Komunitas Tionghoa Turut Berperan di dalam Sejarah Indonesia (Bagian 1 dari 5)

Oleh: Siauw Tiong Djin

Mudahnya rasialisme terhadap komunitas Tionghoa berkembang biak dan bermanifestasi dalam ledakan-ledakan brutal yang merusak harta benda serta merenggut banyak nyawa di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal negative.

Diantaranya adalah adanya salah pengertian dan kekurang pahaman masyarakat akan sejarah. Bilamana upaya untuk meneliti dan menulis ulang sejarah yang banyak meniadakan sumbangsih atau peran komunitas Tionghoa di dalam berbagai bidang dan zaman tidak dibangkitkan, kenegatifan yang disinggung akan terus berkembang dan akan pada akhirnya merugikan proses pembangunan bangsa Indonesia.

Komunitas Tionghoa selalu di-steoritipe-kan sebagai kelompok masyarakat yang senantiasa bermotivasi mengejar keuntungan alias berdagang; tidak memiliki keinginan atau kesadaran untuk bermasyarakat; tidak tertarik untuk berpartisipasi di dalam kegiatan politik; serakah dan egoistis; bahkan senantiasa berkolaborasi dengan pihak penguasa dalam menciptakan kemelaratan rakyat.

Benarkah stereotipe yang sudah bergenerasi mengendap di dalam benak banyak orang Indonesia, termasuk orang-orang Tionghoa sendiri? Kiranya tidak.

Datangnya para pedagang Tionghoa di kawasan Nusantara yang memainkan peranan penting dalam apa yang kini dinamakan International Trading jauh sebelum fase kolonialisme berlangsung, cukup banyak dituturkan oleh banyak sejarawan. Penyebar luasan agama Islam yang dimulai oleh wali-wali Tionghoa pun cukup banyak disinggung.

Akan tetapi sejarah yang kini beredar dan berlaku di Indonesia boleh dikata meniadakan peranan komunitas Tionghoa di dalam proses perwujudan nasionalisme Indonesia yang kemudian berkembang menjadi perjuangan mencapai Indonesia Merdeka di awal abad ke 20. Sumbangsih Komunitas Tionghoa di dalam dunia pers terhadap perkembangan bahasa Indonesia dan penyebar-luasan nasionalisme di zaman penjajahan Belanda hampir tidak pernah dituturkan. Demikian juga partisipasi komunitas Tionghoa dan para tokohnya di dalam kancah politik di dalam berbagai zaman hampir tidak pernah terdengar.

Karangan singkat ini ditulis untuk mengubah pengertian masyarakat tentang peranan yang dimainkan oleh komunitas Tionghoa yang sudah bergenerasi hidup di Indonesia. Dan ia diharapkan bisa menghimbau para sejarawan untuk melakukan penelitian objektif tentang peran komunitas Tionghoa di dalam sejarah Indonesia sehingga bahan bahan yang dijadikan bacaan masyarakat, terutama generasi muda memberi gambaran yang lebih lengkap dan berguna.

Nasionalisme Indonesia dan Pers Tionghoa

Bangkitnya nasionalisme Indonesia tidak bisa dipisahkan dari bangkitnya nasionalisme Tionghoa di pulau Jawa di awal abad ke 20. Beberapa sejarawan menggambarkan bagaimana arus pengenalan tentang kebudayaan Tionghoa – filosofi Kong Hu Cu dan bahasa Tionghoa Mandarin – di dalam tubuh masyarakat peranakan Tionghoa kemudian melahirkan sebuah gerakan yang bisa dikatakan membangkitkan nasionalisme Tionghoa.

Gerakan yang dimulai dengan pendirian Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK) -- sebuah yayasan pendidikan -- di Batavia pada tahun 1900 ini membuahkan beberapa makna sejarah. Pertama ia mendorong proses pengelompokan peranakan Tionghoa untuk mengenal asal usulnya dan mendorong adanya pendidikan yang dianggap sesuai dengan kebutuhan komunitasnya. Pendidikan pada waktu itu sangat terbatas. Dalam waktu singkat THHK kemudian membuka sekolah-sekolah di berbagai kota di pulau Jawa dan bahasa pengantar yang digunakan adalah Tionghoa- Mandarin. Guru-guru di”import” dari Tiongkok dan tempat-tempat lain.

Ini mempermudah komunitas peranakan Tionghoa untuk mengikuti kebangkitan nasionalisme Tiongkok yang dipimpin oleh Dr Sun Yat Sen dan mendorong terbentuknya Tionghoa Siang Hwee (Kamar Dagang Tionghoa) pada tahun 1906 dan Soe Poe Sia (Klub Pembaca Tionghoa) pada tahun 1909. Soe Poe Sia aktif menyebar luaskan bahan bahan tertulis tentang nasionalisme Tiongkok.

Kehadiran THHK, Tionghoa Siang Hwee dan Soe Poe Sia inilah yang menyebabkan nasionalisme Tiongkok dikenal di Hindia Belanda, bukan saja di kalangan komunitas Tionghoa tetapi juga di kalangan penduduk umumnya. Inilah yang menstimulasi lahirnya nasionalisme Indonesia yang menjadi landasan perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia.

THHK juga melahirkan istilah Tiongkok dan Tionghoa, menggantikan istilah Cina di kawasan Hindia Belanda. Istilah Tionghoa dan Tiongkok ini kemudian diadopsi pula oleh para nasionalis Indonesia sebagai tanda solidaritas dan penghormatan terhadap nasionalisme Tiongkok yang dipimpin oleh Sun Yat Sen. Sejak saat itulah yang dikenal di Indonesia adalah istilah Tionghoa dan Tiongkok.

Adanya pendidikan melahirkan kesadaran politik dan kebutuhan untuk membaca berita. Walaupun medium pendidikan yang dipergunakan di sekolah-sekolah THHK adalah Mandarin, komunitas peranakan Tionghoa sehari-hari menggunakan apa yang dikenal sebagai bahasa Tionghoa Melayu. Oleh karena itu, surat kabar-surat kabar yang dikelola oleh orang-orang Tionghoa di awal abad ke 20 ini menggunakan Tionghoa Melayu. Pers yang dikelola komunitas Tionghoa peranakan ini bisa berkembang secara pesat di pulau Jawa. Dan ruang lingkup pembacanya ternyata tidak terbatas pada komunitas Tionghoa saja. Penduduk mayoritas pun membacanya, karena memang jumlah surat kabar yang dikelola oleh komunitas mayoritas tidak banyak dan penyebar luasannya sangat terbatas.

Tanpa disadari, pers yang dikelola komitas Tionghoa ini kemudian berkembang menjadi sarana efektif dalam penyebar luasan berbagai berita perjuangan nasionalisme. Harian Sin Tit Po, harian Matahari dan harian Sin Po, misalnya merupakan harian-harian yang giat menyampaikan aspirasi perjuangan kemerdekaan. Tulisan-tulisan para tokoh seperti Soekarno, Hatta, Tjipto Mangunkusumo kerap dimuat. Bahkan Lagu Indonesia Raya pertama kali diterbitkan oleh harian Sin Po.

Pers Tionghoa ini juga mengerjakan banyak wartawan dan penulis yang dinamakan “pribumi”. Karya-karya penulis “pribumi” selain sering dimuat di dalamnya, juga diterbitkan dalam bentuk buku oleh beberapa pengelola pers Tionghoa ini. Dengan demikian jelas bahwa pers yang disinggung tidak bisa tidak membantu perkembangan bahasa Indonesia apalagi setelah bahasa Indonesia dideklarasikan sebagai bahasa pemersatu dan bahasa perjuangan pada tahun 1928.

- Bagian 1 | 2 | 3 | 4 | 5 -

 

 

     

 


FastCounter by bCentral