NextCard Visa
Join All Advantage Now!



CDnow


 

Kisah Sedih Jadi TKW di Malaysia

Ulah Agensi, yang Resmipun Jadi 'Gelap'


BEKAS LUKA: Korianah, TKI asal Desa Gondang, Subah, Batang, didampingi pamannya Khodirin menunjukkan bekas luka siraman air panas yang dilakukan bekas majikannya di Selangor, Malaysia. (Foto: Suara Merdeka/ar-15)

KISAH sedih mengenai tenaga kerja wanita (TKW) dan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri sering muncul, dan kemudian menjadi urusan pemerintah. Melati (24), bukan nama sebenarnya, wanita asal Patebon, Kendal, yang pernah menjadi TKW di Malaysia mengirimkan tulisan ke Redaksi mengenai pengalaman pahitnya menjadi TKW di Negeri Jiran itu. BANYAK tulisan ataupun berita yang menulis tentang kejadian penganiayaan, pemerkosaan, dan sejenisnya yang menimpa para TKW/TKI di luar negeri. Bahkan di Malaysia, TKI resmi pun tiba-tiba bisa menjadi TKI gelap atau pendatang haram. Banyak perlakuan para majikan dan agensi tenaga kerja, khususnya agensi salah satu etnis tertentu yang tidak berperikemanusiaan terhadap TKW Indonesia. Banyak TKW kita yang dianiaya oleh agensi hanya karena mereka tidak betah bekerja di salah satu majikan. Mereka dianiaya sampai ada yang tidak bisa berjalan, ada yang setengah gila, dan lain-lain. Itu terjadi di salah satu agensi di Ampang, Kuala Lumpur. Mereka terbanyak adalah para TKW dari Jatim dan Jateng. Penulis sendiri sudah berusaha melaporkan kejadian itu kepada Kedutaan Besar RI tapi sampai saat ini belum tahu perkembangannya, apakah agensi itu sudah diselidiki atau belum. Dan itu mungkin menjadi penyebab bertambah banyaknya ''pendatang haram'' di Malaysia. Ini karena sebagian dari mereka memilih lari tanpa paspor daripada kembali ke agensi tetapi membahayakan jiwa mereka, apabila mereka tidak betah kerja di salah satu majikan. Dari perusahaan pengerah tenaga kerja di Indonesia atau di Jawa khususnya, mereka menawarkan gaji 350 ringgit dengan potongan 4-6 bulan gaji. Para agensi biasanya membuat kontrak yang harus ditandatangani TKW dengan perjanjian sebagai berikut: pakaian luar dan pakaian dalam serta handuk disediakan majikan. Begitu pula perlengkapan mandi disediakan majikan, makan 3 kali sehari, potongan gaji 4 bulan. Tiap bulan harus mengirimkan uang ke Indonesia makasimal 100 ringgit. Tapi sangat jarang perjanjian itu dipenuhi oleh majikan, bahkan ada yang semuanya beli sendiri, makan pun ada yang hanya 2 kali dalam sehari.  Tertipu Banyak TKW ditipu secara tidak langsung oleh para majikan. Para majikan yang mempunyai bisnis di luar rumah misalnya pabrik, restoran, salon, dan toko cenderung memanfaatkan tenaga mereka untuk bekerja 2 kali lipat dengan gaji masih tetap 350 ringgit dengan risiko akan dideportasi oleh imigrasi Malaysia. Menurut undang-undang imigrasi Malaysia, TKI/TKW yang bekerja di luar rumah (bukan pembantu-Red) dikenakan biaya permit 1.000 ringgit - 3.000 ringgit Malaysia karena gaji mereka rata-rata 1.000 ringgit - 5.000 ringgit. Karena permit berlaku 1 tahun, sedangkan para TKW Indonesia yang ''dimanfaatkan'' dengan gaji hanya 350 ringgit. Permit mereka sebagai pembantu rumah tangga. Apa sebenarnya tujuan dari PJTKI di Indonesia? Mereka mengirimkan TKW untuk pembantu rumah tangga atau sektor lain? Sedangkan yang masyarakat tahu, untuk rumah tangga, bukan yang lain. Apakah TKW dihargai sangat murah atau memang untuk memeras? Kalau dibandingkan dengan Filipina, para TKW Indonesia sangatlah jauh berbeda. Perbedaan itu antara lain: TKW Indonesia gaji 350 ringgit/bulan dengan bekerja di rumah atau di tempat bisnis majikan, sedangkan TKW Filipina bergaji 500-600 ringgit, hanya khusus bekerja di rumah tangga. TKW kita harus membeli kebutuhan sehari-hari, sedangkan yang dari Filipina sudah dipenuhi majikan. Di samping itu mereka sangat jarang, bahkan tidak dibekali alamat Kedutaan Besar RI atau alamat-alamat selain agensi yang harus mereka hubungi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka yang lapor kepada polisi atau meminta pertolongan polisi, selalu dianggap pendatang haram padahal mereka mempunyai paspor atau visa yang sah.  Dengan kata lain, polisi ''mundur'' apabila harus berhadapan dengan majikan dari etnis tertentu itu. Karena mungkin ''uang'' adalah hukum, semuanya uang yang menentukan nasib. Sedangkan bagi para TKI gelap yang sudah sering pulang-pergi ke Malaysia-Indonesia merasa tidak pernah takut atau kapok atau trauma walaupun mereka pernah tertangkap dan masuk ke kamp Malaysia. Bagi mereka tertangkap atau tidak adalah tantangan. Karena selalu ada harapan bagi mereka (yang punya uang).  