|
|
|
|
||||
|
|
|
|
||||
|
BERITA TANAH AIR |
Indonesia Menjadi Korban Pemerkosaan di Brunei Darussalam Bandar Seri Begawan, 24/3 (ANTARA) - Seorang tenaga kerja wanita (Nakerwan) Indonesia asal Sukabumi, Nn (28) baru-baru ini telah menjadi korban tindak kejahatan pemerkosaan, di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Pelaku tindak kejahatan tersebut, menurut rekannya Yuli Artiyani kepada ANTARA di Bandar Seri Begawan, Jumat, adalah tenaga kerja asal Bangladesh, yang hingga kini belum dapat ditangkap. Akibat tindak kejahatan itu, Nn mengalami pendarahan hebat dan harus dilarikan ke Rumah Sakit RIPAS Bandar Seri Begawan. "Pendarahannya, sekarang sudah mulai berhenti dan kondisi fisiknya sudah mulai baik, namun ia masih "shock" berat. Setiap hari ia murung terus," kata Yuli, Nakerwan asal Batu Malang, Jawa Timur.
Untuk sementara Nn ditampung di tempat penampungan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sungai Hancing, Brunei Darussalam Pejabat Konsuler KBRI di Brunei, Achmad D Irfan membenarkan terjadinya tindak kejahatan pemerkosaan terhadap Nn, dan pihak KBRI saat ini tengah mengupayakan agar kasus ini diselesaikan melalui pengadilan setempat. Pihak KBRI menyatakan sudah menyewa pengacara setempat untuk melakukan pembelaan terhadap Nn untuk membelanya di persidangan. Namun, yang menjadi kendala Nn pada saat ini sudah putus harapan dan ingin pulang segera pulang ke Indonesia. Di sisi lain, Nn menyatakan sudah tidak ingat dengan wajah sang pemerkosa. Kejadian ini, menurut Irfan, sudah terjadi untuk yang kedua kalinya menimpa Nakerwan Indoensia sejak 1999. Pada tahun 1999, seorang Nakerwan mengaku telah diperkosa oleh karyawan institusi resmi Kerajaan Brunei. Namun, persoalan itu, tidak berlanjut pada pengadilan, karena sang Nakerwan hanya menuntut kompensasi saja. Sejauh ini, perlindungan terhadap nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI), menurut penuturan Yuli dan sejumlah rekannya di tempat penampungan, memang masih sangat rendah. "Banyak sekali TKI yang mendapat perlakukan kasar dari majikan, tidak dibayar gajinya, dan diterlantarkan. Itu semua tidak tersiar ke Indonesia. Semua menyangka Brunei baik-baik saja, negeri yang kaya, tempat setiap orang bisa mencari uang dengan gampang. Ternyata semua itu tidak seperti yang diimpikan," ujarnya. (Ant/IM) |
|||||
|
FastCounter by bCentral |
||||||