Kembali ke halaman depan




Wawancara Dengan Sheriff Lee Baca 

Pembukaan Asian Crime Task Force Headquarters

1999 World Cup Dragon Boat Tournament
di Long Beach

Petisi Washington
Menolak Utang Najis (Odious Debt) RI

Edisi Agustus 99

Aditjondro si Pemburu Harta Soeharto

Pengadilan Soeharto, dan Prospek Aliansi 3M (Mega, Militer, Muslim)

George Aditjondro31 Juli 1999, hari Sabtu di Travis Auditorium, Fuller Theology Seminary, Pasadena, tepatnya dimulai jam 3:00 siang, acara ini di sponsori oleh, Committee for Human Right in Indonesia (CHI), Forum pengkajian dan pengembangan demokrasi Indonesia-Amerika, dan Indonesia Media. Pak Pius Chan (ketua dari Committee for Human Rights in Indonesia) membuka acara seminar yang dihadiri lebih dari 200 orang, dengan judul diatas. Sebagaimana biasanya lagu kebangsaan "Indonesia Raya" ciptaan Wage Rudolf Supratman itu di nyanyikan oleh hadirin dengan hikmat, dan disusul oleh U.S.A. national anthem "The Star-Sprangled Banner" dalam bentuk instrumental. Dalam pidatonya pak Pius menyaluti Prof. DR. George Junus Aditjondro sebagai seorang pahlawan yang berani menyibak tirani terkuat di Indonesia, secara konsisten menggali segala kepincangan-kepincangan yang terjadi selama pemerintah orde baru, sampai sampai beliau harus hijriah ke luar negeri menjelang usia setengah abadnya, dan sekarang menjadi guru besar sosiologi dan korupsi di New Castle , University of Australia. Pius juga menyuluh kepada seluruh generasi muda agar bisa mencontoh prestasi dari DR Aditjondro untuk membawa Indonesia ke era yang demokrasi dan pemerintahan yang bersih. Tidak lupa juga pak Pius memuji Ibu Esti (Ny Aditjondro) yang dengan setia membantu perjuangan suaminya selama ini. Dihimbau juga untuk seluruh masyarakat agar turut membantu perjuangan Pak Aditjondro dalam bentuk apapun sesuai dengan kesanggupan masing-masing, sebab perjuangan beliau masih panjang.

Aliansi 3 M

Menurut mantan dosen Universitas Satyawacana Solo yang satu ini; Ada manuver militer kearah kubu Megawati, Wiranto sudah membuat Command call dilingkungan militer untuk tidak lagi mendukung kepentingan pemerintah Orba. Strateginya adalah, apabila Mega berhasil naik dalam pemerintahan yang akan datang, maka Militer ingin diakui sebagai kekuatan reformasi, dan bukan sebagai rongsokan rejim Orba yang penuh bergelimang darah dan korup. Singkatnya Militer berusaha untuk menulis kembali lembaran sejarah yang bersih, ketimbang berlumuran darah. Namun kenyataannya tingkah laku militer tidak ada perubahan, terbukti dengan ditemukannya kuburan masal 51 orang, yang terjadi setelah penghapusan Daerah Operasi Militer di Aceh, dan banyak lagi kejadian setelah itu. Di TimTim terjadi adudomba penduduk TimTim yang dipersenjatai oleh militer, memang pembuktian secara resmi tidak bisa dilakukan, namun dengan laporan berita dari wartawan Radio dan TV Australia didapat info bahwa penduduk setempat dan orang orang yang sengaja diselundupkan masuk ke Tim Tim dipersenjatai dengan M-16, dan senjata organik militer. Secara nalar bisa dibuktikan , karena di Indonesia tidak mungkin memiliki senjata tanpa diketahui oleh militer, kecuali direstui oleh militer sendiri. Jadi tidak mungkin kalau Wiranto tidak tahu menahu, bahkan cenderung ini adalah perintah dari Wiranto sendiri. George tidak sependapat dengan teori yang mengatakan bahwa disana terjadi mis komunikasi antara jenderal-jenderal dengan kolonel dan kopral.

