|
|
|
|
||||
|
APRIL 2000 |
|||||
| BERITA TANAH AIR LOCAL NEWS MANCA NEGARA OPINI BUDAYA&TRADISI IMMIGRATION TOKOH ENGLISH KOMIK AMRIK HEMAT & NIKMAT JENAK JENAKA PENGALAMAN ROHANI FAMILI & PARENTING |
Mengenal Pengusaha Besar Yang Sosial
Bermula sebagai orang yang keadaannya serba pas-pasan Tjoa Ing Hwie berhasil mengangkat diri menjadi pengusaha raksasa yang bersikap dan bertindak sangat sosial. Dia almarhum pendiri dan pemilik Gudang Garam, Kediri, pabrik rokok kretek terbesar di Indonesia. Majalah TEMPO 29 Juni dan 7 September 1985 memberitakan asal-usulnya Tjoa Ing Hwie dibawa oleh ayahnya dari Fukien, Tiongkok, ke Madura ketika berumur 3 tahun. Ditinggal mati sang ayah, sewaktu mudanya telah mengalami kesengsaraan. Mula-mula bekerja di pabrik rokok “93” kepunyaan pamannya. Kemudian dengan sedikit modal hasil kerja keras mendirikan pabrik rokok kretek Gudang Garam yang dimiliki sendiri. Gudang Garam dibawah pimpinannya berkembang menjadi besar sekali. Omset tahun 1985-an mencapai lebih dari Rp.800 milyar dengan nilai itu waktu kira-kira US$.1,3 milyar. Selama 5 tahun Gudang Garam menyetor lebih dari Rp.100 milyar (kira-kira US$.160 juta) tiap tahunnya ke pemerintah R.I. melalui cukai atau rata-rata 35 % seluruh penerimaan cukai rokok negara. Karyawan dan buruhnya berjumlah lebih dari 45.000 orang, sebanding dengan jumlah karyawan Pertamina. Kami baca selanjutnya: Surya alias Tjoa Ing Hwie gampang memberi bantuan pada rakyat sekitar, bahkan pada orang-orang di luar Kediri yang membutuhkan. Di rumahnya di jalan RS Bhayangkara, para tukang becak sudah hafal betul bahwa setiap Lebaran Surya pasti akan memberi hadiah, begitu juga di kantor lamanya di Semampir. Uang sumbangan Rp.200 juta hasil sumbangan perkawinan Soesilo (anak keempat) 1983 ditambah lagi dengan uang pribadi Surya bersama sejumlah anggauta direksi Rp.200 juta menjadi total itu waktu kira-kira US$.660,000.- disumbangkan pada Universitas Brawidjaja, Malang ….. Gudang Garam turut membantu memperbaiki, bahkan membangun, jalan puluhan kilometer di Kediri. Lampu penerangan jalan juga dipasang ….. Membeli tanah untuk perluasan pabrik, perusahaan memberikan harga terbaik bahkan terasa berlebihan ..… Dalam seminggu sekitar 100 surat permintaan bantuan datang di meja direksi ….. Semua komitmen sosialnya dilakukan tanpa publisitas ….. Hampir semua sumbangan ini tak menerakan bekas-bekas Gudang Garam ….. Ing Hwie memang tidak ingin semua bantuannya diketahui banyak orang ….. “Karena dia dulu pernah melarat, dia sekarang jadi suka membantu orang”, ujar kyai Machrus Ali, 77, pemimpin pondok pesantren Lirboyo. “Kalau tidak ada Gudang Garam, Kediri gelap dan tidak punya pamor.” “Ing Hwie seperti ingin membagi keuntungan yang diperolehnya bersama masyarakat”, tambah Machrus Ali bersungguh-sungguh ..… Ing Hwie tak melupakan jasa orang sekalipun mereka cuma buruh. Para perintis berdirinya Gudang Garam setiap tahun dapat jatah tahunan Rp.1 juta. Tempo-tempo 50 buruh perintis itu diajak pelesir, misalnya tahun 1984 ke Singapura. Fasilitas kendaraan, tempat rekreasi dan rumah disediakan buat mereka. Gudang Garam dibawah Ing Hwie dalihnya membantu yang lemah, suka memasang iklan di beberapa penerbitan dengan penampilan sederhana. Bila perlu ber-iklan secara mencolok, ia kelihatan lebih suka mengkaitkan tindakan itu dengan membangun fasilitas bagi kepentingan umum. Upah terendah buruh hariannya 50 % di atas upah standar harian di sektor itu. Surya Wonowidjojo/Tjoa Ing Hwie meninggal dalam usia 62 tahun bulan Agustus 1985 di General Hospital, Auckland, Selandia Baru kemana dia diterbangkan ketika katup-jantung sintetis yang dipasang tahun 1974 tidak berfungsi lagi. Sebagai penggantinya dia tunjuk Rachman Halim anak tertua. Sie Hok Tjwan/ Netherland/ Indonesia Media
|
Anda ingin
Berlangganan Indonesia Media?
|
||||
|
FastCounter by bCentral |
||||||