Dari Gamelan hinggaWayang Kulit: Perayaan HUT ke-18 Paguyuban Jawa Plus
Oleh Bruce Lie/ IM
Tanggal 31 Mei menjadi momen yang sangat istimewa bagi Paguyuban Jawa Plus (PJP) di bawah kepemimpinan David Mulyatno. Pada hari tersebut,
organisasi yang telah menjadi wadah persaudaraan masyarakat Indonesia di California Selatan ini merayakan ulang tahunnya yang ke-18. Perayaan yang berlangsung di KJRI Los Angeles tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Jawa kepada generasi muda serta masyarakat internasional.
Begitu memasuki area acara, para pengunjung langsung disambut suasana meriah. Terdapat tujuh stan makanan yang menawarkan berbagai hidangan khas Nusantara. Aroma masakan Indonesia yang menggugah selera berpadu dengan alunan musik dari sebuah band yang membawakan lagu-lagu Jawa. Beberapa penyanyi, termasuk Angel, turut menghibur para tamu dengan lagu-lagu bernuansa tradisional dan populer yang mengundang tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan tarian Nusantara yang dibawakan oleh empat penari. Dengan gerakan yang anggun serta kostum yang indah, mereka menampilkan keindahan seni tari Indonesia di hadapan para tamu yang memenuhi ruangan.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian datang dari para ibu anggota Paguyuban Jawa Plus. Mengenakan kebaya biru yang elegan, mereka tampil penuh percaya diri menyanyikan beberapa lagu sambil menari bersama. Kehangatan dan kekompakan yang mereka tunjukkan mencerminkan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas Paguyuban Jawa Plus. Setelah membawakan sekitar tiga lagu, suasana semakin semarak ketika sesi door prize dimulai.
Pada kesempatan tersebut, organisasi IDNLA turut menyumbangkan sebuah tas desainer sebagai hadiah utama. Para peserta diajak menjawab berbagai pertanyaan untuk mendapatkan kesempatan memenangkan hadiah tersebut. Sesi ini berlangsung meriah, penuh canda tawa, dan semakin menghangatkan suasana kekeluargaan yang terasa sepanjang acara.
Dalam sambutannya, Pembina Paguyuban Jawa Plus, Bapak Tekad, mengisahkan perjalanan organisasi yang telah berlangsung selama delapan belas tahun. Beliau menegaskan bahwa PJP tidak hanya menjadi wadah pelestarian budaya Jawa dan Indonesia di Amerika Serikat, tetapi juga aktif menjalankan berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Selama perjalanan organisasinya, Paguyuban Jawa Plus telah memberikan dukungan kepada 12 panti asuhan di Indonesia. Selain itu, organisasi ini juga aktif menggalang bantuan bagi para korban berbagai bencana, mulai dari gempa dan tsunami di Palu, gempa bumi di Cianjur, berbagai musibah di Medan, hingga bantuan bagi korban kebakaran besar yang melanda kawasan Altadena, California. Semangat gotong royong dan kepedulian sosial tersebut menjadi salah satu identitas utama Paguyuban Jawa Plus selama ini.
Sekitar pukul dua siang, seluruh peserta diarahkan memasuki ruang utama yang telah ditata rapi dengan deretan kursi untuk menyaksikan acara puncak. Di bagian depan ruangan, sekelompok seniman dari Los Angeles serta dua seniman dari San Diego yang dipimpin oleh Joko Sutrisno telah bersiap memainkan gamelan. Menariknya, kelompok ini terdiri dari murid-murid dengan latar belakang kebangsaan yang beragam, membuktikan bahwa seni budaya Jawa memiliki daya tarik universal yang mampu menjangkau masyarakat dari berbagai negara.
Pada kesempatan yang sama juga dilakukan peresmian kelompok Gamelan Pasurian di bawah naungan Paguyuban Jawa Plus. Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian budaya Jawa di California Selatan. Nama Pasurian diharapkan menjadi simbol persatuan, semangat belajar, dan kecintaan terhadap budaya Nusantara yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Alunan Gamelan Pasurian kemudian mengiringi pertunjukan wayang kulit yang menjadi salah satu acara paling dinantikan. Tamu istimewa yang hadir pada hari itu adalah Ni Dalang Woro Mustiko, seorang dalang wanita yang dikenal luas karena dedikasinya dalam melestarikan seni pedalangan. Dalam pertunjukannya, beliau membawakan kisah kepahlawanan Bima, salah satu tokoh Pandawa yang terkenal karena keberanian, kejujuran, keteguhan hati, dan kesetiaannya dalam membela kebenaran.
Menyaksikan pertunjukan wayang kulit memberikan pengalaman yang unik. Dari sisi depan, penonton dapat melihat bentuk dan gerakan wayang yang dimainkan oleh dalang. Namun menurut saya, pertunjukan ini justru lebih menarik jika dilihat dari belakang layar. Dari sisi tersebut, warna-warni wayang tampak lebih jelas dan hidup, memperlihatkan detail seni lukis dan kerajinan yang mungkin tidak terlihat dari depan. Cahaya yang menembus layar menciptakan suasana magis yang menampilkan keindahan seni tradisional yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Setelah pertunjukan wayang kulit selesai, berakhirlah rangkaian acara perayaan ulang tahun ke-18 Paguyuban Jawa Plus. Acara ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Indonesia di tanah perantauan. Melalui musik, tari, kuliner, gamelan, dan wayang kulit, Paguyuban Jawa Plus berhasil menghadirkan suasana yang hangat, penuh kebersamaan, serta sarat dengan kebanggaan terhadap warisan budaya Nusantara.
Perayaan ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia tetap hidup dan berkembang jauh dari tanah air berkat dedikasi para anggota komunitas yang terus menjaga nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya leluhur.
Selamat ulang tahun ke-18 untuk Paguyuban Jawa Plus. Semoga organisasi ini terus menjadi wadah yang mempererat persaudaraan masyarakat Indonesia, menginspirasi generasi muda, serta menjadi jembatan budaya Indonesia di Amerika Serikat untuk tahun-tahun yang akan datang.

















