BERITA TANAH AIR
 LOCAL NEWS
 MANCA NEGARA
 OPINI
 BUDAYA&TRADISI
 IMMIGRATION
 TOKOH
 ENGLISH
 KOMIK
 AMRIK
 HEMAT & NIKMAT
 JENAK JENAKA
 PENGALAMAN
 FAMILI & PARENTING

 

Memang terasa menyakitkan kalau kita mengungkapkan maslah SARA, namun demi kemajuan Indonesia, kami bersama harus melakukannya
Dr. Karlina Leksono (Ketua "Ibu Peduli")

Mengenang Kembali "May Riot '98"

Bagi saya, dosa dan kesalahan saya adalah sama besarnya dengan para pelaku kejahatan itu, bila saya biarkan kejadian  ini tak terberitakan dan tak tersiarkan.

Dua tahun telah berlalu, namun kejadian yang sangat menyedihkan pada May Riot '98 terasa masih belum mengendap. Dapatkah kami lupakan? Mungkin pertanyaannya lebih baik diucapkan sebagai,"Haruskah kita melupakannya". Banyak orang yang dimintakan pendapatnya menyatakan pada umumnya, "Kami harus memperingatinya secara berkesinambungan, karena ini adalah sejarah yang tidak ingin kami ulangi"

Dari hasil dengar pendapat yang sempat kami kutip dari beberapa orang yang kami anggap bijaksana dan cukup aktif dikalangan masyarakat, kami simpulkan bahwa May Riot '98 adalah kejadian besar yang akan menjadi titik tolak dari perkembangan Demokrasi di Indonesia, dan May Riot '98 diramalkan akan menjadikan Indonesia menuju ke peringkat negara demokrasi yang beradab. Karena dengan memperingatinya setiap tahun maka kami senantiasa diingatkan untuk mencegah hal itu terulang lagi. Sama analoginya dengan peringatan Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki, The Rape of Nanking dan Holocaust. Maksudnya adalah jangan terulang lagi! Dengan adanya peringatan semacam ini janganlah diartikan sebagai pengungkap dendam, atau menciptakan rasa kebencian diantara kita. Tapi hendaknya dimaklumkan sebagai suatu hikmah agar kami meluangkan waktu untuk merenungkan kembali mengapa hal itu bisa terjadi, langkah langkah apa yang patut dilakukan dan tindakan apa yang harus dicegah agar kejadian itu dapat dihentikan dan tak terulang lagi, karena kenyataannya kekerasan dan kebiadaban masih saja berlangsung sampai hari ini (kerusuhan Poso, Sulawesi 17 - 19 April ,2000). Tidak cukup hanya dengan berdoa dan menyumbangkan uang atau materi untuk mengatasi masalah Indonesia, kita harus berbuat sesuatu yang sehat, dan bukan dengan jalan kekerasan seperti membangun laskar perang. Usaha ini tidak bisa dilakukan oleh satu dua orang tapi harus diikuti semua orang secara kolektif. Maka wahai masyarakat Indonesia jika benar benar Kalian Cinta Indonesia!, Kalian Sayang Indonesia!, marilah kita bangkit bersama dan kerjakan bersama niscaya  kami semua dapat hidup rukun dalam keharmonisan.

Manusia dilahirkan dengan insting dasarnya, dinamika manusia dipenuhi oleh rasa emosi, iri dengki, sedih, senang dan pemangsa. Namun manusia adalah mahluk yang mempunyai akal budi. Dengan menggunakan akal budinya dalam proses belajar dan mengingat, maka akan terbentuklah manusia yang dapat menahan hawa nafsu, iri dengki dan sifat-sifat biadabnya. Pada akhirnya akan tercipta manusia yang berperadaban tinggi yang hidup dan berkarya dinegara yang makmur dan terhormat.

Negara yang maju adalah negara yang banyak belajar dari sejarah.

