KENANGAN MASA KECIL MAKAN BACANG


KENANGAN MASA KECIL MAKAN BACANG

Oleh: Butce Lee / IM

 

Setiap kali memasuki musim bacang seperti sekarang, ingatan saya selalu kembali ke masa
kecil di Makassar.
Biasanya pada hari-hari seperti ini, saya bersama para om berjalan ke sebuah gang paling
belakang di kampung kami. Di ujung gang itu terbentang hamparan kebun bambu yang luas.
Orang-orang tua sering bercerita bahwa daerah itu dahulu merupakan salah satu lokasi
yang berkaitan dengan tragedi besar pada masa operasi Westerling di Sulawesi Selatan.
Namun ketika saya kecil, yang saya lihat hanyalah rimbunnya pohon-pohon bambu yang
tumbuh di mana-mana.
Kami pergi ke sana untuk mencari daun bambu yang lebar dan besar. Daun-daun itu
kemudian digunting dan dibawa pulang untuk membungkus bacang.
Dua hari sebelumnya, saya dan para om biasanya mendapat tugas yang cukup unik:
memilah beras ketan dan beras biasa. Beras ketan warnanya putih pekat, sedangkan beras
biasa tampak lebih bening dan transparan. Kami duduk berjam-jam memisahkan keduanya.
Sampai sekarang saya tidak tahu persis mengapa harus dilakukan seperti itu. Mungkin pada
masa itu beras ketan lebih mahal sehingga dicampur dengan beras biasa untuk menghemat
biaya.

 

Setelah semua bahan siap, nenek saya mulai membuat bacang. Isinya sangat lengkap:
daging babi kecap, lap cheong (sosis Tionghoa), kuning telur asin, ebi, jamur, dan berbagai
bumbu lainnya. Aroma yang keluar dari dapur sungguh luar biasa.
Di halaman rumah terdapat sebuah kuali raksasa, hampir berdiameter satu meter. Kuali itu
diletakkan di atas tungku kayu bakar. Ratusan bacang yang sudah dibungkus rapi kemudian
direbus selama sekitar lima jam. Asap kayu bakar bercampur aroma daun bambu dan
bumbu bacang menjadi wangi yang sampai hari ini masih saya ingat.
Ada satu kebiasaan lain yang juga saya ingat dengan jelas. Setelah bacang selesai dimasak,
nenek saya selalu menyiapkan beberapa sesajian. Sebagian diletakkan di dekat sumur,
sebagian lagi di halaman. Menurut beliau, itu untuk menghormati penunggu rumah,
penunggu sumur, dan dewa tanah yang menjaga keluarga kami. Dupa dinyalakan, dan
beberapa bacang dipersembahkan sebagai tanda syukur dan penghormatan.
Hari Sabtu adalah hari yang paling kami tunggu. Kami akan pergi ke Pulau Kayangan untuk
berenang dan bermain. Bacang-bacang yang baru matang dibawa sebagai bekal. Dalam
perjalanan dengan perahu, nenek saya biasanya membuang dua atau tiga bacang ke laut.

Saya tidak pernah benar-benar memahami maknanya waktu itu, tetapi mungkin itu bagian
dari tradisi dan ungkapan syukur kepada alam.
Sesampainya di Pulau Kayangan, kami berenang, bermain air, tertawa bersama saudara-
saudara, lalu duduk menikmati bacang yang masih harum. Tidak ada restoran mewah, tidak
ada pendingin ruangan, tidak ada telepon genggam. Yang ada hanyalah kebersamaan
keluarga, suara ombak, dan rasa bacang buatan nenek yang rasanya tidak pernah bisa
tergantikan.
Kini banyak hal telah berubah. Namun setiap kali saya melihat atau makan bacang,
kenangan masa kecil itu kembali hadir. Saya seolah melihat lagi kebun bambu, kuali besar di
halaman rumah, asap kayu bakar yang mengepul, dan sosok nenek yang dengan penuh
kasih menyiapkan makanan untuk seluruh keluarga.
Bacang bagi saya bukan sekadar makanan. Bacang adalah kenangan, tradisi, dan cinta
keluarga yang tersimpan dalam setiap lipatan daun bambu.( BL  / IM )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *