|
|
|
|
||||||||
|
APRIL 2000 |
|||||||||
| BERITA TANAH AIR LOCAL NEWS MANCA NEGARA OPINI BUDAYA&TRADISI IMMIGRATION TOKOH ENGLISH KOMIK AMRIK HEMAT & NIKMAT JENAK JENAKA PENGALAMAN ROHANI FAMILI & PARENTING |
Imigran
Toronto 1
Keputusan
Untuk Pindah Dengan
menuliskan pengalaman-pengalaman saya menjadi imigran, baik pengalaman
negatif maupun pengalaman positif, pengalaman suka maupun duka, bahagia
atau susah, saya berharap Anda mendapat informasi yang lebih lengkap dan
seimbang. Dengan menceritakan pengalaman tinggal di kota terpilih nomor 1
di dunia, semoga Anda mendapat perspektif yang lebih baik seperti apa 'a
city that works', kota yang layak dihuni. Membagikan pengalaman duka atau
susah akan membuat Anda maklum bahwa salib ada dimana-mana dan tidak ada
yang namanya surga di dunia. Jadi saya berharap bahwa tayangan pengalaman
hidup saya ini akan bermanfaat baik bagi mereka yang memutuskan tinggal
untuk seumur hidup di tanah air, yang sedang dalam proses pikir-pikir
maupun yang sudah memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Demikian pula
bagi mereka yang merasa tidak akan pernah memperoleh kesempatan pindah,
Anda masih tetap dapat membuat lingkungan hidup Anda seperti wadi di
padang pasir bila Anda merasakan kepanasan gurun sedang melanda tempat
tinggal Anda. Seperti baru saja saya katakan, perintah Kristus: kasihilah
sesamamu manusia, 'love your neighbour', berlaku dimana saja tidak peduli
Anda tinggal di Betawi atau di Toronto. Nah, sudah ada yang berkata,
"Eh lalu kenape elu pindah dong jus?" :-) Begini jawabannya. Ada
3 faktor utama yang ingin saya kemukakan kali ini. Yang pertama adalah
"wangsit" yang saya sempat terima yang ternyata terbukti benar,
bahwa akan semakin gawatnya mutu pemerintahan ataupun suasana politis di
Indonesia. Yang kedua adalah kesempatan pendidikan bagi anak-anak. Seperti
Anda ketahui, saya minoritas ganda. Sudah keturunan Tionghoa, beragama
Katolik lagi. Banyak pengalaman saya, di antaranya pengalaman traumatis di
dalam mencoba mengenyam pendidikan tinggi di Indonesia sebagai warga
keturunan Tionghoa dan saya berusaha agar anak saya tidak pernah
mengalaminya. Perasaan saya bahwa mutu pendidikan ataupun kesempatan untuk
mengenyam pendidikan bagi kaum minoritas akan semakin turun dan berkurang,
ternyata benar pula. Kasihan keluarga-keluarga tidak mampu di Jakarta
(saya tak tahu kota lainnya) yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah
yang baik. Seperti juga mungkin Anda masih ingat, saya pernah bercerita
bahwa bagi saya, bila saya ingin agar generasi anak-cucu saya menjadi
bangsa Indonesia "tulen", terutama karena ingin
"menyesuaikan diri" dengan sikap politik pemerintahan ataupun
"pemimpin bangsa" terhadap warga keturunan Tionghoa, saya perlu
membaur. Saya sudah tidak dapat "memilih" lagi asal muasal saya,
tetapi saya dapat memilih untuk menikahi gadis pribumi. Ibu saya menolak
mentah-mentah gagasan, usaha dan upaya saya, serta di beberapa kesempatan
"menyabotnya". Namun saya tidak pernah menyesali diri bahwa saya
ataupun keluarga saya toh akhirnya keluarga keturunan yakni dengan saya
menikahi Cecilia anak Tionghoa juga. Yang ketiga, mungkin jiwa petualangan
saya yang kuat dan bersemangat untuk "jalan-jalan keliling
dunia" terutama tinggal di negeri berkebudayaan Barat. Bila Anda
masih ingat PAB I, ini hasil "pendidikan" jalan-jalan naik trem
keliling kota. Sedikit menyimpang, waktu saya tinggal selama 3 bulan di
Hong Kong, kesenangan saya yang utama adalah naik trem dari ujung barat,
Kennedy Town, ke Shau Kei Wan di ujung timur. Demikian pula kalau saya
ditugaskan ke luar kota atau negeri, kesenangan saya adalah mencuci mata
sambil melancong. Sudah
saya coba jelaskan mengapa saya memutuskan untuk pindah. Memang saya
beruntung mempunyai pilihan, selain untuk pindah, juga kemana. Mengapa
saya memilih Toronto, Canada dan bukannya negeri lain? Yang terutama,
karena saya pernah ditugaskan oleh kantor kesini selama kira-kira 3
mingguan sewaktu saya masih bekerja di Jakarta. Waktu pertama kali datang
ke kota ini dan sempat tinggal sebentar, saya "jatuh cinta".
