BALI


Seperti orang jatuh cinta. Sekalipun sudah berulang kali terjadi, tetap terasa segar, manis, bergelora dan
memukau bagaikan pelukan cinta berahi pertama diiringi dengan pahitnya perpisahan dan rindu menyayat
kalbu. Inilah Bali.

Kami serombongan teman dan keluarga berangkat ke Bali minggu lalu. Dari tempat pennginapan The
Haven Suite Siminyak, kami mulai menjelajahi Jalan Seminyak dan sekitarnya. Jalan raya dua jalur
sempit berlobang lobang penuh dengan kendaraan mobil dan sepeda motor. Satu jalur pun sebenarnya
sudah terlalu sempit. Yang lebih menakjubkan lagi, tidak tampak terjadi kecelakaan lalu lintas, juga
hampir tidak pernah terdengar suara klaxon digunakan. Semua pengendara, baik mobil atau sepeda motor
dengan lincah menemukan jalan garis masing masing dengan aman tanpa menabrak kendaraan lain atau
terjerumus kedalam lobang yang bertaburan sepanjang jalan bagaikan perangkap menunggu mangsanya.
Ditambah lagi dengan turis local dan manca negara seperti semut berkeliaran keluar dari sarangnya
hilir mudik di jalan selebar lima inchi yang diperuntukan bagi pedestrians dipinggir jalan yang penuh
dengan toko toko besar dan kecil. Tentunya, sekali kali orang perlu menyeberang kesebelah jalan demi
kepentingan masing masing.

Nah, disini terjadilah pertunjukan betapa resourceful manusia dalam menghadapi tantangan. Bagi
kami yang datang dari Singapur telah terbiasa dengan kehidupan yang teratur dan diatur dalam segala
segi; tidak boleh sembarangan membuang sampah, tidak boleh sembarangan memparkir mobil, tidak
boleh sembarangan merokok, termasuk tidak boleh sesukanya menyeberang1 jalan raya; semua ada
peraturan dan sanksinya yang disebut jay crossing. Untuk menyeberangi jalan raya tanpa mengikuti
peraturan lampu lalu lintas dan zebra line suatu pelanggaran peraturan berat yang tidak jarang risikonya
mati ditabrak mobil, tapi sebaliknya juga berupa an exciting adventure, bagaikan pencopet yang tidak
tertangkap.

Situasi lalu lintas yang kami saksikan di jalan raya Seminyak, Jimbaran, Kuta dll sangat mengagumkan,
juga membuat orang berpikir, ber- introspeksi. Sementara tour guide orang Bali yang membawa kami
berkeliaran seharian memberi tambahan keterangan, menurutnya, dimana terdapat sekelompok polisi lalu
lintas berdiri di pinggir jalan, itu berarti mereka sedang mencari alasan untuk menyusahkan pengemudi
dengan maksud mendapat uang, biasanya pada ujung bulan sebelum terima uang gaji bulanan. Maka
sebelum terjadi banyak pertanyaan yang merumitkan, para pengemudi mobil dan sepeda motor telah
menyiapkan uang suap untuk diserahkan kepada mereka agar tidak merepotkan. Ini berupa kejadian rutin
kehidupan nyata.

Agaknya, peraturan yang diterapkan oleh penguasa hanya bertujuan memberi kemudahan bagi yang
mengatur, bukan bagi yang diatur, buktinya tanpa diatur, kehidupan manusia tetap berjalan bahkan
berhasil. Dan ini terbukti di mana mana di sekitar jalan sempit, ramai dan berlobang di daerah Kuta yang
luas. Peraturan hanya memancing anti peraturan, dan mengundang korupsi kekuasaan. Terbayang dalam
pikiran sebuah pertanyaan, apakah ini yang dimaksud oleh Jean Jacques Rousseau filosof Perancis pada
abad ke 18 yang menerbitkan Theory of Human Nature, mengenengahkan kebaikan manusia secara alami
tanpa adanya peraturan politik, termasuk peraturan agama yang akibatnya hanya merusak moral dan
beralas pada kepentingan perorangan dan kelompok?

Sebelum mendapat jawaban yang memadai, kami telah tiba di rumah makan Warung Made Seminyak.
Kami bergegas masuk ke ruangan makan yang luas dan teduh, menghindar teriknya mata hari di luar.
Setelah makan, minum, duduk bersandar melepaskan lelah, pertanyaan yang melintas dalam pikiran tadi
telah hilang lenyap tak berbekas.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *