Komunitas Tionghoa Turut Berperan di dalam Sejarah Indonesia (Bagian 4 dari 5)

Oleh: Siauw Tiong Djin

SUARA PEMBARUAN DAILY

Peran Komunitas Tionghoa dalam Sejarah Indonesia

Sebuah Catatan untuk Siauw Tiong Djin

Oleh Harry Tjan Silalahi

Memang ada benarnya yang ditulis (juga barangkali yang disampaikan di dalam Seminar di Jakarta baru-baru ini) oleh Sdr Siauw Tiong Djin bahwa Komunitas Tionghoa mempunyai peranan dalam sejarah Indonesia, peranan positif tentunya. Setidaknya ini menurut Siauw. Apakah persepsi ini juga secara ikhlas dipunyai oleh saudara-saudara kita yang nonkomunitas Tionghoa adalah sesuatu yang perlu diteliti dan diamati secara seksama. Tetapi suatu usaha untuk memaklumkan dan membuktikan peranan yang positif suatu komunitas etnik terhadap perkembangan sejarah bangsa adalah usaha yang positif, kalau itu disertai dengan keterbukaan, kejujuran, objektivitas dan faktual. Dengan demikian antara Wahrheit dan Dichtung, kenyataan dan khayalan, dapat dipisahkan.

Siauw telah berusaha ke arah itu meskipun, maklumlah, dalam tulisannya yang singkat itu masih ada kekurangan dalam ketelitian dan akurasi. Untuk menyebut yang kecil saja, misalnya, bahwa Chung Hua Hui itu bukan partai (politik). Seperti Baperki yang bukan partai politik, Chung Hua Hui bermain politik hingga punya wakil di Volksraad (Parlemen Hindia Belanda) dan Baperki di DPR/MPR, dengan segala sikap politik praktisnya dan konsekuensi yang ditimbulkannya.

Dalam meninjau sejarah, Siauw TD barangkali lupa membahas masa pendudukan Jepang. Masa singkat, tetapi dampaknya sangat siknifikan bagi keturunan Tionghoa di Hindia Belanda. Secara sadar dan sistematis Jepang melaksanakan resinifikasi kelompok Tionghoa ini, kembali menguatkan identitasnya sebagai golongan Tionghoa. Baik yang babah totok, peranakan yang sudah banyak membaur dengan masyarakat setempat atau menjadi orang yang berorientasi pada Belanda dijadikan "Cina" lagi. Mendirikan sekolah-sekolah dengan bahasa Tionghoa dan pengelompokan lain beratribut ke-tionghoa-an dilakukan dengan intensif. Bahasa dan kebudayaan yang berorientasi ke leluhur dihidupkan kembali.

Semua itu tentu ada maksudnya, yaitu mengambil hati dan sekaligus merogoh kantong mereka. Di satu pihak agar mereka tidak memusuhi orang Jepang paling tidak mau bekerja sama, di pihak lain dijadikan sebagai mesin pengumpul uang untuk biaya perang. Orang Tionghoa tidak peduli yang totok maupun yang peranakan dijadikan satu dan diperlakukan dalam satu policy. Mereka diperlakukan sebagai orang asing dengan "paspor" dan pajak bangsa asing yang cukup tinggi.

Lebih jauh tentang masa pendudukan Jepang ini dapat diikuti tulisan Didi Kwartanada, "Minoritas Tionghoa dan Fasisme Jepang," dalam buku Penguasa Ekonomi dan Siasat Pengusaha Tionghoa, terbitan Kanisius/Lembaga Studi Realino, 1996. Dengan ditumbuhkannya eksklusifisme ini tentu juga sangat merugikan hubungannya dengan komunitas lain, yaitu menumbuhkan sentimen-sentimen etnik yang membekas kuat.

Dari sejarah kita ketahui bahwa semasa Perang Dunia II Jepang menginvasi Cina pemerintahan Koumintang (Chiang Kei Sek), kemudian mendirikan Pemerintah Boneka Jepang Wang Ching Wei di Nanking dengan maksud agar kesetiaan orang-orang Tionghoa perantauan beralih dari Chiang ke Wang. Dengan demikian pula pihak sekutu dan Tiongkok adalah menjadi musuh Jepang, sehingga propaganda anti Sekutu dan anti Tionghoa ini dipompakan pihak Jepang ke daerah-daerah jajahannya. Pada waktu itu, di Jawa setidaknya, rakyat diajari lagu: "Cina Landa musuhku, Nippon gundul kancaku, ayo maju perang gebug Amerika-Inggris." Dalam latar belakang suasana seperti ini revolusi Indonesia berkobar, RI diproklamasikan.

Dapat dibayangkan bahwa korban-korban emosi revolusi akan banyak berjatuhan. Ini dialami juga oleh ko-munitas Tionghoa. Dan karena itu juga menimbulkan keragu-raguan di benak sebagian orang Tionghoa dalam menyambut kelahiran RI yang tercinta ini. Pekerjaan para tokoh Tionghoa yang dari mula pro Republik dalam mengatasi tantangan revolusi seperti ini menjadi sangat besar dan kompleks. Dari sini pantaslah komunitas Tionghoa yang ada sekarang ini di alam Indonesia yang merdeka, meskipun banyak kesusahannya, harus berterima kasih dan menaruh hormat pada mereka itu, yang tidak henti-hentinya berjuang demi terbentuknya suatu bangsa (nasion) yang merengkuh segenap warganya tanpa pandang bulu.

- Bagian 1 | 2 | 3 | 4 | 5 -

 

 

     

 


FastCounter by bCentral