Panel Diskusi"M" berikutnya adalah muslim, dalam hal ini Poros Tengah yang tiba-tiba di cetuskan oleh tokoh PAN, Amien Rais, dan Gus Dur dari PKB. Padahal PAN dan PKB adalah partai-partai sekuler, dan bukan partai Agama, hanya sekarang terkooptasi kedalam parti-partai Islam. Apa konsekwensinya apabila Islam menjadi terlalu kencang pengaruhnya dalam pemerintahan Mega ? G.J.Aditjondro mengingatkan Indonesia timur akan teralienasi jika Mega berkoalisi dengan Islam apalagi dengan Islam Jawa. Seperti kita ingat Piagam Jakarta kalau sampai dijadikan Undang-Undang dulu, maka Indonesia bagian Timur akan memisahkan diri. Seperti orang-orang Kristen di Indonesia Timur pada waktu itu menantang Hatta atas Piagam Jakarta.

Aliansi ini merupakan aliansi yang sangat rapuh, yang diperkirakan hanya untuk sementara waktu saja, demi mempersiapkan reformasi yang sesungguhnya. Sedangkan buat Militer ini merupakan kesempatan untuk mencuci gudang , dan mudah-mudahan menghapus Dwifungsi ABRI seperti yang digariskan oleh kwartet Ciganjur ( Gus Dur , Amien rais , Megawati, dan Sri Sultan) , yang menyebutkan Dwifungsi ABRI harus dihapus dalam waktu 6 tahun.

Pujian atas statement Mega

George Aditjondro memuji statement yang dilontarkan oleh Megawati bahwa, "Hukum harus ditegakkan, maka presiden yang bersalah harus diadili, termasuk presiden yang dulu (yang sudah di lengserkan), yang sekarang , maupun yang akan datang, supermasi hukum harus tetap diatas". Si pemburu harta Soeharto sangat mengagumi pernyataan Mega ini, walau dibeberapa tempat dia masih kurang pas dengan agenda-agenda dari Mega, terutama mengenai Dwifungsi ABRI yang tidak dikupas dengan jelas oleh Mega, dan keengganan Mega untuk amandemen UUD’45, dan hanya menawarkan Tap MPR saja, padahal didalam UUD ’45 sendiri mengandung klausula untuk amandemen. Kebiasaan menempelkan Tap-Tap MPR yang begitu banyak, memicu terjadinya pertengkaran. Sejarah membuktikan Indonesia bermetamorphosa (UUD ’45, UUD RIS, UUD’50, UUD’45), sejarah juga mencatat bahwa wilayah Indonesia pernah berekspansi dan tentunya juga bisa "menkeret".

Korelasi antara teror di daerah dengan perlindungan bisnis Cendana.

Mulai dari Timor Timur, keluarga Cendana menguasai tanah seluas 530.000 hektar , di Kalimantan Timur Soeharto dengan kroninya menguasai lebih dari 1 juta hektar, yang dikelola oleh Tono Suratman kelahiran Ujung Pandang, Di Aceh sudah bukan rahasia lagi Tommy memiliki pabrik methanol yang memanfaatkan bahan dasar dari Arun. Juga Bambang mempunyai armada angkut tanker yang mempunyai kontrak LNG Arun ke Asia Timur. Di Irian, Cendana memiliki 10% via Bob Hasan di PT Freeport Indonesia Inc.

