HALAMAN DEPAN

  FAMILI & PARENTING

APRIL 2000

 BERITA TANAH AIR
  LOCAL NEWS
 MANCA NEGARA
 OPINI
 BUDAYA&TRADISI
 IMMIGRATION
 TOKOH
 ENGLISH
 KOMIK
 AMRIK
 HEMAT & NIKMAT
 JENAK JENAKA
 PENGALAMAN
 ROHANI
 FAMILI & PARENTING


Oleh: Virgo Handojo

Pertama kali ia mendarat di LAX, Shanti masih berumur 17 tahun. Namun demikian, dalam pengalaman hidup ia sudah melebihi orang seusianya. Beberapa kali ia masuk penjara di Indonesia karena urusan ganja dan jualan obat terlarang. Pernah ia ketangkap basah karena mencuri stereo tetangga. Selantang-selinting di tetangga mengatakan, ia sudah dua kali menggugurkan anaknya. Shanti berasal dari keluarga baik-baik, bahkan orang tuanya termasuk bilangan orang kaya dan terhormat. Mereka termasuk pedagang yang super sibuk, banyak relasinya, dan terkenal sangat baik dan dermawan.

Sejak kecil Shanti sering sakit-sakitan. Karena itu orang tua mencoba memberikan yang terbaik untuk perawatan Shanti. Beberapa kali keluarga Shanti mengganti pembantu rumah tangga karena dianggap kurang mampu merawat Shanti. Orang tua Shanti terlalu sibuk untuk dapat menemani Shanti tiap hari. Mereka percaya dengan bekerja keras, mereka dapat memberikan apa saja untuk Shanti. Tak ada tujuan lain dalam hidup mereka selain membahagiakan Shanti. Tidak heran, kabar bahwa Shanti ditahan oleh polisi karena kenakalan remaja, benar-benar menggoncangkan jiwa mereka. Itu terjadi waktu Shanti berusia 14 tahun. Kini mereka sadar, mereka tidak apat lagi menggendalikan Shanti. Mudah-mudahan dengan sekolah ke Amerika, Om Shanti yang di LA dapat menolongnya, demikian keluh ibu Shanti.

Keadaan di atas sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Shanti adalah tumbal buat kekayaan keluarganya, demikian analisa pak Min tetangganya. Dalam dunia psikologi parenting, kisah di atas dapat terjadi pada baik keluarga yang kaya maupun yang miskin. Umumnya orang tua keluarga ini sungguh-sungguh ingin mengasihi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tragisnya, dalam proses untuk mencapai cita-cita tersebut, secara tidak sadar orang tua telah menelantarkan anaknya. Istilah "a good instrumental parent but not a good psychological parent" sering dipakai untuk menggambarkan keadaan semacam ini.

Orang tua Shanti termasuk orang tua yang baik secara instrumental tetapi tidak secara emosional. Mereka baik dalam mnyediakan semua sarana dan fasilitas hidup bagi Shanti, bahkan secara berlebihan. Sayangnya, kebutuhan Shanti bukan hanya fasilitas dan sarana hidup. Shanti perlu disiplin dan dukungan emosionil dari orang tuanya. Shanti perlu orang yang bisa diajak bicara dan mengarahkan hidupnya. Shanti perlu seorang mentor. Shanti terawat secara fisik tetapi terlantar secara emosional. Kesibukan orang tua karena pekerjaan tanpa disadari telah menelantarkan kebutuhan psikologis dan emosional anak. "Shanti menjadi tumbal bagi kekayaan keluarganya," nampaknya ada nilai kebenarannya.

Keluarga semacam ini banyak kita temui dalam masyarakat modern. Di Amerika, rata-rata kedua suami istri harus bekerja diluar rumah untuk dapat membeli rumah idaman mereka. Angka perceraian yang melebihi angka tetap kawin mengakibatkan banyak anak dirawat oleh orang tua tunggal. Sulit buat mereka untuk mampu menjadi baik "a good insrumental" dan "a good psychological parent." Tidak heran, banyak anak-anak pada usia muda menjadi terlantar secara emosionil karena kesibukan orang tuanya.

Nampaknya mantan Presiden Suharto meski kebal hukum, ternyata juga tidak imun dalam masalah ini. Kekurangannya sebagai orang tua secara emosional, ditutupinya dengan rangkaian fasilitas yang diberikan oleh anak-anaknya. Tanpa disadari kepentingan rakyat dan negara pun ia berikan demi kasihnya terhadap anak-anaknya. Secara instrumental Suharto berhasil sebagai orangtua, tetapi gagal sebagai orang tua secara emosional. Akibatnya rakyat ikut kena getahnya.

Mencari pengasuh anak yang dapat memberikan bimbingan emosionil yang baik memang tidaklah mudah. Tidak heran teknik-teknik parenting di tawarkan dimana-mana. Banyak orang tua haus akan teknik yang baik untuk mengasuh dan membimbing anaknya. Kegagalan anak adalah kegagalan orang tua. Harga diri orang tua dipertaruhkan dalam masalah ini. Sayangnya teknik yang baikpun tak bisa memuaskan kebutuhan emosi seseorang. Kehadiran dan interaksi personal lebih diperlukan ganti dari sekedar teknik.

Dalam riset ditemukan, anak-anak yang tidak memiliki figur otoritas dalam keluarganya, biasanya menjadi makanan empuk kelompok-kelompok sekte sesat semacam Jim Jones dan David Koresh. Anak-anak dan remaja ini cenderung mencari gang untuk menemukan  pemimpin yang berani mengontrol dan mendisiplin hidup mereka. Mereka tertarik dan merindukan ikatan batin dengan figur yang mampu mengatur hidup mereka.

Anak-anak yang kosong hatinya biasanya cenderung mengisi kekosongannya dengan hal-hal instrumental. Orang Jawa menemukan gejala kelompok ini dan menyebutnya sebagai "Mo Limo" (Lima M). Mabuk, Madon, Madat, Main, dan Maling merupakan aktivitas-aktivitas yang sering dikerjakan oleh anak-anak yang mengalami depravasi emosional meskipun kecukupan secara instrumental. Anak-anak ini mengalami depravasi superego. Mereka kurang menginternalisasi aturan-aturan keluarga dan masyarakat. Fondasi moralnya rapuh. Pemimpin sekte (cult) atau gang biasanya menjadi eksternal superego mereka.

Kalau anda terlalu sibuk dengan tugas dan pekerjaan anda, ingatlah seruan anak-anak ini, "PAPA TEGAHKAH ENGKAU MENGORBANKAN AKU?" (VH/IM)

 

 

 

Anda ingin Berlangganan Indonesia Media?
Klik disini

 

 


FastCounter by bCentral