Seorang teman yang menangani sebuah toko menjual barang barang branded leather goods di daerah Middle Road ketika saya tanya bagaimana bisnisnya, pernah dengan wajah berseri seri berkata, “Langganan kami yang terbesar adalah turis Jepang, mereka selalu datang berbodong bondong dengan bis,
diantar langsung dari bandara oleh tour guide.” Lalu ia menceritakan demikian maraknya bisnis, para pemilik toko bersedia membayar tour guide berdasarkan jumlah turis yang dibawanya, dengan perhitungan $20 perorang, tidak perduli apakah mereka belanja atau tidak. Dalam sehari bisa ratusan turis yang diantar, dapat dihitung berapa besar masukan para tour guides, dan itu berupa pemasukan tambahan di luar gaji tetap bulanan.
Pemilik toko yang banyak didatangi turis Jepang sering diberi tahu, pada waktu mereka mengunjungi toko, sebaiknya jangan menerima turis dari Korea, karena mereka tidak ingin disama ratakan dengan orang Korea yang menurutnya tidak sederajat dengan orang Jepang. Tuntutan yang sangat rasis dan angkuh, namun demi kepentingan perusahaan, permintaan tersebut selalu dipenuhi oleh pihak pengusaha tanpa protes. Bagi pengusaha uang menentukan segalanya. Money talks.
Pada masa itu ekonomi Jepang sedang naik daun, mobil Toyota, Honda,
Nissan, juga barang barang elektronik, lemari es, mesin cuci, radio, TV, alat pendingin udara semuanya made in Japan yang paling laku dan disukai umum. Harga real estate di Jepang apa lagi di Tokyo melejit setinggi langit. Rakyat Jepang merasakan keberuntungan dengan baiknya ekonomi, kondisi bursa Jepang menanjak, pengangguran hampir tidak ada. Masyarakat banyak uang simpanan, suasana terasa sangat vibrant, mudah sekali mengeluarkan uang, dan pertama yang diincar adalah branded designer goods dari Louis Vuitton, Gucci, Channel , Chloe, Prada, Christian Dior, Bulgari atau yang setaraf, terutama bahan kosmetik, tas tangan wanita, sepatu, jam tangan, kamera dan kaca mata, makin mahal makin disukai asalkan yang terbaru.
Dimana mana turis Jepang sangat disenangi, diberi pelayanan istimewa, 
Namun alam tidak selamanya cerah, matahari tidak selamanya berada di Timur, ada kalanya sang surya terbenam di Barat. Pada tahun 90an financial 
Sekarang arus gelombang turis telah beralih datang dari China . Di bawah kebijaksanaan open door economic reform diawali oleh Deng Xiaoping, dalam sesingkat tiga puluh tahun, China telah menjelma sebagai economic power ketiga di dunia setelah AS dan Jepang. Suatu keberhasilan pesat yang tidak ada bandingannya dalam sejarah dunia, termasuk Amerika Serikat yang memerlukan lebih dari dua ratus tahun demi mencapai taraf kemajuan ekonomi pada hari ini. Kalau AS sedang meronta ronta kesakitan melawan resesi dimana banking infrastructure dan mega finansiel institusi menghadapi masalah yang menggunung, sedangkan ekonomi Jepang bagaikan binatang luka sedang hibernasi di musim dingin yang berkepanjangan tanpa adanya ketentuan bila musim semi akan tiba, China sebaliknya berupa sekuntum bunga yang baru berkembang telah mencatat pertumbuhan GDP sebesar 8.7% pada tahun 2009, dan ini terjadi pada masa dunia luar mengalami parahnya penurunan ekonomi. Bersamaan dengan tumbuhnya perekonomian dalam negeri, China juga telah melahirkan masyarakat konsumen yang luar biasa besar, sekalipun pucuk pimpinan negara tetap berada dalam kekuasaan Partai Komunis China .
Pada tahun 2009, Singapore Tourism Board melaporkan, tamu dari China 
Menurut seorang tour guide yang baru baru ini membawa sekumpulan empat ratus turis dari kota Wenzhou China, setibanya di DFS Galleria sebuah toko dari serantaian toko menjual barang branded goods, para tamu dalam satu jam telah memborong seluruh persediaan handbag Louis Vuitton dalam toko itu. Demikian larisnya, sebagian dari barang barang terpaksa diambil dari gudang karena tidak mencukupi permintaan. Pada pagi hari itu, jumlah angka masukan tercatat $ 400,000. Seorang sale staff pada Louis Vitton di Orchard Road mengatakan rata rata turis China membeli barang seharga $ 5,000 hingga $ 6,000 per tamu saban kali mereka datang, biasanya dalam sekumpulan lima hingga enam orang. Sale staff di Bulgari juga memberi informasi yang bersamaan mengenai turis China yang mengunjungi tokonya. Suatu gejala perkembangan
yang menakjubkan. Bersamaan dengan majunya perekonomian China , telah tumbuh sebuah generasi konsumen yang filosof hidupnya condong ke materialisme, dan dalam hal ini mengarah ke branded goods dari Barat yang dianggap lebih eksklusif.
Ada yang mengatakan sekalipun sejarah tidak berulang, namun ia sering kali kembali dengan nada yang bersamaan. Pada pertengahan abad ke 19, Inggeris telah menyerang China dalam pertempuran yang dinamakan Perang Candu Pertama, dengan maksud memaksa Kerajaan Qing memberi kesempatan bagi Inggeris menjual candu di negaranya. China kalah perang. Dan akibatnya terpaksa menyetujui unequal treaties, menyerahkan hak perekonomian negara kepada Inggeris. Kekalahan berat yang tak terhingga bagi rakyat China .
Perang candu sudah lama lewat, bukan topical issue yang banyak diperbincangkan lagi. Namun jika kita simak lebih mendalam, consumerism yang merajalela bertadang mengarah ke Barat, bukankah itu juga satu kemenangan bagi perekonomian Barat? Dan lain dengan Perang Candu, penyebaran consumerism telah meraih kemenangan tanpa mengirim sebuah kapal perang maupun sepucuk meriam, juga tidak perlu memaksa perjanjian unequal treaties, namun masyarakat sudah dengan suka rela ketagihan candu. Candu consumerism.(IM)

















