TOKOH

Dalam suatu nasion yang terdiri dari banyak ragam suku dan budaya, hendaknya kemajemukan itu dipertahankan dan bahkan harus dikembangkan karena itu merupakan aset bangsa yang tak ternilai

Felix Tan (Tan Fay Tjhion)

Kali ini Indonesia Media berkesempatan mewawancarai tokoh mantan penulis Intisari dan Kompas selama tiga decade. Nama Felix Tan tentunya tak asing lagi bagi masyarakat pada zamannya tahun limapuluhan sampai delapanpuluhan. Sosok yang masih penuh dengan vitalitas dan tentunya tetap nyentrik ini ternyata sudah menginjak usia 80an. Kendati jabat tangannya masih sangat keras dan gerak reflexnya masih sangat lincah. Mungkin karena lingkungan hidupnya di Hawaii membuat beliau tetap awet muda.

Dibawah ini sekilas biografi singkat dari beliau

Lahir di Belinyu,Bangka 1920 ,Pendidikan Sekolah Belanda HCS Holand Chinese School (sekolah dasar), Mulo (SMP), AMS Algemene Middelbare School (SMA) sekarang (Kanisius), Setelah itu berangkat ke negeri Belanda dan meneruskan di University of Leiden Belanda, mengambil fak Anthropologi, selama 6 tahun 1946-52 beliau menuntut ilmu dirantau. Kabarnya sebelum berangkat kenegeri Belanda dia sudah dipesan oleh orang tua "awas jangan sampai nanti pulang menggondol cewek bule". Rupanya petuah itu dipatuhinya, akhirnya dia memperisteri orang sebangsanya, Ami Tan yang memberikannya 8 anak. Setelah lulus sebagai doktorandus Anthropologi beliau kembali ke tanah air dan bekerja sebagai tenaga pengajar di IKIP Bandung. Tahun 1954 Felix mengikuti kursus B1 dan B2 untuk qualifikasi pengajar yang mana berakhir dengan diangkatnya beliau menjadi direktur penyelenggara kursus B1 dan B2 itu. Felix Tan diangkat menjadi dosen part time di berbagai sekolah termasuk; Universitas Pajajaran Bandung, Universitas Parahyangan, Akademi Pendidikan Jasmani, dan IKIP.  Pada tahun 1960 dikirim pemerintah Indonesia ke Amerika Serikat untuk menekuni Library science di New York University.

1962 dapat gelar Master in Library science, dipekerjakan di MPRS sebagai part time translator, pekerjaannya terlalu politis dan dia tidak suka.

Bertemu dengan PK Ojong

Tahun 1953 pada waktu itu Auwyong Peng Koen (PK Ojong) menangani Star weekly, sebuah majalah berbahasa Melayu, dan Keng Po sebagai koran harian. Kebetulan suatu hari PK Ojong datang ke Museum Gajah, jalan Merdeka Barat, Jakarta. Saat itu Felix Tan sedang bekerja di museum Gedung Gajah sebagai anthropolog, begitu ketemu dan ngobrol, langsung cocok bagaikan bertemu kawan lama. Kemudian dia ditawarkan menjadi penulis di majalah dan korannya yang kemudian kita kenal dengan “Intisari” sebagai majalah bulanan yang formatnya mirip Readers digest, dan “Kompas” sebagai harian yang sampai hari ini tergolong sebagai surat kabar Indonesia yang terbesar.

 Mulanya Felix tak sanggup karena bahasa Indonesianya kurang baik disebabkan dalam pendidikannya dia selalu menggunakan bahasa Belanda. Peng Koen tak keberatan dan bersedia menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Maka mulailah Felix Tan menulis sebagai salah satu kolumnis di Star Weekly. Setelah 3 bulan PK ojong minta beliau tulis dalam bahasa Indonesia, “ Jij musti bisa tulis dalem bahasa Indonesia, andaikata ada kata-kata kurang pasti boleh ditulis dalem bahasa Belanda”, demikian ujar Peng Koen setengah memaksa.

Setelah 6 bulan beliau menjadi fasih dalam tulisan bahasa Indonesia. Pada saat meletusnya G-30-S Felix Tan pernah menulis report yang lengkap beserta foto-foto tentang aktivitas disekitar G-30-S di Bandung, laporan ini dimuat satu halaman penuh didepan harian Kompas secara exclusive, dan prestasinya sempat menarik pengamat jurnalistik Internasional. Menyusul dia mendapatkan penghargaan Jurnalist Prize dari US.

Artikel artikel yang ditulis Felix antara lain ; “Siapa yang asli?”(membahas asal usul suku  suku yang berdiam di kepulauan Indonesia), “Surat dari Bandung” (semacam editorial mingguan yang dicetak pada harian Kompas, isinya politik dan masalah sosial), dan rubrik “Pengalaman hidup di Amerika” (semacam pengalaman Jusni Hilwan (Toronto) yang selama ini di publisir di Indonesia Media).

1968 , mengapa hijrah ke AS ?.

