuti dinamikanya pasar, kita ikuti juga fundamentalnya seharusnya nilainya berapa, dan kita jaga agar fundamental itu tidak merugikan kita, perekonomian kita,” jelasnya.














