OPINI AUGUST 2000

Surat Dari Jatim

 

DONGENG TENTANG 3 % YANG MENGUASAI 70 %

Dongengan bahwa keturunan Tionghoa di Indonesia yang hanya berjumlah 3 % dari seluruh penduduk, menguasai 70 % ekonomi negara telah tersiar demikian banyaknya di persuratkabaran dunia hingga orang orang yang prihatin pada para korban kekejaman terhadap orang Tionghoa di Indonesia pun percaya.

Menurut hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Dr. George J. Aditjondro, dosen Universitas Newcastle Australia, dongeng tsb berdasarkan buku berjudul “Overseas Chinese Business Networks in Asia” 1995 tulisan Michael Backman seorang pejabat tinggi East Asia Analytical Unit Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Luar Negeri Australia.

Backman telah memperbincangkan kategori “listed firms controlled by market capitalization”. Banyak pembaca tak memperhatikan catatan dibawah halaman (footnote) bahwa didalam kategori tsb tidak termasuk perusahaan yang berada dibawah kekuasaan modal luar negeri maupun perusahaan yang berada dibawah kekuasaan pemerintah. Dengan demikian PT Freeport Inc., pembayar pajak terbesar di Indonesia yang meng-eksploitir gunung tembaga di Papua, tidak ikut diperhitungkan. Begitu pula perusahaan minyak negara Pertamina berikut sepuluh perindustrian strategis yang dahulu dibawah Habibi (a.l. produksi kapal terbang) dan sejumlah besar perusahaan lain, terlebih dahulu dikeluarkan dari daftar ekonomi keseluruhannya. Backman menulis bahwa “Sino-Indonesians control approximately 73 % of listed firms by market capitalization”. Dengan sendirinya lalu timbul pertanyaan pada kami. Bila “listed firms by market economy” hanya merupakan sebagian dari ekonomi Indonesia, berapa besar bagian ini sebenarnya ? Apakah 40 % atau 30 % atau barangkali 20 % dari seluruh ekonomi ? Menjadi 73 % dari kira-kira 40 %, 30 % ataupun 20 % ?

Tulis Michael Backman selanjutnya “At the end of 1993 Sino-Indonesians (who constitute just 3,5 % of all Indonesians) controlled 68 % of the top 300 conglomerates and 9 of the top 10 private sector groups”. Memang betul hanya 1 diantara 10 konglomerat yang paling top, Bimantara Citra, dulu kepunyaan Bambang Trihatmodjo salah satu putera mantan presiden Soeharto. Sisa 9 konglomerat “private sector” ini, menunjukkan nama orang-orang Tionghoa seperti Liem Sioe Liong, Eka Tjipta Widjaja, Prajogo Pangestu dsb. Tetapi atas pertanyaan siapakah yang menguasai 9 perusahaan konglomerat tsb., jawaban Dr.Aditjondro adalah:  a) sekelompok keluarga Tionghoa bersama  b) sekelompok keluarga Pribumi yang terdiri dari keluarga Soeharto dengan 6 anak-anaknya berikut keluarga keluarga Sudwikatmono, Ibrahim Risyad, Bustanil Arifin, Habibi, Probosoetedjo, Tanri Abeng, Akbar Tandjung, Fahmi Idris, Bakrie dsb.