 Karena pada kerusuhan (riot) di Bandung May 63' anak perempuan yang tertua yang saat itu berusia 8 tahun mendapatkan tekanan psikologis yang tak terduga. Saat itu Felix menjemput puterinya dari sekolah dan menemukan anaknya menangis, ketika itu sang anak bertanya; “ Pah, kita orang C…?. Kenapa mereka bilang saya C…? Bukankah kita orang Indonesia??” Felix Tan tiba tiba tersentak bak terbangun dari tidur. Karena selamanya dia selalu mengajarkan kepada keluarganya bahwa “kita adalah orang Indonesia” . Bahkan sewaktu dia sekolah di negeri Belanda dia selalu mengatakan bahwa dia orang Indonesia dan sewaktu dia membentuk liga sepak bola dia selalu bermain di kubu orang orang Indonesia (pribumi). Pada saat itu Felix bersahabat dengan mahasiswa yang bernama Munadja yang kelak menjadi sekretaris di Majelis Permusyawaratan Rakyat, karena itulah kemudian Felix dipercaya untuk bekerja sebagai penterjemah di MPR(S). Bahasa bahasa yang dipahami, Indonesia, Mandarin, Khe (Hakka), Belanda, Inggeris, German , Spanyol, Perancis.

Beliau juga adalah pendiri dari KASI, Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia. Felix adalah salah satu dari sembilan orang yang mendirikan KASI. Mulai saat itu dia merasa sangat kecewa dengan Shindunata seorang pelopor asimilsasi. Felix menyatakan bahwa asimilasi pemaksaan seperti ; ganti nama, kawin campur (kecuali secara alamiah suka sama suka) itu adalah cara yang salah besar. Dia selalu mengkritik Sindhunata dalam setiap kesempatan untuk masalah ini. Selama 8 tahun anaknya tidak tahu dia adalah Tionghoa dan huruhara membuat anaknya bertanya kita orang C... ,papa?, sebab dia selalu ajarkan kepada ke 8 anaknya (4 putera dan 4 puteri) “kita orang Indonesia”,demikian beliau menunjukan semangat nasionalisnya.

Pengalaman  lain yang menyedihkan anaknya sewaktu disekolah yaitu ; kalau tidak kasih contek kepada kawan kelasnya, maka timbullah segala hujatan yang sudah tak asing lagi akhirnya, “Dasar C…”.  Anaknya di stop dijalan dan dirampas sepedanya dengan alasan rasis, “Kamu C… yah , serahkan sepedamu”, demikian ucapan yang menyedihkan dia terima.

 Lalu dia katakan kepada Sindhunata, “Kalau kamu sebagai orang keturunan Tionghoa tidak mau bahasa , budaya dan tradisi Tionghoa, yah silahkan saja. Tapi jangan halangi kami yang mau memilikinya. Kami semua adalah pendatang, manusia asli di Indonesia adalah manusia purba (Phitecanthropus Erectus yang sub speciesnya antara lain Solonensis, Wajanensis, atau yang dikenal dengan manusia Trinil).

 Jika kamu ingin saya hidup di vacum seperti lupakan Sin Cia, Cap Goh Meh, Pek Cun atau lupakan sembahyang Tuhan Allah, dan budaya tradisi Tionghoa dia tidak bisa menerima itu. Dia bilang kalau secara proses natural (alamiah), itu OK , kalau anaknya kawin dengan pribumi, yah OK tapi tidak secara dipaksakan. Menurut Felix dalam suatu nasion yang terdiri dari banyak ragam suku dan budaya, hendaknya kemajemukan itu dipertahankan dan bahkan harus dikembangkan karena itu merupakan aset bangsa yang tak ternilai. “Saya datang ke Amerika lebih banyak mempelajari macam macam kebudayaan dan baru saya rasakan bahwa Amerika Serikat begitu sangat menghargai aneka ragam kebudayaan" tukasnya. Terbukti dengan begitu antusiasnya University of Hawaii merekrut Felix sebagai dosen dalam bidang kebudayaan Asia. Walaupun beliau sebagai sarjana anthropologi namun dedikasi dari Pak Felix menuntutnya untuk lebih banyak lagi belajar. Semakin dia belajar semakin dirasakan betapa pentingnya kebudayaan itu.

Felix yang sering juara Pingpong ini sangat mengagumi pribadi Yakob Utomo (pemred Kompas). "Dia adalah salah seorang pribumi yang hebat dan terpuji" cetusnya. 

Dia datang ke Hawaii tahun 1968 , kerja di Library dan mengajar di Maunaolu College sampai 1975, lalu diminta oleh Maui community college, sebagai pengajar part time , ekonomi. Dia di call oleh komuniti college, dia diinterview , dia ditanya pengetahuan ekonomi, lalu dia bilang dia bukan ekonomis, pada  saat setelah interview dia langsung diterima setelah satu semester dia dikirim juga ke sekolah lainnya Molokai , semua ini dalam naungan University of Hawaii sebagai Antropolog. juga mengajar Taoisme, kemudian Felix harus mengajar Asian civilization selama 2 tahun, maka dia dituntut belajar sambil mengajar. Bahkan pernah Pak Felix mengajar 12 mata kuliah yang berbeda pada saat yang sama. Bagaimana mungkin? Kuncinya yaitu philosofi mengajar, Tuhan menunjuk saya sebagai manusia yang harus mengabdikan sebagai tenaga pengajar yang baik, untuk itu saya juga harus belajar keras buat mempersiapkan bahan yang harus diajarkan, demikain ujar Felix yang baru berhenti mengajar di University of Hawaii pada tahun 1999, di usia 79 tahun. (Indonesia Media)


FastCounter by bCentral