Dalam peringatan May Riot'98 kali ini kami tampilkan sebuah surat yang ditulis oleh seorang pemuda asal Indonesia dan dibesarkan di Los Angeles, California. Dia sangat tergugah hatinya ketika mendengar kejadian May Riot '98 dan dengan spontan menulis kepada Presiden Bill Clinton. Suratnya dibalas langsung oleh Bill Clinton (terlampir). Troy Handojo adalah putera dari Jim dan Bernadette The yang tinggal di Los Angeles , California. Kami yakin Pak Jim The dan Ibu Bernadette The, telah berhasil mendidik anaknya dengan sukses, karena tanpa bekal pengetahuan Budi Pekerti dan rasa tanggung jawab tinggi tak mungkin Troy melakukan hal semacam ini. Ternyata surat senada bukan saja ditulis oleh Troy , tapi juga saudara perempuannya yang bernama Angelique Handojo menulis yang sama. Berbanggalah keluarga The, dan Tuhan selalu berkati.

Mungkin tidak sedikit orang yang menulis surat kepada para pemimpin pemimpin kelas dunia saat itu dengan maksud sama. Untuk itu kami himbau kepada siapa saja yang pernah melakukan hal yang serupa, bila ingin dipublikasikan silahkan mengirimkannya ke meja redaksi . Tidak ada istilah terlambat, karena setiap tahun kami akan senantiasa memperingatinya. Surat Troy kepada Bill Clinton kami muat dalam 2 versi bahasa (Indonesia dan English) . Untuk versi English dapat diikuti di halaman English section.

DI/Indonesia Media

Orang tua saya menceritakan kejadian dari seorang wanita yang di perkosa beramai-ramai dihadapan keluarganya sendiri. Mereka juga membicarakan tentang bagaimana korban-korban itu dijebak didalam rumah dan dibakar sampai terpanggang mati. Mereka menceritakan foto -foto dari para wanita yang tubuhnya disiksa dan dirusak. 

Troy Handojo
Los Angeles, California
July 26, 1998

President Bill Clinton
1600 Pennsylvania Avenue
Washington D.C. 20500

President Clinton,

Setiap hari saya berterimakasih pada Tuhan bahwa saya tinggal di Amerika. Saya merasa sangat beruntung saya berada di negara yang dimana saya dapat berikhtiar tanpa batas. Bangsa ini (Amerika) dibentuk berdasarkan nurani dari kebebasan, hukum, dan hak asasi manusia adalah teramat penting dan harus dilindungi. Tidak seperti di Indonesia, menyusul krisis ekonomi di Indonesia, orang orang bumiputera mencari kambing hitam dari mereka yang lemah. Mereka temukan itu di warga etnis Tionghoa. Setelah bulan Mei 1888 banyak laporan mengenai kebiadaban serangan terhadap Tionghoa Indonesia. Dimulai dari penjarahan toko toko, ancaman kekerasan, serangan phisik, perkosaan, dan pembunuhan yang brutal. Serangan itu dilakukan oleh preman yang terorganisir dengan dugaan keras melibatkan anggota polisi dan angkatan darat. Para perusuh itu menyerang korbannya orang Tionghoa dan Kristiani dengan keyakinan karena mereka adalah Tionghoa dan Kristiani, maka mereka layak untuk dibunuh.  

