Menteri Agama Suryadharma Ali dan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri semestinya menjaga jarak dengan organisasi seperti Front Pembela Islam (FPI). Banyak kontroversi yang menyelimuti organisasi yang sering diidentikkan dengan tindak kekerasan ketika menyerbu tempat-tempat yang mereka anggap mengumbar maksiat itu. Perilaku tersebut terang kontradiktif dengan prinsip kasih sayang dalam Islam.

Yang mengkhawatirkan, kekerasan yang dilakukan FPI kini sudah meluas, tidak hanya terhadap lokasi atau kegiatan yang dicap melayani kemaksiatan, tapi juga terhadap masyarakat secara umum. Beberapa kali FPI bentrok dengan masyarakat kebanyakan. Dua peristiwa berurutan terjadi dalam dua bulan terakhir, di Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah, dan Lamongan, Jawa Timur.
Lebih menggelikan lagi adalah pidato Suryadharma ketika membuka acara tersebut. Dalam pidatonya, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan itu memuji FPI karena, di usianya yang baru 15 tahun, organisasi ini sudah terlihat kematangannya. Bahkan Suryadharma mengatakan bahwa nasionalisme FPI tidak perlu diragukan lagi. Ia menyebutkan FPI adalah organisasi Islam pencinta Pancasila, nasionalisme, dan negara Indonesia. FPI bukan musuh Pancasila.
Suryadharma seolah lupa akan tindakan sejumlah anggota FPI yang justru bertentangan dengan kebinekaan kita. Lima tahun lalu, anggota organisasi itu menyerang anggota Aliansi Kebangsaan untuk Keyakinan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di area Monumen Nasional, Jakarta. Di Surabaya, sekelompok orang yang diduga FPI membubarkan acara dialog Islam-Kristen. Kelompok yang sama juga membubarkan sebuah diskusi buku di Yogyakarta.
Pidato Salim pada saat penutupan pun tak kalah aneh. Seolah tak mau kalah, Salim juga menyampaikan pujian kepada FPI. Menurut dia, FPI semakin hari semakin bagus, semakin meningkat, dan semakin diterima masyarakat. Pernyataan Salim jelas berbeda dengan kenyataan yang ada. Sebab, banyak kalangan meminta agar FPI dibubarkan karena tindak kekerasan mereka yang kian meluas.
Kita cemas bahwa kedatangan Suryadharma dan Salim justru dimaknai sebagai stempel sekaligus restu bagi FPI untuk melanjutkan “misinya”. Padahal kita berharap setiap organisasi, apa pun misinya, tidak menggunakan kekerasan ketika bertindak. Suryadharma memang tak lupa menyentil FPI dengan memberi nasihat agar organisasi ini tidak melakukan kekerasan yang dilarang oleh Islam.
Sayangnya, sulit membayangkan pimpinan dan anggota FPI akan mengikuti nasihat Menteri Agama. Perlu jeweran yang keras agar perilaku kekerasan ini bisa dihentikan.