KKN adalah anak haram dari Revolusi Indonesia

KKN sebenarnya sudah dimulai sejak Soeharto menjadi komandan Teritorial IV, dengan dibentuknya yayasan-yayasan kekaryaan TNI, yang bermula di Semarang. berbisnis dengan Sudono Salim dan Bob Hasan. Maksud pertamanya adalah mengumpulkan dana untuk kesejahteraan TNI, namun dalam pelaksanaan dan perkembangannya usaha ini tumbuh menjadi KKN, yang akibatnya tidak pernah diramalkan. Kalau kita bicara soal KKN, sering tersangkut pada pengusaha keturunan, dan membawa nama keturunan Tionghoa menjadi jelek, padahal Laksamana Sukardi dan Laksamana John Lie (Kakek dari Pdt. DR . Leo Siregar yang menjadi pimpinan panelis) adalah keturunan Tionghoa yang oleh George di jamin bersih dari KKN, jadi jangan menjeneralisasi Tionghoa itu semua KKN, demikian kira-kira maksud si pengarang buku "Mengenal Penjarahan Kekayaan Negara" itu. Ekonomi Indonesia menjadi terpuruk salah satunya adalah konglomerat yang dekat dengan istana dibiarkan mengambil hutang luar negeri yang berlebihan diatas batas hutang resmi. Tapi kalau orang-orangnya semacam Kwik, atau Laksamana Sukardi, George menjamin hal itu tak akan terjadi.

Kesempatan foto bersama seusai acaraNegara Federal

Bekas wartawan majalah Tempo ini juga memperkenalkan bentuk Negara Federal, agar menjadi suatu pertimbangan bagi pemerintah yang akan datang, Dia menekankan bahwa, harus dibedakan antara Federalisme dengan Ethnisisme, dan kita harus meluaskan cakrawala dengan tidak menabukan berbicara Sosialisme, Marxisme, Komunisme, atau negara Agama. Sebab sudah terbukti negara kesatuan yang centralistik dipertahankan lebih dari 40 tahun di Indonesia nyatanya tidak memberi hasil baik. Menurut bekas activist PMKRI ini, negara besar yang berdasarkan Centralistik, seperti Uni Soviet nyatanya pecah, dan hanya satu-satunya negara besar yang bisa berkembang dan maju sampai saat ini adalah Amerika, dan Amerika ini adalah negara Federalistik yang terbesar dan berhasil. Pendidikan politik masyarakat adalah penting dalam negara demokrasi. Jangan beranggapan bahwa negara Federal adalah tabu karena itu dari van Moek (Belanda), atau negara Islam jelek karena kaitannya dengan DITII. Dalam bentuk negara Federal, negara bagian mempunyai haknya sendiri atas kekayaan alamnya, dan mempunyai kebebasan untuk mengelola sumber alamnya sendiri. Jadi tidak ada lagi hasil gas alam Arun di Aceh terikat dengan bisnis Jakarta (Cendana), dan Aceh juga bisa mempertahankan ke Islamannya. Kaltim juga tidak perlu memberi-kan HPHnya pada Bob Hasan dan Prayogo Pangestu. Maluku juga tidak perlu memasrahkan hasil lautnya di Tual kepada Bambang.

Supersemar dan G-30-S PKI

Menanggapi pertanyaan tentang Supersemar dari salah satu hadirin, George Aditjondro menyimpulkan skenario G-30-S sebenarnya merupakan konflik internal di angkatan darat, dan PKI yang dikorbankan sebagai kambing hitamnya. Berita fiktif tentang kesadisan Gerwani dan Pemuda rakyat yang dilansir melalui Berita Yudha dimamahbiakan kepada Kompas dan Suarapembaruan (Sinar Harapan). Menurut hasil Autopsi yang dibeberkan oleh Ben Anderson dari Cornell itu semua fiktif, Orde baru dibangun dengan Victimisasi terhadap perempuan termasuk Gerwani, pemerkosaan wanita Timor Leste, Aceh, dan May 1998 di Jakarta, secara konsisten merupakan suatu pola yang tidak dapat dipisahkan, ini di dasari atas temuan Robert Cribb. Beliau menyesalkan kepengecutan dari organisasi-organisasi masyarakat dan Agama yang mendiamkan selama 20 tahun pembantaian (Genocide) atas 2 juta jiwa (mayoritas: Jawa, Bali, Tionghoa) pada tahun 60’an tanpa proses peradilan, ujar ahli Anthropologi ini. Genocide ini berlangsung terus sampai ke Timor Timur. Juga tercatat 5% dari penduduk Bali dibantai hanya karena konflik Agraris, tentara membantu petani tuan tanah melawan petani yang tak bertanah yang memperebutkan tanah lewat undang-undang Landreform, pembunuhan terhadap bekas anggota Baperki yang mayoritasnya orang keturunan Tionghoa, dan kasus mangkok merah di Kalimantan Barat dimana juga terjadi "ethnic cleansing" terhadap orang orang keturunan Tionghoa, yang direkayasa dengan skenario pembunuhan seorang Dayak oleh seorang Tionghoa pada tahun enampuluhan, sehingga orang dayak menghalau orang Tionghoa kepesisir.

