MAY 2026 CHINA # 1  :HARI KEDUA  DI SHANGHAI: YU GARDEN, TEA CEREMONY DAN SEJARAH KOTA SHANGHAI


MAY 2026 CHINA # 1  :HARI KEDUA  DI SHANGHAI: YU GARDEN, TEA CEREMONY DAN SEJARAH KOTA Shanghai
Oleh Butce Lie / IM

Hari Kedua di Shanghai: Menyusuri Keindahan YU GARDEN dan Sejarah Kota
Shanghai
Hari kedua perjalanan kami di Shanghai dimulai dengan penuh semangat. Pagi itu
sebelum berangkat, saya bertemu dengan Dr. Elly. Dengan antusias dia berkata,
“Bucek, kita harus bergaya pakai baju China karena nanti kita mau foto-foto di Yu
Garden.” Mendengar itu saya langsung berpikir keras, apa yang bisa saya pakai
supaya tetap ada nuansa Tionghoanya. Akhirnya saya memilih memakai rompi
dengan sentuhan motif Chinese dan memodifikasi topi udang yang saya bawa
supaya terlihat sedikit bergaya China.
Perjalanan menuju Yu Garden memakan waktu sekitar satu setengah jam dari hotel
kami. Sesampainya di sana, kami langsung berfoto bersama di bawah rumpun
bambu yang indah. Ketika mulai memasuki area taman, terdengar suara burung
yang sangat ramai. Saya sempat berpikir bahwa tempat ini begitu asri dan alami.
Namun ternyata suara burung itu berasal dari sangkar-sangkar burung buatan yang
menggunakan mesin, bukan dari burung asli.

Yu Garden sendiri merupakan taman bersejarah yang dibangun pada masa Dinasti
Ming oleh seorang pejabat tinggi bermarga Pan. Konon taman ini dibangun sebagai
bentuk bakti kepada orang tuanya. Dari cerita itu saya semakin memahami betapa
pentingnya nilai berbakti kepada orang tua dalam budaya Tionghoa.
Taman ini sangat luas dan megah. Di berbagai sudut terdapat tulisan-tulisan klasik
dan ornamen khas Tiongkok kuno. Di dalam taman juga terdapat empat jenis bunga
yang melambangkan empat musim di China. Tidak heran jika tempat ini menjadi
salah satu destinasi favorit wisatawan untuk berfoto.
Setelah berkeliling di dalam taman, kami keluar menuju sebuah TAO TEMPLE yang
ternyata terhubung langsung dengan area Yu Garden. Di sana saya melihat banyak
orang datang untuk bersembahyang. Temple tersebut merupakan tempat pemujaan
dewa penjaga kota Shanghai. Menarik sekali karena konsepnya mirip dengan tradisi
di Gereja Katolik yang memiliki santo pelindung kota.
Pada ukiran dinding temple terdapat 24 ilustrasi kisah tentang anak yang berbakti
kepada orang tua. Salah satu kisah yang paling menarik adalah tentang seorang raja
yang selalu mencoba obat terlebih dahulu sebelum diberikan kepada orang tuanya.
Konon pada masa pemerintahannya, kerajaan menjadi sangat makmur dan
sejahtera.
Setelah itu kami diajak menyaksikan TEA CEREMONY  Kami diperlihatkan teh
berbentuk kuncup bunga yang dimasukkan ke dalam air panas, lalu perlahan
mengembang menjadi seperti rangkaian bunga yang cantik. Ternyata di dalam satu
kuncup terdapat tiga jenis bunga berbeda.
Kami juga mencicipi lima macam teh, mulai dari green tea, jasmine tea, black tea,
hingga oolong tea. Green tea disebut sebagai teh para kaisar karena dipercaya
memiliki khasiat membuat mata menjadi lebih jernih dan sehat.
Sementara rombongan masih menikmati penjelasan tentang teh, saya mulai merasa
bosan dan memilih berjalan-jalan sendiri melihat area sekitar yang dipenuhi cerita
tokoh-tokoh bersejarah.
Perjalanan dilanjutkan dengan makan siang menikmati dumpling khas Shanghai.
Kami langsung teringat pada Din Tai Fung yang terkenal di Amerika. Dumpling di
Shanghai memang memiliki kuah di dalamnya, tetapi menurut saya kulitnya terlalu
tebal. Saya pribadi lebih menyukai dumpling Din Tai Fung karena kulitnya lebih
tipis dan terasa lebih lembut. Jadi menurut saya, Din Tai Fung masih lebih enak
dibandingkan dumpling yang kami coba di Shanghai.
Namun makan siang itu kami lakukan dengan cepat karena kami tidak ingin
terlambat menonton sebuah pertunjukan sejarah Shanghai yang sangat terkenal di
kalangan wisatawan. Pertunjukan dimulai sekitar pukul dua siang.
Show tersebut benar-benar luar biasa. Pertunjukan itu menceritakan sejarah
Shanghai mulai dari kota nelayan kecil, berkembang menjadi kota industri, lalu
mengalami masa konsesi bangsa Eropa, hingga akhirnya menghadapi invasi Jepang.
Salah satu bagian yang paling seru adalah ketika tokoh Wong Fei Hong muncul dari
belakang panggung untuk melawan tentara Jepang.
Selain itu, pertunjukan tersebut juga menggambarkan perjuangan pemuda-pemuda
Shanghai yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Tiongkok. Mereka digambarkan
rela mengorbankan diri demi perubahan dan perjuangan melawan pemerintahan
pada masa itu.
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *