BERITA TANAH AIR
 LOCAL NEWS
 MANCA NEGARA
 OPINI
 BUDAYA&TRADISI
 IMMIGRATION
 TOKOH
 ENGLISH
 KOMIK
 AMRIK
 HEMAT & NIKMAT
 JENAK JENAKA
 PENGALAMAN
 FAMILI & PARENTING

Indonesia Menjadi Korban Pemerkosaan di Brunei Darussalam

Bandar Seri Begawan, 24/3 (ANTARA) - Seorang tenaga kerja wanita (Nakerwan) Indonesia asal Sukabumi, Nn (28) baru-baru ini telah menjadi korban tindak kejahatan pemerkosaan, di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.

Pelaku tindak kejahatan tersebut, menurut rekannya Yuli Artiyani kepada ANTARA di Bandar Seri Begawan, Jumat, adalah tenaga kerja asal Bangladesh, yang hingga kini belum dapat ditangkap.

Akibat tindak kejahatan itu, Nn mengalami pendarahan hebat dan harus dilarikan ke Rumah Sakit RIPAS Bandar Seri Begawan.

"Pendarahannya, sekarang sudah mulai berhenti dan kondisi fisiknya sudah mulai baik, namun ia masih "shock" berat. Setiap hari ia murung terus," kata Yuli, Nakerwan asal Batu Malang, Jawa Timur.

Untuk temukan pemerkosa nenek renta, 600 pria kirim sperma

satunet.com - Sebanyak 600 pria sebuah komunitas di New South Wales sebelah utara mengirimkan spermanya untuk dites DNA. Tes DNA ini ditempuh oleh polisi untuk menuntaskan kasus perkosaan terhadap wanita renta berusia 93 tahun.

Polisi menyatakan testing DNA yang dilakukan pada Sabtu terhadap sebuah komunitas ini merupakan kali yang pertama di wilayah New South Wales, demikian sebuah laporan menyebutkan. Polisi juga akan mendatangi setiap rumah di kota itu untuk menanyai setiap penghuni lelakinya. Polisi akan menanyakan kepada penduduk laki-laki kemana mereka pergi di saat penghujung tahun 1998, yang dideskripsikan sebagai 'malam perkosaan yang menakutkan,' terhadap seorang nenek yang sudah renta. (tna/IM)

Untuk sementara Nn ditampung di tempat penampungan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sungai Hancing, Brunei Darussalam

Pejabat Konsuler KBRI di Brunei, Achmad D Irfan membenarkan terjadinya tindak kejahatan pemerkosaan terhadap Nn, dan pihak KBRI saat ini tengah mengupayakan agar kasus ini diselesaikan melalui pengadilan setempat.

Pihak KBRI menyatakan sudah menyewa pengacara setempat untuk melakukan pembelaan terhadap Nn untuk membelanya di persidangan.

Namun, yang menjadi kendala Nn pada saat ini sudah putus harapan dan ingin pulang segera pulang ke Indonesia. Di sisi lain, Nn menyatakan sudah tidak ingat dengan wajah sang pemerkosa.

Kejadian ini, menurut Irfan, sudah terjadi untuk yang kedua kalinya menimpa Nakerwan Indoensia sejak 1999. Pada tahun 1999, seorang Nakerwan mengaku telah diperkosa oleh karyawan institusi resmi Kerajaan Brunei.

Namun, persoalan itu, tidak berlanjut pada pengadilan, karena sang Nakerwan hanya menuntut kompensasi saja.

Sejauh ini, perlindungan terhadap nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI), menurut penuturan Yuli dan sejumlah rekannya di tempat penampungan, memang masih sangat rendah.

"Banyak sekali TKI yang mendapat perlakukan kasar dari majikan, tidak dibayar gajinya, dan diterlantarkan. Itu semua tidak tersiar ke Indonesia. Semua menyangka Brunei baik-baik saja, negeri yang kaya, tempat setiap orang bisa mencari uang dengan gampang. Ternyata semua itu tidak seperti yang diimpikan," ujarnya. (Ant/IM)


FastCounter by bCentral