Jenderal humanis, bersikap negarawan meningkatkan diplomasi hubungan Indonesia – Tiongkok
dilaporkan: Setiawan Liu

Letnan Jenderal TNI (Purn) Kuntara meninggal dunia di usia 82 tahun. Beliau satu-satunya duta besar Indonesia (1999 – 2001) untuk Tiongkok yang bisa berbahasa mandarin dengan baik. “Beliau bukan hanya berbahasa mandarin, tapi juga bisa menulis dengan baik. Mungkin, (kemampuan berbahasa mandarin) berdampak pada semakin eratnya hubungan Indonesia – Tiongkok,” kata Sunardi Mulia, wartawan senior dan penerbit berbagai buku Bahasa mandarin. Saat menjabat, hubungan kedua negara baik-baik, bahkan meningkatkan kerjasama ekonomi. Kemampuan mandarin sebagai nilai plus kepemimpinan beliau untuk berdiplomasi people to people. “Beliau bisa bahas langsung dengan pejabat di Tiongkok, dan bisa lebih dekat dengan masyarakatnya. Beliau memahami budaya orang Tiongkok karena dengan bisa berkomunikasi langsung,” kata Sunardi Mulia.
Sekembali dari Tiongkok, almarhum Kuntara dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia dan Tiongkok (LIT). Juniornya, Sudrajat (purnawirawan perwira tinggi TNI-AD) yang juga menjabat duta besar Indonesia untuk Tiongkok (2005 – 2009) juga aktif pada LIT. Almarhum Sukamdani Sahid Gitosardjono (pengusaha Sahid Group) yang lebih dulu membantu LIT. “tiga sosok yang aktif pada LIT sehingga bilateral Indonesia – Tiongkok semakin meningkat,” kata Sunardi Mulia.
Almarhum Kuntara, sejak kecil di Cirebon dan masuk sekolah Tionghoa. Dari situ, ia memahami bahasa mandarin. “Beliau ramah dan mau membantu siapa saja. Untuk kata sambutan pada Buku saya, (proses pengerjaan) nggak sulit karena jiwanya memang selalu mau membantu orang lain,” kata Sunardi Mulia.
Letjen Kuntara, meninggal di RSPAD menghembuskan nafas terakhir. sebelumnya, almarhum disemayamkan di Balai Mako Kopassus Cijantung. Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad), Danjen Kopassus juga sangat dihormati juniornya, Jenderal (pur) Agum Gumelar dan Mayjen TNI (pur). Daniel Tjen. Keduanya sempat besuk almarhum di RSPAD. Sosok beliau, dimata Agum Gumelar, sebagai senior, pendahulu sebagai Danjen (komandan jenderal) Kopassus. Beliau punya kemampuan intelijen yang sangat kuat, Sandhi Yudha (satuan Kopassus yang memiliki spesifikasi tugas perang rahasia ‘Clandestine Operation’ selain kemampuan dalam intelijen tempur. “Sandhi Yudhanya sangat kuat. Saya banyak belajar dari beliau, mengasah kemampuan Sandhi Yudha. beliau, seorang jenderal yang sederhana sehingga dipercaya pada beberapa jabatan,” kata Agum Gumelar. (sl/IM)















