|
||
|
Analisis Christianto Wibisono dari AS |
|
|
BERITA TANAH AIR LOCAL NEWS MANCA NEGARA POLITIK OPINI BUDAYA & TRADISI IMMIGRASI LEGENDA ENGLISH AMRIK HEMAT & NIKMAT JENAK JENAKA
|
Washington DC Hari Sabtu siang waktu
Washington DC Dubes Dorodjatun Kuntjorojakti mengadakan open house untuk masyarakat
Indonesia maupun korps diplomatik di kediaman di Tilden. Mereka bersilaturahmi dengan
santai tapi juga prihatin dengan situasi tanah air terutama karena insiden Maluku Utara
dan reaksi massa di Jakarta yang diverpolitisir oleh elite politik. Dari salah satu sumber
yang layak dipercaya , hanya karena massa yang kumpul di Monas hari Jumat, telah
terjadi capital flight sejumlah US$ 50 juta. Kita harapkan tabligh bersama Jumat
petang dan ketegasan Gus Dur untuk segera mengganti Gubernur Maluku dengan pejabat
beragama Hindu dapat membebaskan Maluku dari ajang provokator Machiavelis yang tega dan
keji. Islam bunuh Islam Presiden menyatakan bahwa ada oknum Islam yang tega membunuhi sesama Islam untuk menciptakan kondisi konflik agama yang lebih dahsyat. Tujuannya adalah menjatuhkan Pemerintahan Gus Dur Megawati yang legitimate. Saya mengenal tiga tokoh yang sekarang bertikai bagaikan drama Sam Kok dalam legenda Tiongkok kuno. Karena itu saya ingin menghimbau ketiganya untuk kembali ke khitah awal, berpolitik untuk dedikasi, kemanusiaan dan kebangsaan dan bukan untuk sekedar jadi pemimpin grombolan atau sebagian ummat secara picik, licik dan Machiavelis. Tidak dapat disangkal lagi bahwa kerukunan beragama yang digembar gemborkan oleh Soeharto sebetulnya pada akhir rezimnya telah dirusak justru oleh aparat oknum intel dan fanatisme golongan yang bercampur baur beroperasi secara tidak resmi, direstui dan dibackingi secara tersembunyi. Misalnya meledaknya kasus Situbondo dimana gereja dibakar dan sekeluarga pendeta mati tertambus adalah upaya fitnah terhadap NU karena daerah itu adalah wilayah NU. Karena itu supaya masyarakat Kristen dan non pri benci kepada NU, diledakkanlah insiden Situbondo. Setelah itu maka rentetan insiden pembakaran gereja dan non pri disulut diseluruh Jawa Madura bahkan menyeberang ke Kalimantan dan Maluku. Setahun setelah itu giliran sebagian orang NU justru dijadikan korban dalam apa yang disebut pembunuhan santet oleh ninja gelap. Dalam seluruh peristiwa itu Gus Dur selaku pucuk pimpinan NU telah berkali kali memberi warning berupa inisial provokator atau aktor intelektual dibelakang insiden tersebut mulai dari politisi, menteri sampai jendral. Semuanya kemudian memang menuntut bukti dan karena Gus Dur bukan prosekutor atau hakim mahkamah militer, dia tidak sanggup membuktikan tuduhan terhadap orang yang disebut inisialnya itu Kasak kusuk Aparat Intel. Saya heran kenapa aparat keamanan dan intel yang selama hampir 35tahun mengabdi Soeharto mendadak impoten, dungu, idiot dan tidak bisa mendeteksi gerakan massa SARA. Pasti ada kongkalikong antara oknum oknum yang seharusnya menjadi intel untuk mencegah insiden, malah berbalik menjadi otak dibelakang insiden SARA dari Situbondo sampai Maluku Utara sekarang ini. Oknum oknum seperti ini tega membunuh kemudian memfitnah dan menggelindingkan fitnah itu untuk menjadi bola salju penyulut perang agama, perang salib dan perang saudara di Indonesia. Oknum oknum gelap ini tentu sekarang sangat bersuka cita jika tiga tokoh utama Indonesia, Gus Dur Megawati dan Amien Rais, terjebak dalam dua kubu yang berdasar agama. Oknum oknum yang barangkali sekarang sulit disebut inisialnya