Antara Dwifungsi ABRI dengan presiden yang berasal dari Militer

Terjadinya Dwifungsi ABRI ternyata tidak dapat terlepas dari mana presiden itu berasal. Apabila presiden yang berasal dari lingkungan militer sudah tentu kecenderungan adanya faktor dwifungsi dalam tubuh pemerintahannya. Dengan adanya Dwifungsi Militer disuatu pemerintahan, maka kecenderungan pihak penguasa berbuat sewenang-wenang semakin terbuka. Prof. Aditjondro sendiri mengatakan bahwa militer berbisnis adalah illegal. Namun ada juga suara dari pihak pendengar seminar yang mengaku Oomnya menjadi perwira di Angkatan Darat (yang terpaksa harus mengaku sebagi orang Manado, padahal dia Tionghoa),Pius Chan dia mengatakan bahwa; kadang militer itu terjepit dalam mempertahankan keamanan, antara tidak konsisten (bertindak tegas) dan pelanggaran HAM. Dia (Buce) juga menyatakan bahwa kasihan kalau sampai Soeharto yang setua itu diadili.

Pengadilan Soeharto

Menurut penulis buku "Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari" ini, Pengadilan Soeharto adalah mutlak harus dilakukan. Sedangkan pejabat-pejabat bawahannya, yang melakukan rukun KKN, bisa dijadikan saksi. George juga menghimbau kepada presiden terpilih mendatang agar mulai melakukan pengadilan Soeharto dari dua dimensi yaitu; dari dimensi Politik dan dimensi Ekonomi, Dari dimensi Politik diperlukan untuk membawa kepercayaan orang terhadap hukum di Indonesia, yang akan menyatakan tidak ada orang yang tak dapat dicapai hukum di Indonesia. Sedangkan dari segi Ekonomi yaitu dengan pengembalian kekayaan rakyat, agar tidak perlu lagi kita meminta tambahan pinjaman ke IMF, lagi pula bagaimana luar negeri bisa percaya rakyat Indonesia itu miskin, sementara ada anak pejabat Indonesia yang membeli rumah di Beverly Hills dengan Cash, memiliki rumah-rumah nganggur di London, tanah rumah wisata buru yang luas 25.000 hektar di New Zailand, Southern Islands, dan belum lagi lapangan golf di Ascott, atau rumah peristirahatannya di Brighton. Proses peradilan Soeharto sebaiknya dimulai dari kasus perampasan tanah di Jawa Barat, Tapos. Baru setelah itu dapat bergulir ke kasus-kasus lainnya yang lebih besar, demikian ungkap "Si Pemburu Harta Soeharto ini"

Seminar yang diprotokoli oleh Esther dan Moderator, Drg. Cortino Soekotjo. Setelah penyampaian uraian Pengadilan Soeharto dan prospek aliansi 3M, kemudian disusul dengan komentar dari team penyanggah (Krisna, Ivan, DR. Leo Siregar), forum Tanya jawab dari audiens, Break untuk refreshment di warung PERMIAS, dan ditutup sekitar pukul 6 sore.

Terimakasih kepada: Pdt. Virgo Handojo, Amelia, Awi, Utoso, dkk, yang telah menyiapkan tempat dan sarana seminar. AY/LS/DI/Indonesia Media