Tentu saya ceritakan panjang lebar semua pengalaman saya kepada Cecilia
dan kami lalu mulai berdialog dan berdiskusi mengenai apa untung ruginya
kami pindah. Untuk memudahkan pengambilan keputusan, kami membuat suatu
'decision making table' yang isinya untung ruginya pindah, pro dan kontra,
dimana tiap hal kami berikan angka serta 'weighting factor'. Jadi
keputusan kami berdua lalu banyak memakai logika dan tidak hanya emosi
sebab tabel ini kami perbarui dan analisa dari waktu ke waktu. Proses
menjadi imigran memang tidak mudah dan cukup panjang, sekitar 2 tahunan.
Selama masa itu, terutama bila menghadapi aral, kami selalu berkata satu
sama lain dan tentu berdoa, bila Ia berkenan, terjadilah. Dengan prinsip
seperti itu, lalu tidak pernah kami merasakan stress berat atas prospek
meninggalkan seluruh keluarga kami yang kami kasihi dan juga tanah airku
yang kucintai. Memang stress sedikit memuncak pada saat visa dan tiket
sudah di tangan tetapi nanti akan saya ceritakan lagi deh hari-hari
terakhir saya di bumi pertiwi. Di
dalam masa 2 tahun itu, sebetulnya saya juga mempunyai pilihan untuk
pindah atau tinggal di USA, tepatnya New York City. Ada satu perusahaan
yang bersedia mensponsori saya sehingga saya dapat memperoleh ijin kerja
dengan kemungkinan besar mendapat apa yang namanya 'green card' atau ijin
menetap di Amerika Serikat. Ada 2 faktor yang membuat saya memilih
Toronto. Waktu pertama kali melihat New York City (saya naik bis dan
subway kesitu), saya, anak Betawi yang santai-santai saja melanglang
daerah rawan seperti Pasar Senen atau Pasar Koja di Tanjung Priok, merasa
tercekam. Saya tidak bisa santai. Waktu saya pertama kali sampai di
Toronto, saya sangat tercengang, maklum habis melihat kota-kota besar di
USA. Bersihnya bukan alang kepalang, tak kalah dengan Singapore dan yang
lebih penting, penduduknya sungguh ramah-ramah. Saya tidak merasa seperti
orang asing di tengah penduduk kota metropolitan ini dimana tinggal
ratusan suku bangsa dan kelompok etnis dari seluruh dunia. Jadi pertama,
kota ini seperti wadi di padang pasir bagi saya dan kedua, penduduknya
membuat saya merasa sangat sreg. Masih ada satu dua alasan lainnya mengapa
saya memilih Toronto, bukannya Ottawa atau Montreal atau Vancouver. Yakni
karena saya merasa yakin saya dapat mencari nafkah atau akan ada lowongan
kerja di suatu perusahaan di kota ini bagi saya. Juga saya mempunyai
seorang sahabat, kenalan saya waktu sama-sama bekerja di suatu perusahaan
di Jakarta. Nah,
cukup sekian tayangan PIT yang pertama ini, bagaimana mulanya si anak
Betawi menjadi sinyo Toronto :-). Dari keinginan untuk pindah karena
alasan-alasan di atas, sampai mengapa saya memilih kota ini. Keputusan
bersama di atas sangat amat penting nilainya, terutama di saat-saat atau
di tahun-tahun pertama saya dan Cecilia menjalani hidup baru di Toronto.
Seperti saya singgung di tayangan PAB, dukungan Cecilia kepada saya selalu
200% dan itu salah satu kuncinya "canoe" kami tidak sampai
kandas atau tenggelam di "danau" Toronto. Sampai berjumpa di
tayangan PIT seri kedua, dimana saya akan bercerita mengenai proses
melamar jadi imigran dan hari-hari terakhir di tanah air. Salam dari
Toronto.
|
Anda ingin
Berlangganan Indonesia Media?
|
||||||||
|
FastCounter by bCentral |
||||||||||