|
|
|
|
||||
| OPINI | AUGUST 2000 | |||||
|
Surat dari Jatim Salam Sejahtera! Apa Kabar, saya percaya semua baik-baik!
Saya mampir di website www.indonesiamedia.com,
dan membaca artikel Duta Remaja untuk Kemanusiaan dan Perdamaian. Sungguh,
orang yang sudah setua ini sangat terharu dan tak terasa air mata saya
menetes tak tertahankan. Perasan yang bercampur baur menyeruak bergejolak dalam hati
saya. Betapa tidak, kesadaran si Nia yang masih belia begitu besar
terhadap sesamanya, yang teraniaya, tertindas dan terinjak-injak hak
azasinya. Sedangkan kita yang di sini, yang sebenarnya langsung
berkaitan diam seribu bahasa menerima nasib tanpa bisa melakukan apa-apa.
Di lain pihak bisa kita lihat kepedulian bangsa lain terhadap kejadian
pahit yang dialami bangsa ini, terutama kaum Tionghoanya. Bukan hanya
individu-individunya, lembaga-lembaganya bahkan Presidennya pun menyatakan
simpati, atas tragedi yang kita alami. Pernahkah setiap kita yang ada di
sini merenung apa yang kita pernah lakukan, bagi bangsa ini, negeri ini,
dan kaum Tionghoa di Indonesia ini. Dan saya ingin dengan ini menggugah
setiap anggota milis T-net ini, yang saya percaya ikut milis ini bukan
hanya cari kesenangan, cari teman berdebat ataupun motivasi yang lain,
ingat! Kita seyogyanya membantu mencari jalan keluar/rumusan-
bagaimana ikut berpartisipasi memperkecil, bahkan menghilangan kesenjangan
yang, mau tidak mau kita harus percaya itu ada. Walau kadang kadang itu
dengan sengaja diciptakan. Kita mempunyai hak yang azasi untuk melakukan
segala sesuatu sesuai keyakinan kita, dan sebaliknya juga bertanggung
jawab, membangun kembali moral bangsa ini yang sudah parah. Membaca pembicaraan dengan Ibu Negara Hillary yang
menganggap Nia sebagai Bunga Bangsa dan begitu menghargai semangat Nia,
dan memandang Nia sebagai asset yang sangat berharga bagi bangsa Amerika.
Nilai luhur yang bisa menghormati dan menghargai inilah yang perlu kita
tiru, bukankah menghargai orang lain artinya menghargai diri sendiri. Baca
lagi pembicaraan Staff Protocol Gedung Putih Linda Rubin yang menegaskan
hak politik seorang warga negara, yang walaupun Nia belum dewasa, karena
semangatnya yang mengagumkan, telah disiapkan segala sesuatu bila Nia
telah dewasa, dan berkehendak memasuki dunia politik, luar biasa! Tak
heran dengan sejarah yang relatif singkat Amerika telah menjadi super
power, negara yang amat sangat diberkati! Karena itu pergunakan hak
politik kita untuk bersatu menyuarakan perjoangan kita untuk kesetaraan,
untuk bersama-sama dengan seluruh rakyat Indonesia membangun
Indonesia Baru yang beradab dan bermartabat! Memang kalau melihat secara umum kelihatannya agak mustahil
! Tapi secara pribadi saya percaya bukan semua orang Indonesia tidak suka
kepada kaum Tionghoa, dan kekurang sukaan itupun kalau ada ditimbulkan
oleh hasutan-hasutan dengan motif tertentu. Sebaliknya juga kita harus
hilangkan apriori kita terhadap saudara-saudara kita lain suku, kalau itu
ada. Bantu mereka yang mengalami bencana dan musibah. Tolong mereka yang
perlu ditolong. Lakukan sesuatu yang baik terhadap sesama. Dan yang tak
kurang pentingnya yah berdoa sesuai keyakinannya masing-masing, mohon
Anugerah Tuhan bagi bangsa ini, agar mereka mengenal kebenaran! (Tidak ada
satupun agama di Indonesia yang menganjurkan merusak, menjarah, membakar,
merampok, memperkosa dan membunuh - inilah kebenaran). Akhirnya seiring dengan "kemajuan" budaya
sekarang, mengapa kata "maaf" begitu mahal-ya! Apa sekarang
manusia sudah menganggap dirinya sudah bisa lepas dari kesalahan! Lihat
drama Gus Dur di DPR yang kayaknya dipaksa untuk minta maaf, sedangkan
yang memaksa minta maaf yalah yang seharusnya minta maaf (Ekky yang
membocorkan pembicaraan Gus Dur dengan DPR mengenai alasan pemberhentian
dua menteri). Gus Dur dengan besar hati akhirnya minta maaf. (Tapi apa
kata Ekky, dengan maaf tidak berarti
segala jadi mulus(Re. Satunet)- apa maunya?) Oh, Ya. Apa Indonesia pernah
minta maaf atas peristiwa 13 Mei 1997 ? Atau memang tiada maaf bagimu! Dan
sesuai keyakinan saya lebih baik kita memaafkan mereka yang melakukan ini,
karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat! Selesai! Walaupun
demikian saya harap apa yang sudah lewat bisa menjadi pelajaran bagi kita,
untuk tidak diam terus. Tapi untuk "Not again" atau "Never
again", kita masih harus bekerja keras, bersatu, bangkit, pandang
kedepan, pakai hak dan tanggung jawab kita untuk membuat segala sesuatu
lebih baik bagi seluruh Bangsa Indonesia! Terima kasih & Jabat erat, Rachmad Herlambang |
Anda ingin
Berlangganan Indonesia Media?
|
|||||
|
|
||||||