Group Salim dikuasai Liem Sioe Liong sekeluarga berserta sanak saudara jendral Soeharto dan Ibrahim Risyad seorang pengusaha Aceh yang dimasukkan oleh Sudwikatmono, saudara sepupu Soeharto. Di Bank Central Asia (BCA) pangkalan keuangan group Salim, selain Sudwikatmono, Siti Hardijanti Rukmana dan Sigit Hardjojudanto, keduanya anak Soeharto, memegang saham terbanyak. Soeharto turun tachta, BCA bangkrut. Satu perusahaan lain dari group Salim yang menghasilkan banyak uang adalah pabrik tepung Bogasari yang membuat Indonesia menjadi salah satu produsen dan eksportir super-mie terbesar di dunia. Perusahaan ini pegang monopoli impor gandum di Indonesia. Monopoli tsb berpuluhan tahun berada dibawah perlindungan Bulog kantor logistik Indonesia. Mantan letnan-jendral Bustanil Arifin cukup lama mengepalai Bulog. Pada tahun 1977 isteri jendral Bustanil Arifin mendapat 21 % saham Bogasari. Didalam Lembaran Negara tahun 1970 tertulis pabrik tepung Bogasari diwajibkan memberikan 26 % keuntungannya kepada dua yayasan sosial. Satu yayasan dibawah almarhum Ibu Tien Soeharto dan yang lain yayasan dari Kostrad (Komando Strategi Angkatan Darat). Analisa politik-ekonomis serupa dapat dibuat tentang group group Sinar Mas, Danamon, Gajah Tunggal, Astra, Lippo, Dharmala, Barito Pacific dan Ongko, dimana sekelompok keluarga keturunan Tionghoa menguasai perusahaan perusahaannya yang bernaung dibawah pengawasan dan kekuasaan pihak pelindung (Pribumi). Demikian Dr.Aditjondro. Menurut dia “lebih baik disebut saja nama-nama perorangan karena perbedaan antara Tionghoa dan bukan Tionghoa sudah kabur dalam jaringan pemegang saham dan pimpinan yang satu sama lain terjalin erat. Hanya mengulang dongeng tanpa penelitian statistik ekonomi dan perdagangan, menunjukkan kewartawanan perdagangan yang teledor. Ini satu cara yang gampangan serta rasis untuk menyalahkan orang orang Tionghoa yang menjadi korban kekejaman.” Sebutan Backman mengenai 68 % dari 300 konglomerat juga tidak dapat dikatakan menyangkut seluruh minoritas yang sebanyak 7 juta orang, melainkan beberapa ratus keluarga saja.

Salah satu jasa konglomerat yang kurang disadari umum yalah mereka memperkuat negara dalam menghadapi modal raksasa internasional. Banyak negara negara bekas jajahan tidak mampu berdiri tegap dan menjadi bola permainan modal raksasa luar negeri. Kongo yang kaya harta alam dikacaukan. Sierra Leone diperebutkan kekayaan intannya. Afrika parah. Kendatipun Asia lebih kuat, Indonesia disebabkan oleh kelemahannya (misalnya situasi dalam negeri) dan kekayaan alamnya merupakan umpan yang menarik. Para konglomerat berguna sebagai batu-loncatan dalam perombakan struktur kolonial menuju struktur ekonomi dan struktur kekuasaan yang nasional. Juga selanjutnya untuk mengkonsolidasi struktur yang memenuhi jaman, dibutuhkan perusahaan nasional dengan modal besar. Sebelumnya terjadi krisis moneter, Indonesia dan sejumlah negara negara Asia yang lain, terbawa oleh tekanan IMF dan Bank Dunia untuk dalam rangka globalisasi menghapus pengawasan atas modal dan valuta, sedangkan di negara negara ini belum terdapat badan badan yang khusus menilai risiko resikonya. Jatuhnya banyak konglomerat sebetulnya tidak mengherankan. Konglomerat adalah sesuatu yang baru untuk Indonesia. Hampir serupa dengan timbulnya banyak perusahaan internet di Eropa sekarang. Perusahaan internet juga merupakan sesuatu yang baru dan menurut taksiran para ahli, nantinya 70 % bakal jatuh. Hanya 30 % yang akan bertahan.

Sepintas-lalu orang condong percaya pada dongeng 3 % - 70 % yang arti sampingnya (connotation-nya) tidak baik dan ini membawa orang menuju jalan sesat a.l .memperbesar tekad Prabowo dan kawan kawan untuk menghantam orang Tionghoa dan mendorong pelaksanaan rencana pemerkosaan dan penganiaan terhadap orang Tionghoa. Bahwasanya kejahatan serupa juga terjadi terhadap lain golongan golongan di lain tempat  di Indonesia, tidak dapat meremehkan kejadian pertengahan bulan Mai 1998.

Sie Hok Tjwan/Amsterdam/Indonesia Media

Lit.: Majalah Mitra Budaya, Jakarta, bulan Maret 2000.


Anda ingin Berlangganan Indonesia Media?
Klik disini

 


FastCounter by bCentral