Komunitas Tionghoa Turut Berperan di dalam Sejarah Indonesia (Bagian 5 dari 5)

Oleh: Siauw Tiong Djin

Tidak Tunggal

Dalam tulisannya Siauw TD juga menyinggung peranan Baperki, memang harus diakui dengan jujur bahwa Baperki itu organisasi yang alur kepemimpinannya kiri dan kerap kali bersedia "disalahgunakan" oleh PKI, baik dalam sikap-sikap politik yang disuarakan di lembaga-lembaga politik maupun gerakan massanya. Termasuk anak-anak sekolahnya dan para mahasiswanya diper-"alat" oleh aksi massa PKI, turut berkonfrontasi dengan kelompok kanan di segala bidang. Kelompok kanan terdiri dari golongan agama (terutama Islam) dan militer (tidak semuanya). Maka dapat dimengerti, meskipun tidak perlu disetujui, bila kemudian ada aksi pukul rata yang tidak adil dan penuh dengan kekerasan yang ditujukan pada kelompok PKI termasuk Baperki.

Menurut penuturan Siauw TD, Ketua Umum Baperki Siauw Giok Tjhan sendiri mengeluh dan kecewa atas penyalahgunaan PKI itu. Hal tersebut diungkapkan Siauw TD dalam bukunya tentang Siauw Giok Tjhan, terbitan Hasta Mitra, 1999. Siauw TD menulis tentang Siauw Giok Tjhan dan Baperki sebagai berikut:

"Namun dekat dengan PKI tidak berarti Siauw selalu menyetujui tindak-tanduk PKI. Di dalam saat-saat terakhir zaman Orde Lama, telah terjadi beberapa konflik antara Siauw dan pimpinan PKI, terutama dengan Aidit sendiri.

Pada 1965, PKI aktif dalam memobilisasi massa untuk menunjukkan kekuatannya di jalan-jalan. Demonstrasi di jalan-jalan ini memerlukan massa, transportasi dan dana. Massa yang diandalkan biasanya pemuda-pemudi terutama pelajar-pelajar. Untuk inilah PKI berpaling ke Baperki untuk bantuan, terutama untuk berbagai kegiatan di Jakarta.

Baperki memiliki banyak sekolah dan jumlah pelajar yang ditampung di sekolah-sekolah Baperki, berjumlah puluhan ribu. Tentu massa itulah yang oleh PKI diandalkan turun ke jalan-jalan. Di samping itu, banyak anggota dan pendukung Baperki merupakan para pedagang yang siap memberikan sumbangan yang dianggap berguna untuk kepentingan mereka sendiri. Di antara pendukung Baperki ada pula yang memiliki perusahaan bus yang cukup besar di Jakarta. Datanglah PKI kepada mereka untuk meminta bantuan yang dilakukannya melalui tokoh-tokoh Baperki. Kalaulah jumlah demonstran dibutuhkan dari luar kota untuk memeriahkan acara-acara PKI, lagi-lagi orang-orang Baperki yang dimintai bantuan untuk menyediakan tempat dan biaya penampungan.

Ketika PKI dan berbagai organisasi yang berafiliasi dengannya mengadakan latihan militer, banyak pemuda-pelajar Baperki turut berpartisipasi. Di antara ratusan pemuda yang dilatih di Lubang Buaya di masa 6 jenderal Angkatan Darat dibunuh dan ditanam pada waktu peristiwa G30S terjadi, terdapat juga beberapa pelajar dan mahasiswa Baperki.

Banyak pengaturan yang digambarkan di atas dibuat oleh pimpinan Baperki yang rupanya sekaligus juga menjadi anggota PKI atau ormas-ormasnya seperti LEKRA dan CGMI. Dalam hal ini Siauw tidak selalu mengetahuinya. Ia sering kecewa dengan macam-macam pernyataan PKI yang mengklaim massa Baperki seakan sebagai massanya sendiri. Siauw Giok Tjhan selalu menyatakan bahwa Baperki bukan organisasi yang berafilisasi dengan PKI, massa Baperki bukanlah massa PKI. Oleh karenanya ia sering menegur para kader Baperki yang bertindak dan menggunakan massa Baperki untuk acara-acara PKI seakan-akan semua perbuatan itu sesuatu yang lumrah harus dijalankan. Siauw Giok Tjhan sering juga kecewa karena dorongan untuk lebih mendekatkan Baperki dengan PKI sering timbul dari dalam Baperki sendiri."

Di dalam tulisan yang dimuat di Suara Pembaruan yang lalu Siauw TD juga menyandingkan Baperki dengan kelompok LPKB (Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa) yang tidak sehaluan karena lebih memilih program asimilasi, atau melebur diri dalam kesatuan bangsa Indonesia, daripada integrasi yang mempertahankan identitas aslinya.

Setelah melewati perjalanan panjang dengan berbagai cobaan yang ada agaknya, tanpa bermaksud menepuk dada, diketahui untung ada kelompok LPKB yang dapat banyak mengurangi kekerasan-kekerasan itu dan tidak membiarkan main pukul rata itu berjalan sewenang-wenang. Dan dalam batas-batas tertentu LPKB dapat membantu penataan komunitas Tionghoa ini menjadi lebih majemuk, tidak tunggal.