karena mungkin lebih dari satu atau mungkin juga tetap berasal dari satu sumber rahasia, misterius tapi cuma bertujuan satu, menghancurkan Indonesia melalui perang saudara tentu gembira melihat semangat jihad dan pembantaian dari sesama bangsa Indonesia. Adalah ironis ketika Menlu Syria al Siarra dan PM Ehud Barak berunding di Shepherdstown untuk berdamai, di Indonesia justru sesama bangsa malah saling teriak untuk berperang saudara atas nama agama secara fanatik dan ekstrem. Agama diperalat. Pada saat menulis analisis ini saya teringat kepada rapat pembentukan MARA di Hotel Borobudur 18 Mei 1997 dimana saya menyatakan bahwa saya bisa menerima perbedaan pendapat dan personalitas antara Gus Dur dan Amien Rais dengan metafora dua tokoh nasional. Kalau diibaratkan Gus Dur merupakan kandidat presiden dari Partai Republik maka Amien Rais sebagai calon dari Partai Demokrat. Dua duanya harus sekular dan tidak boleh hanya mewakili ummat Islam dari suatu negara Republik yang berdasarkan agama Islam. Saya bisa menerima kompetisi antara Gus Dur Dur lawan Amien Rais dalam konteks persaingan sehat, terbuka, adu otak, adu argumen, adu keperibadian, adu kepemimpinan dan adu kenegarawanan untuk diuji oleh rakyat secara legitimate. Saya katakan bahwa saya tidak bisa menerima suatu Negara Indonesia yang berlandaskan suatu agama mayoritas yang menindas minoritas agama lain. Dalam konteks itulah saya menerima ajakan dan himbauan untuk bergabung dalam PAN sebagai partai terbuka. Tapi dalam SU MPR terjadi suatu proses defisit demokrasi, karena elite menyerobot legitimasi rakyat dengan masih adanya anggota MPR yang tidak dipilih oleh rakyat. Proses ini memasuki adegan Sam Kok dimana DR Amien Rais menjalankan peranan unik, malah mendukung Gus Dur dan menjadi kingmaker sehingga Gus Dur bisa menjadi Presiden keempat Republik ini. Dalam konteks ini saya bisa merasakan bagaimana perasaan Amien Rais ketika Gus Dur dengan full speed mulai mengebiri barisan elite ex Poros Tengah dengan menggusur Hamzah Has dan mengangkat Marsillam Simandjuntak menjadi Sekkab. Karena itu saya tidak terkejut membaca ancaman Amien Rais bahwa kalau Gus Dur main gusur maka akan tergusur. Satu satunya cara ialah melalui Sidang Istimewa MPR. Saya tidak tahu kekuatan voting yang bagaimana bisa berperanan untuk menjatuhkan Gus Dur. Sejak semula ketika PAN tidak memperoleh suara optimal, saya sudah menyatakan bahwa lebih baik PAN menjadi oposisi secara terbuka, gentleman dan ksatria, menjadi korektor terhadap rezim siapapun presidennya. Tapi karena cara berpikir bahwa masih bisa berkuasa kenapa tidak memanfaatkan potensi untuk merenggut porsi maka akhirnya terjadi kabinet gado gado semua partai jadi satu. Sampai akhirnya Gus Dur keterlepasan omong bahwa dimasa depan hanya ada dua partai PKB dan PDIP, saya sendiri hanya membaca reaksi terhadap rumor itu. Rapat Monas 7 Januari menggelar rencana fusi Partai Islam. Ini berarti kita akan kembali kepada konflik Negara Islam vs Negara Pancasila dizaman Piagam Jakarta, zaman macetnya Konstituante dan zaman Dekrit Presiden Saya ingin menghimbau tiga pemimpin Amien Rais, Gus Dur dan Megawati untuk bersikap dewasa, juga Akbar Tanjung dan Jendral siapa saja yang akan memimpin TNI bahwa kalau negara ini mau diurus seperti masa tahun 1950an dimana setiap tahun perdana menteri digulingkan oleh partai lain, maka itu adalah ketololan para penyelenggara negara. Apalagi kalau cara menggulingkan itu memakai bendera agama, fanatisme, bahkan insiden SARA di