Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa – Natthi ragasamo aggi, Natthi dosasamo kali – Natthi khandhasama dukkha, Natthi santiparam sukham

Kelahiran, Pencapaian Pencerahan Spiritual, dan Pencapaian Parinibbana (Mangkat Sempurna) Buddha Gotama merupakan tiga peristiwa suci (Trisuci) yang diperingati pada Hari Raya Waisak. Peristiwa pertama saat Kelahiran Siddhartha Gotama, putra mahkota kerajaan Kapilavasthu, di India Utara, pada hari purnama di bulan Waisak tahun 623 SM Sedangkan peristiwa kedua adalah Pencapaian Pencerahan Spiritual Siddhartha Gotama menjadi Buddha yang terjadi pada hari purnama di bulan Waisak tahun 588 SM. Kemudian selama 45 tahun Buddha membabarkan ajaran Kebenaran Dhamma kepada masyarakat luas. Akhirnya peristiwa ketiga terjadi ketika Buddha Gotama mangkat sempurna mencapai Parinibbana dalam usia 80 tahun pada hari purnama di bulan Waisak tahun 543 SM.
Kehadiran Buddha di dunia ini membuka pandangan masyarakat luas 
Dengan Kedamaian Membangun Kebahagiaan Sejati, demikian tema Peringatan Hari Raya Waisak 2554/2010 yang diangkat oleh Sangha Theravada Indonesia. Kedamaian dan pertikaian merupakan dua hal yang saling berlawanan dalam hidup kita. Pada umumnya pertikaian sangat mudah terjadi karena terdapatnya perbedaan yang dimaknai sebagai permusuhan. 
Suasana damai bukan saja terdapat dalam relasi antar sesama manusia, tetapi
Kedamaian dapat terjadi apabila manusia mampu meningkatkan kualitas hidupnya masing-masing untuk menghindari keserakahan, kebencian, dan 
Nafsu serakah atau tamak tidak akan padam selama manusia belum mampu menyadari bahwa nafsu itu bukannya menyenangkan tetapi menyebabkan manusia terjerat makin kuat dalam ikatan nafsu yang berakibat pada pelupaan ataupun peniadaan keberadaan orang lain ataupun lingkungan hidupnya. Perilaku manusia menjadi arogan bahkan sewenang-wenang terhadap orang lain dan lingkungan hidup. Kehancuran orang lain dan lingkungan hidup tidak dipahami, karena yang diketahui adalah terpuasinya nafsu serakah tersebut.
Kebencian dapat dipadamkan apabila manusia menyadari kebersamaan hidup sebagai keniscayaan untuk saling peduli. Ingatan kebersamaan menjadi dasar bagi pelenyapan kebencian. Karena kebersamaan adalah menghargai keberadaan hidup manusia, meskipun manusia memiliki perbedaan-perbedaan dalam banyak hal, suku bangsa, agama, bahasa, budaya. Keberadaan hidup adalah perihal hidup-mati manusia, berbeda dengan kualitas perilaku hidup yang bisa baik-buruk. Terhadap kualitas perilaku baik tentu kita mendukung, tetapi terhadap kualitas perilaku buruk hendaknya kita menghindari.
Prinsip hidup sering tidak jelas, bahkan prinsip Kebenaran Dhamma sering diabaikan. Kemudian manusia menggunakan prinsip hidup lain seperti mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip etik moral spiritual luhur. Kebenaran Dhamma memberi tuntunan bagi manusia untuk memegang teguh prinsip etik moral spiritual luhur. Dampak langsung dari penggunaan prinsip etik moral spiritual itu adalah munculnya ingatan kebersamaan hidup yang merupakan sikap tepat untuk melenyapkan kegelapan batin. Kebersamaan akan 
Selamat Hari Raya Waisak 2554/2010, marilah kita mewujudkan kedamaian dalam diri kita masing-masing, di antara kita bersama, dan antara kita dengan lingkungan hidup ini agar kita dapat membangun kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang dicita-citakan oleh masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia tercinta.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi. Semoga semua makhluk hidup berbahagia
Kota Mungkid, 28 Mei 2010 SANGHA THERAVADA INDONESIA cap STI Bhikkhu Jotidhammo Mahathera Ketua Umum Sanghanayaka (IM)