Proses Sosiologis

Sepanjang sejarah di Indonesia selalu ada konflik keras yang melukai etnik Tionghoa. Mereka tidak atau belum diterima sebagai bagian tubuh "masyarakat pribumi". Masih dianggap sebagai orang asing yang apapun alasan kehadirannya dianggap "mengganggu". Ini dapat dilihat dari kekerasan-kekerasan yang terjadi semenjak zaman kerajaan di Nusantara/Jawa, VOC, Hindia Belanda, Bala Tentara Dai Nippon, Revolusi, Orde Lama, Orde Baru juga di Orde Reformasi. Mudah-mudahan ini menjadi bahan refleksi dan introspeksi kita semua, yang Tionghoa dan yang lain-lain.

Semasa awal Orde Baru, memang benar bahwa rezim dan masyarakat Indonesia pada umumnya dari kelompok yang "menang" secara politis ideologis tidak percaya akan ketulusan politis dari kelompok etnik Tionghoa. Mereka dianggap potensial sebagai kolone kelima dari RRT. Sedangkan RRT sendiri pada saat itu juga di dalam puncaknya radikalisme yang agresif sebagai akibat revolusi kebudayaannya di bawah ''the gang of four''. RRT mengadakan intervensi yang intensif terhadap RI, setidaknya melalui Radio Peking yang agresif, kasar dan profokatif. Ini dilakukan dengan siaran 3 atau 4 kali sehari dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan kelompok LPKB sekarang ini kerapkali dipersepsikan sebagai "otak" yang menyudutkan orang Tionghoa dengan policy asimiliasinya. Pertama harus dimengerti bahwa istilah "asimilasi dipertentangkan dengan integrasi" pada masa-masa akhir Orde Lama itu sebenarnya merupakan simbul-simbul dari pengelompokan. Asimilasi yang kanan dan integrasi yang kiri. Padahal secara hakiki antara integrasi dan asimilasi adalah merupakan suatu proses sosiologis yang sambung menyambung.

Kelompok LPKB memberikan masukan agar ganti nama itu proses legal dipermudah, tidak melalui pengadilan dan catatan sipil, dst. Karena ini ternyata dibutuhkan agar tidak terjadi "diskriminasi" dan apriori pada waktu melihat namanya dan juga merupakan penghapus penghalang untuk saling mendekat. Jadi tidak ada paksaan sama sekali. Apalagi paksaan perkawinan. Ternyata ganti nama ini bermanfaat bagi kedua belah pihak, meski ada pula yang memanfaatkan untuk maksud-maksud yang negatif. Akan tetapi bagi yang ikhlas, ini sangat membantu. LPKB sebenarnya memperjuangkan hal yang sederhana saja, yaitu berusaha mendorong persatuan bangsa (nation building) dan menghilangkan faktor-faktor yang membuat disintegrasi bangsa, baik yang meliputi bidang sosial, legal atau bahkan tradisi-tradisi yang tidak perlu yang dapat menjadi provokasi ketegangan dan konflik rasial.

Di bidang legal/hukum, misalnya, LPKB dibantu Yayasan Prasetya Mulya telah dapat meyakinkan pemerintah agar memberlakukan UU Kewarganegaraan RI dengan konsekuen. Sebagai akibat dari UU Perjanjian Dwikewarganegaraan RI-RRT (1958) terjadi ratusan ribu stateless/orang asing di Indonesia dari kelompok Tionghoa ini. Maka dengan dibatalkannya perjanjian tersebut dan diberlakukannya UU Kewarganegaraan RI dengan konsekuen, dapat dikatakan hampir tidak ada orang asing/stateless dari keturunan Tionghoa ini. Tentu saja ini, sekali lagi, bukan paksaan, jadi kalau ada yang mau tetap jadi asing/ stateless silakan saja.

Jati Diri Oke

Menjaga harmoni masyarakat yang plural dan sensitif ini perlu dilakukan dengan kebijakan yang mendalam. Di lain pihak anggota masyarakat perlu sabar, bijaksana dan pandai-pandai berkorban demi ketertiban itu.

Sekarang ini keadaan sudah berubah. Sudah ada keterbukaan dan demokrasi. Oke, pemulihan jati diri dapat dipupuk. Tapi jangan eksklusif. Kita semua perlu waspada bahwa di sana- sini masih ada riak-riak yang mengarah pada disintegrasi dan diskriminasi.

Mudah-mudahan dengan mengetahui identitas diri akan timbul harga diri yang wajar. Tidak menjadi orang pinggiran (komunitas Tionghoa ini) yang mudah tersingkir dan terusir dalam berbakti pada Tanah Airnya, Indonesia. Tapi sebaliknya janganlah menjadi angkuh diri, di tengah jalan main barongsay berfoya-foya tidak mengenal waktu dengan suara genderang yang memekakkan telinga. Lebih-lebih kalau ini dilakukan di dalam keprihatinan masyarakat luas.

Semoga proses nation building Indonesia akan berjalan terus tanpa kekerasan dan diskriminasi.

Penulis adalah peneliti senior CSIS.

- Bagian 1 | 2 | 3 | 4 | 5 -

 

 

     

 


FastCounter by bCentral