eksploitasi secara Machiavelis, maka itu berarti Indonesia akan segera punah, lenyap tak berbekas seperti Yugoslavia dan Uni Soviet atau imperium Nazi Jerman yang harus dipunahkan oleh kekuatan luar karena telah membunuhi dan membantai bangsa sendiri. Saya menghimbau para elite politik agar berhenti memperalat agama untuk komoditi politik secara murahan, kampungan dan menyebabkan Indonesia terpuruk lagi ke lembah paria diantara bangsa bangsa. Karena saya berada di Washington DC dan tidak berkiprah secara fisik ditengah kancah politik di tanah air, saya ingin menyerahkan kepada rekan rekan sejawat di PAN pada Kongres PAN bulan depan tentang gejala tidak sehat politik agama ini. Kalau PAN menjadi partai tertutup maka tidak ada jalan lain bagi para pluralis untuk keluar dari PAN dan tidak ikut dalam proses pencampuradukan agama dan politik yang tidak sehat dan sangat berbahaya. Tragis bahwa kita di Indonesia masih mempersoalkan perbedaan agama sedang di AS para profesional dihargai bahkan tanpa mendahulukan pertimbangan partisan. Mempolitisir Pakar. Di AS, Presiden Clinton baru saja mengangkat kembali Alan Greenspan sebagai Gubernur Federal Reserve untuk masa jabatan keempat padahal Greenspan diangkat oleh Presiden Reagan. Jadi kepakaran dan kepiawaian Greenspan menembus partai politik sedang di Jakarta jabatan jabatan empuk selalu diincar dengan niatan KKN oleh elite penguasa. Sementara di Indonesia jabatan Gubernur Bank Sentral sejak zaman Soeharto selalu dirubah jadi kasir Presiden mengikuti cara Bung Karno dulu memperlakukan Yusuf Muda Dalam jadi bendahara proyek proyek mandataris MPRS waktu itu. Tidak heran bila Bank Indonesia merosot fungsinya dari bank sentral menjadi kasir presiden dan keluarga presiden dimana uang yang keluar masuk ibarat harta karun nenek moyang pemilik negeri yang kebetulan menjabat presiden RI. Bank Indonesia yang seperti itulah yang gampang disuruh suruh oleh presiden untuk memberi kredit kepada putra putri, anak cucu menantu dan bisa dipakai untuk menggusur pemilik bank yang sah melalu cara cara cessie paksa dst dsb. Di AS para presiden dari dua partai besar bisa menghargai dan mengakui serta menghormati independensi dan otonomi Gubernur Federal Reserve Alan Greenspan. Di Indonesia gubernur bank sentral adalah kasir yang sangat tergantung dari majikan dalam hal ini presiden RI model Soeharto yang diteruskan oleh penggantinya. Dalam konteks inilah Gus Dur ingin mendrop gubernur yang diangkat oleh Soeharto karena gubernur warisan Orde KKN itu tidak mampu membuang paradigma lama sebagai alat politik partisan. Dalam konteks eksploitasi masalah SARA, manipulasi agama dalam politik dan independensi
lembaga seperti Bank Indonesia dan juga posisi strategis kabinet sekarang ini saya
prihatin dengan kondisi status quo. Inilah sebetulnya sumber segala ketidakstabilan
politik dan keresahan sosial karena elite hanya bermental Machiavelis ingin menguasai
sumber daya melalui metode KKN. Saya melihat Indonesia yang tidak mempunyai elite yang
berwatak ksatria, gentleman dan sportif sebagai kendala memasuki era modernisasi dan
demokratisasi sejati. Kiranya analisis ini dapat menggugah elite puncak kita terutama
mereka yang menjadi kingmaker dan kingnya, supaya tidak terjebak pada perang saudara ala
Sam Kok yang membuat rakyat lebih menderita dan bahkan Indonesia bisa jadi seperti
Tiongkok dizaman Sam Kok, tiga negara saling berperang tidak kunjung henti. |
|
|
Kembali ke halaman depan Kembali ke halaman terbitan lalu |
|