OPINI AUGUST 2000

Dongeng tentang 
3% Kuasai 70%

Surat dari Jatim

Salam Sejahtera! Apa Kabar, saya percaya semua baik-baik! Saya mampir di website www.indonesiamedia.com, dan membaca artikel Duta Remaja untuk Kemanusiaan dan Perdamaian. Sungguh, orang yang sudah setua ini sangat terharu dan tak terasa air mata saya menetes tak tertahankan.

Perasan yang bercampur baur menyeruak bergejolak dalam hati saya. Betapa tidak, kesadaran si Nia yang masih belia begitu besar terhadap sesamanya, yang teraniaya, tertindas dan terinjak-injak hak azasinya.

Sedangkan kita yang di sini, yang sebenarnya langsung berkaitan diam seribu bahasa menerima nasib tanpa bisa melakukan apa-apa. Di lain pihak bisa kita lihat kepedulian bangsa lain terhadap kejadian pahit yang dialami bangsa ini, terutama kaum Tionghoanya. Bukan hanya individu-individunya, lembaga-lembaganya bahkan Presidennya pun menyatakan simpati, atas tragedi yang kita alami. Pernahkah setiap kita yang ada di sini merenung apa yang kita pernah lakukan, bagi bangsa ini, negeri ini, dan kaum Tionghoa di Indonesia ini. Dan saya ingin dengan ini menggugah setiap anggota milis T-net ini, yang saya percaya ikut milis ini bukan hanya cari kesenangan, cari teman berdebat ataupun motivasi yang lain, ingat!

Kita seyogyanya membantu mencari jalan keluar/rumusan- bagaimana ikut berpartisipasi memperkecil, bahkan menghilangan kesenjangan yang, mau tidak mau kita harus percaya itu ada. Walau kadang kadang itu dengan sengaja diciptakan. Kita mempunyai hak yang azasi untuk melakukan segala sesuatu sesuai keyakinan kita, dan sebaliknya juga bertanggung jawab, membangun kembali moral bangsa ini yang sudah parah.

Membaca pembicaraan dengan Ibu Negara Hillary yang menganggap Nia sebagai Bunga Bangsa dan begitu menghargai semangat Nia, dan memandang Nia sebagai asset yang sangat berharga bagi bangsa Amerika. Nilai luhur yang bisa menghormati dan menghargai inilah yang perlu kita tiru, bukankah menghargai orang lain artinya menghargai diri sendiri. Baca lagi pembicaraan Staff Protocol Gedung Putih Linda Rubin yang menegaskan hak politik seorang warga negara, yang walaupun Nia belum dewasa, karena semangatnya yang mengagumkan, telah disiapkan segala sesuatu bila Nia telah dewasa, dan berkehendak memasuki dunia politik, luar biasa! Tak heran dengan sejarah yang relatif singkat Amerika telah menjadi super power, negara yang amat sangat diberkati! Karena itu pergunakan hak politik kita untuk bersatu menyuarakan perjoangan kita untuk kesetaraan,  untuk bersama-sama dengan seluruh rakyat Indonesia membangun Indonesia Baru yang beradab dan bermartabat!  

Memang kalau melihat secara umum kelihatannya agak mustahil ! Tapi secara pribadi saya percaya bukan semua orang Indonesia tidak suka kepada kaum Tionghoa, dan kekurang sukaan itupun kalau ada ditimbulkan oleh hasutan-hasutan dengan motif tertentu. Sebaliknya juga kita harus hilangkan apriori kita terhadap saudara-saudara kita lain suku, kalau itu ada. Bantu mereka yang mengalami bencana dan musibah. Tolong mereka yang perlu ditolong. Lakukan sesuatu yang baik terhadap sesama. Dan yang tak kurang pentingnya yah berdoa sesuai keyakinannya masing-masing, mohon Anugerah Tuhan bagi bangsa ini, agar mereka mengenal kebenaran! (Tidak ada satupun agama di Indonesia yang menganjurkan merusak, menjarah, membakar, merampok, memperkosa dan membunuh - inilah kebenaran).

Akhirnya seiring dengan "kemajuan" budaya sekarang, mengapa kata "maaf" begitu mahal-ya! Apa sekarang manusia sudah menganggap dirinya sudah bisa lepas dari kesalahan! Lihat drama Gus Dur di DPR yang kayaknya dipaksa untuk minta maaf, sedangkan yang memaksa minta maaf yalah yang seharusnya minta maaf (Ekky yang membocorkan pembicaraan Gus Dur dengan DPR mengenai alasan pemberhentian dua menteri). Gus Dur dengan besar hati akhirnya minta maaf. (Tapi apa kata Ekky, dengan maaf tidak  berarti segala jadi mulus(Re. Satunet)- apa maunya?) Oh, Ya. Apa Indonesia pernah minta maaf atas peristiwa 13 Mei 1997 ? Atau memang tiada maaf bagimu! Dan sesuai keyakinan saya lebih baik kita memaafkan mereka yang melakukan ini, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat! Selesai! Walaupun demikian saya harap apa yang sudah lewat bisa menjadi pelajaran bagi kita, untuk tidak diam terus. Tapi untuk "Not again" atau "Never again", kita masih harus bekerja keras, bersatu, bangkit, pandang kedepan, pakai hak dan tanggung jawab kita untuk membuat segala sesuatu lebih baik bagi seluruh Bangsa Indonesia!

Terima kasih & Jabat erat,

Rachmad Herlambang


Anda ingin Berlangganan Indonesia Media?
Klik disini

 


FastCounter by bCentral