Bagi mereka yang tidak punya uang harus siap dideportasi. Sebab, sesampai mereka di penjara (Kamp Deportasi) mereka bisa bebas dan masuk Malaysia dengan jaminan uang 2.000 ringgit (Rp 4 juta). Yang membuat penulis berpikir dan bertanya, jaminan uang 2.000 ringgit untuk Pemerintah Malaysia atau ''orang dalam''? Langkah Pemerintah Malaysia ingin memberantas atau TKW gelap adalah sesuatu yang menguntungkan bagi ''orang dalam''. Buat apa Pemerintah Malaysia dan imigrasi mengadakan operasi TKI gelap kalau akhirnya mereka bisa masuk Malaysia secara gelap juga? Yang harus disalahkan Pemerintah Malaysia atau Pemerintah Indonesia? Jalan di Rawa Para TKI gelap ini biasanya ikut bujukan para tekong yang berasal dari Sumatera. Biasanya para tekong ini mempunyai perwakilan terbanyak di Surabaya, Jatim. Mereka merekrut para TKI gelap dari Madura, Banyuwangi, dan sekitarnya. Mereka diharuskan membayar Rp 2,2 juta tanpa paspor, sedangkan Rp 3,5 juta dengan paspor. Biasanya mereka diberangkatkan dari Surabaya menuju Dumai 1 - 2 kali dalam sebulan. Di Dumai mereka ditampung di sebuah rumah, kemudian sekitar pukul 22.00 - 24.00 malam mereka diantar ke pantai pasir putih (bukan pelabuhan). Di situ ada perkemahan khusus untuk menunggu kapal datang. Sekitar pukul 01.00 - 02.00 dini hari, mereka naik kapal menuju Malaysia. Selama 4 - 6 jam mereka menyeberang, kemudian mereka diturunkan di sebuah rawa-rawa berlumpur selutut. Mereka harus berjalan ke tepi rawa yang tidak lain adalah hutan, kurang lebih selama 10 - 15 menit. Sesampai di hutan mereka harus bersembunyi, menghindari polisi hutan yang berpatroli. Kalau bernasib jelek mereka ditangkap dan dibawa ke kamp, bahkan ada yang dipukuli. Kalau bernasib baik, mereka lolos dan bisa keluar dari hutan menuju jalan raya.  Di situ sudah menunggu sebuah truk yang akan mengangkut mereka ke Kuala Lumpur. Biasanya mereka berjumlah 40 - 60 orang. Mereka akan diantar ke ''Kampung Pandan'' Kuala Lumpur. Di situlah mereka mencari nasibnya. Sedangkan mereka yang dideportasi ke Indonesia (para TKI-Red), ada pihak-pihak tertentu yang mengambil kesempatan. Mereka akan ''panen uang''. Pihak-pihak tertentu ini bekerja sama dengan tekong. Para tekong inilah yang menawarkan jasa untuk mengantar para korban deportasi dengan biaya Rp 700.000 - Rp 1 juta sampai rumah.  Bagi mereka yang tidak sanggup membayar, kemungkinan akan ''dijual'' ke Malaysia lagi dengan sistem tanpa gaji dan hanya mendapat makan. Dengan adanya tulisan ini, penulis berharap pihak yang bersangkutan bisa mengambil hikmah dan keputusan apa yang terbaik bagi para TKI resmi atau TKI gelap, para PT TKW dan para tekong-tekong yang mungkin masih berkeliaran mencari mangsa. Janganlah sesama bangsa Indonesia tega menjual bangsa sendiri untuk keperluan pribadi. Nasib Tahanan Banyak juga kejadian yang ada di kamp deportasi Melaka yang harus diketahui masyarakat. Para TKI gelap yang masuk ke kamp deportasi Melaka bukan hanya dari Indonesia, terbanyak memang dari Indonesia. Selain itu ada yang dari Thailand, Filipina, Bangladesh, Pakistan, Myanmar, dan India. Mereka rata-rata dengan kesalahan: masa tinggal habis, tidak ada permit, dan lain-lain. Perlakuan polisi Malaysia banyak yang tidak berperikemanusiaan, bahkan cenderung ada yang ''mengemis''. Polisi Malaysia selalu meminta uang kepada para tahanan, bila ditolak tamparan yang akan diterima. Ada juga polisi Malaysia yang ngembat barang milik tahanan yang dititipkan, misalnya cincin, giwang dan kalung. Sedangkan para MO (tentara-Red) menggunakan kesempatan ''mencicipi tubuh'' para tahanan bagi mereka yang mau. Atau membagi cinta sesaat. Ada juga salah satu polisi wanita bernama Salinah yang menggunakan kesempatan merampas barang-barang milik tahanan untuk dijual atau dimiliki sendiri dengan dalih undang-undang Pemerintah Malaysia. Padahal polisi lainnya tidak seperti itu. Bahkan hanya karena ingin merampas uang, Salinah tega menelanjangi tenaga kerja gelap asal Myanmar, bahkan pernah menganiaya TKI gelap asal Jawa Timur. Bukan hanya itu, salah satu polisi kamp lainnya juga pernah menganiaya TKI gelap asal Madura dengan potongan besi, hanya karena masalah sepele. Ada juga tenaga kerja gelap asal Bangladesh dan Pakistan yang dianiaya. Dan, masih banyak cerita sedih yang lain.(IM)

 
         
       
FastCounter by bCentral