Selaku pendatang asal Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat, saya selalu merasa bangga akan Indonesia. Saya menganggap diri saya sebagai Indonesian-American dan memperkenalkan keindahan Indonesia dan budayanya kepada semua orang. Betapa naifnya saya, setelah saya berkembang dewasa, saya menyadari kenyataan yang ada dibalik pemerintahan Indonesia, orang-orangnya, dan sejarahnya. Telah menjadi kenyataan bahwa selama ini pemerintah tercatat mempunyai sejarah KKN yang sangat panjang. Tidak seperti warga negara yang lain, Tionghoa-Indonesia telah sekian lamanya menjadi sasaran diskriminasi. Pada tahun 1960an, pemerintah Indonesia mengharuskan Tionghoa -Indonesia mengganti nama mereka agar kedengarannya lebih "Indonesia" untuk mendapatkan kewarganegaraan Indonesia, ini hanya untuk calon WNI keturunan Tionghoa. Orang Tionghoa tidak diijinkan  melakukan praktek kebudayaanya dan perayaan keagamaannya. Tionghoa dilarang mengunakan bahasanya di publik. Larangan ini hanya ditujukan kepada orang Tionghoa dan tidak untuk warga yang berlatar belakang etnis lainnya. Sudah sekian lamanya berlangsung dan sampai saat ini masih terjadi secara sistematik perlakuan rasis terhadap warga negara Indonesia yang beretnis Tionghoa. Terakhir ini kebencian itu telah bermanifestasi sebagai kekerasan fisik. Kebanggaan saya terhadap Indonesia telah berubah menjadi suatu rasa kehinaan dan aib.

Orang tua saya menceritakan kejadian dari seorang wanita yang di perkosa beramai-ramai dihadapan keluarganya sendiri. Mereka juga membicarakan tentang bagaimana korban-korban itu dijebak didalam rumah dan dibakar sampai terpanggang mati. Mereka menceritakan foto-foto dari para wanita yang tubuhnya disiksa dan dirusak. Dari tubuh tubuh yang terbakar jadi arang ada anggota keluarga yang saling berpelukan saat mereka melepaskan ajalnya. Saya tak sanggup melihat foto foto semacam itu. Mengapa saya tak mau melihat gambar itu? Apakah karena saya takut menjadi tak berperasaan terhadap kekerasan? Apakah saya mau menghindar dari kenyataan? Untuk saya, tidaklah sulit untuk tak ambil pusing terhadap kenyataan itu, karena saya berada sangat jauh dari tempat kejadiannya. Namun saya tidak akan tenang dan hanya duduk saja, dan berpikir seolah hal itu tidak pernah terjadi.Bagi saya, dosa dan kesalahan saya adalah sama besarnya dengan para pelaku kejahatan itu, bila saya biarkan kejadian  ini tak terberitakan dan tak tersiarkan.

Apa yang akan kita lakukan apabila mereka yang melakukan kejahatan itu adalah seorang yang sedang berkuasa? Apa yang harus kita lakukan apabila masyarakat luas membiarkan perbuatan keji ini? Apa yang kita perbuat, apabila perbuatan ini berlalu tanpa menghukum pelakunya? Apa yang dapat saya lakukan untuk ini? Jawaban yang sejujurnya adalah, "Saya tidak tahu dan sebagai individu saya tidak kuasa berbuat sesuatu untuk ini!" saya tak dapat meyakinkan pemerintah Indonesia untuk mengutuk kejahatan seperti ini. Saya tidak bisa pergi ke Indonesia mencegah serangan yang ditujukan ke korban. Untuk ini dibutuhkan suatu usaha kolektif dari banyak orang bagi penyelesaian masalah ini. Saya percaya tindakan pertama adalah penyebaran berita ini sebanyak banyaknya dan seluas luasnya. Untuk mengumumkan kepada masyarakat internasional bahwa perbuatan biadab ini memang sungguh terjadi, dan menyerukan kepada mereka untuk mengutuk sikap apatis dari pemerintah Indonesia karena tidak berbuat sesuatu untuk menghentikannya.  

Tuan Presiden, sebagai pimpinan dari dunia kebebasan, saya serukan kepada Anda untuk menyebar luaskan informasi ini dikalangan orang Amerika, dan mengutuk kejahatan ini terhadap asas asas kemanusiaan.

Hormat saya,
Troy Handojo

 

Klik Disini
Untuk Membaca Surat Balasan Presiden Clinton


FastCounter by bCentral