GAPPMI Accommodate Industri Mamin LN, Butuh Lebih Banyak Sumber Pasokan, Jaringan Distribusi
Dilaporkan: Liu Setiawan
Jakarta, 8 Mei 2026/Indonesia Media – Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) melihat ajang pameran internasional yang menghubungkan supplier global dengan buyer Asia di Indonesia, semakin mengarah pada hub industri, ruang pertemuan nyata antara pelaku usaha lokal dengan ekosistem F&B global. Pada industri makanan dan minuman (F&B) atau mamin, terjadi pergeseran rantai pasok global yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir hingga mendorong para pelaku usaha untuk berpikir lebih jauh, tidak lagi cukup mengandalkan satu sumber pasokan atau satu jaringan distribusi. “hari ini saja, GAPMMI sudah menerima tiga rombongan delegasi industri mamin Tiongkok, termasuk Anhui Africa-Asia Exhibition. Kami accommodate semuanya yang dari luar negeri (LN) termasuk Tiongkok,” Wakil Ketua bidang Pembinaan dan Pengembangan UKM GAPMMI, Irwan Widjaja mengatakan kepada Redaksi.
Pertemuan beberapa pengurus GAPMMI dengan delegasi Anhui berlangsung di Sekretariat GAPMMI, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, selama sekitar 1,5 jam. Delegasi Anhui yang berjumlah sembilan orang tersebut merupakan produsen berbagai produk makanan, seperti peanut crisp (cemilan mirip teng-teng kacang tanah), beef soup, dan dry noodle. Sementara dari pihak GAPMMI hadir juga, wakil ketua bidang Kerja Sama Luar Negeri Handito Joewono, Bobby Kusumo, serta Alberto Hans. “Kami menerima 36 perusahaan mamin Tiongkok pada hari yang sama. Dari tiga pertemuan, tujuannya sama, (yakni) penjajakan dan eksplorasi prospek kerjasama,” kata Irwan Widjaja.
Salah satu produk yang dinilai memiliki prospek besar di pasar Indonesia adalah mi atau noodle. Pihak Anhui mengaku ingin memperdalam pemahaman mengenai tingkat konsumsi mi di Indonesia sebelum melakukan ekspansi lebih jauh. GAPPMI juga rutin gelar pertemuan dengan stakeholders di Indonesia, terutama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Kami bahas terutama mengenai regulasi. Anggota GAPMMI mencapai sekitar 400 perusahaan, dari berbagai sektor industri mamin, seperti laboratorium, jasa boga, kemasan dan lain sebagainya. Sehingga pertemuan untuk update mengenai regulasi sangat penting,” kata Irwan Widjaja.
Pada pertemuan, delegasi Anhui juga sempat menanyakan mengenai Registrasi dan Sertifikasi Halal mengingat Wajib Halal diberlakukan mulai Oktober 2026. Merespons pertanyaan tersebut, Irwan Widjaja menjelaskan, bahwa salah satu program kerja GAPMMI, membantu para pelaku usaha untuk registrasi sertifikat Halal. “seluruh produk mamin, obat-obatan, kosmetik, dan barang gunaan (seperti tekstil/jok) yang beredar di Indonesia wajib bersertifikat halal per Oktober 2026. Tapi eksportir Anhui bisa melalui LHLN (Lembaga Halal Luar Negeri) di China untuk pemeriksaan awal,” kata Irwan.
Tiongkok menjadi negara pertama yang diundang forum Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia karena memiliki jumlah LHLN terbanyak serta volume produk yang signifikan dalam hubungan perdagangan dengan Indonesia. (LS/IM)















