|
|
Pdt. Virgo Handojo Ph.D. Ketika Tony pulang dari kantor, ia mendapat laporan dari istrinya bahwa anaknya yang baru berumur 7 tahun telah berani membentak-bentak ibunya. Dengan jengkel Toni menyemprot dan menasehati anaknya untuk tidak melakukan hal itu lagi. Hukuman, nasehat, dan mempermalukan adalah teknik yang sering dipakai oleh orang tua untuk "menolong" anak supaya bertingkah laku baik dan mampu mengembangkan nilai-nilai luhur. Sayangnya, tujuan yang baik bila tidak dilakukan dengan cara yang sehat justru akan melukai ganti daripada membangun anak. Konflik antara anak dan orangtua seringkali membawa korban dimana anak menjadi rendah diri, merasa tertolak, dan kurang memiliki kecerdasan emosi. Kompensassinya,anak berubah jadi pemberontak atau penurut. Anak yang berontak biasanya kaku dan suka konflik dengan teman dan pasangannya. Sementara yang penurut cenderung untuk memilih teman dan pasangan hidup yang suka menyetir dan mengarahkan apa yang harus ia perbuat. Bila ketemu, kedua kepribadian ini seperti magnet. Bila menikah, hubungannya sering konflik atau tidak puas. Berbeda dengan keluarga Anton. Sejak istrinya mengandung anak yang ketiga, mereka sering hadir di seminar parenting. Paling akhir mereka sedang belajar teknik untuk mendengar dan mengerti perasaan anak. Selama ini mereka merasa kewalahan mendidik Shanti, anak yang pertama, yang sudah duduk di bangku kelas enam. Ketika Anton pulang dari kantor, ia melihat Shanti duduk merengut di ruang tamu. Sambil menarik napas panjang Anton mendekati Shanti dan bertanya,"Kamu kok kelihatan sedih, apakah ada sesuatu yang Shanti ingin sampaikan kepada ayah?" Shanti tetap membisu dan bahkan wajahnya tambah cemberut. Seperti biasanya, debar di jantung Anton pun mulai menaik melihat sikap Shanti yang acuh tak acuh. Kali ini Anton harus menarik napas panjang tiga kali sebelum ia bertanya kembali kepada Shanti. "Nampaknya kamu segan untuk menceriterakan kepada ayah tentang kesedihanmu. Memang selama ini ayah biasa memberi nasehat panjang dan kurang mendengar dan mengerti perasaanmu. Ayah terlalu cerewet dan kurang memperhatikan pendapatmu. Kali ini darah Shanti yang berdebar. Dalam hati, "Aneh, kok ayah jadi lain ya? Biasanya aku langsung disemprot." Sementara itu dengan tersenyum dan menatap mata Shanti, Anton berkata," terus terang ayah menyesal karena selama ini ayah lebih banyak memberi kuliah daripada mendengar dan mengerti perasaanmu. Ayah ingin belajar untuk lebih mengerti perasaanmu. Apakah Shanti mau memberi kesempatan kepada ayah supaya ayah bisa belajar mengerti perasaanmu dan tidak hanya memarahi atau menasehatimu? Kali ini Shanti benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjawab dan menanggapi sikap ayahnya. Ini sungguh-sungguh pengalaman baru bagi hubungan mereka berdua. Dia merasa heran karena ayahnya tidak secerewet seperti biasanya. Namun demikian dia ragu-ragu, jangan-jangan ini cuman sandiwara saja. Akhirnya ia menjawab sambil menunduk ragu,"Ya, mungkin." Menerima tanggapan demikian, hati Anton mulai besar. Dengan lembut Anton berkata,"kamu kok kelihatan cemberut, apa yang membuat kamu sedih. Ayah ingin tahu." Shanti masih ragu. Jawabnya,"It's OK ayah. Aku bisa menanganinya sendiri." Perasaan sayang mulai masuk dalam hati Anton. Hal itu kentara dari nada suara Anton yang makin lembut ketika ia berkata,"ayah percaya Shanti pasti mampu mengatasi persoalan itu. Namun demikian ayah pingin mendengar dari kamu, apa yang membuat kamu sedih." Hati Shanti pun mulai luluh. Ia mulai percaya bahwa ayahnya benar-benar ingin mengerti perasaannya. Kelembutan dan pengertian Anton melelehkan ketakutan dan pertahanan diri Shanti. Untuk pertama kalinya Shanti mencurahkan hatinya kepada Anton, ayahnya. PAPA MAUKAH ENGKAU MENDENGARKANKU? VH/IM |
|||
|
FastCounter by bCentral |