|
|
||
|
|
Sejenak Bersama Pdt. Virgo Handojo | |
|
BERITA TANAH AIR LOCAL NEWS MANCA NEGARA OPINI BUDAYA & TRADISI IMMIGRASI ENGLISH AMRIK JENAK JENAKA
|
25 September yang lalu Grace
Indonesian Christian Fellowship memperingati ulang tahunnya yang ketujuh.
Setahu saya bapak adalah perintis gereja ini. Bagaimana bapak bisa memulai
gereja ini?
Virgo Handojo (VH): Allahlah yang memulai jemaat ini. Waktu itu saya diundang oleh seorang ibu yang rumahnya diganggu oleh roh-roh jahat. Keluarga ini mengalami gangguan semacam itu sejak mereka konflik dengan salah satu anggota aliran setan. Jadi undangannya untuk menjinakan setan. Karena saya bukan pawang setan, jadi saya minta mereka mengun-dang Tuhan Yesus untuk datang dalam hidup mereka. Selanjutnya deng-an penyertaan Tuhan Yesus, merekalah yang berhasil mengusir setan-setan yang menggangu rumah tangga mereka.Demikianlah lewat pertemuan tersebut Tuhan menyatakan kasih dan perlin-dunganNya kepada keluarga ini. Mereka memperbaharui imannya dan menjadi pengikut Kristus. Selanjutnya mereka mengundang teman-temannya dan lahirlah sebuah persekutuan International di rumah ibu tersebut. Singkat ceritera lewat persekutuan inilah Grace Indonesian Christian Fellowship lahir.
VH:
Pertanyaan yang menarik sekali. Bagaimana kita tahu kalau Allah yang
bekerja? Sebelum jadi pendeta saya adalah kontraktor listrik. Sama dengan
listrik. Saya tidak bisa melihat listrik itu berjalan didalam kawat,
tetapi saya melihat bahwa kawat yang beraliran listrik membuat lampu
menyala. Saya tak dapat mengerti apalagi melihat Allah. Namun, kita bisa
melihat karya Allah dalam hidup kita. Saya mengenal Allah secara manusiawi
dalam diri Yesus. Pada hari itu, saya melihat Yesus menyatakan kasihNya
dengan menghapuskan gangguan kuasa gelap dari keluarga tersebut. IM: Sewaktu saya hadir di gereja bapak, tertulis di buletin motto gereja: "Setiap anggota adalah pelayan." Apakah bapak bisa menjelaskan maksud dari motto tersebut? VH: Maksudnya
adalah setiap orang yang bersedia menjadi anggauta gereja ini hendaknya
belajar untuk saling melayani. Pelayanan adalah penyataan kasih kita
kepada Allah dan sesama. Jadi panggilan untuk melayani bukan hanya untuk
pendeta saja. Semua profesi harus melayani, harus menyatakan kasih kita
kepada Tuhan dan sesama. Itu yang diajarkan oleh Alkitab. IM: Saya dengar gereja bapak juga sering aktip dalam masalah human right, memperjuangkan masalah immigrasi di Washington dll. Saya tahu sedikitnya ribuan orang akan membaca tulisan ini. Mungkin sebagian orang akan berkomentar, "Itu kan bukan pelayanan Injil. Itu kan politik." Bagaimana pendapat bapak tentang hal itu? VH: Politik berasal dari bahasa Latin polis yang artinya "people." Gereja yang benar dipanggil untuk melayani umat atau rakyat. Kita tak mungkin melayani umat tanpa melayani dan menghadapi sistem dan struktur yang mengkontrol umat tersebut. Pelayanan yang benar harus melayani secara holistik. Kita perlu melayani umat pada tingkat emosional, spiritual, sosial, ekonomi dan hal-hal yang membuat manusia jadi bahagia atau menderita. Kalau sistem immigrasi di US tidak memberikan keadilan pada umat yang kita layani, kita perlu bersuara. Kalau wanita Tionghoa, Aceh, Irian Jaya, Timor timur yang tak berdosa menjadi korban perkosaan karena rekayasa politik, gereja yang benar harus bersuara keras untuk menghentikan tindakan biadab tersebut. Kalau kegiatan-kegiatan semacam ini bukan pelayanan Injil, saya rasa lebih baik kita tidak mengikuti Injil tetapi tetap melakukan kegiatan semacam itu. IM: Bapak menyinggung tragedi nasional di Indonesia, bahkan saya dengar gereja bapak juga membantu gadis dan keluarga yang mengalami perkosaan dan musibah pada bulan Mei tahun lalu. Kita sebagai orang awam sering bertanya, bagaimana mungkin Allah yang Maha Kasih dan Maha Kuasa kok tega mengi-jinkan orang yang tak bersalah menjadi korban semacam itu? Bahkan dalam sejarah kita tahu bahwa tidak semua pelaku kejahatan itu akhirnya menerima hukuman atau hidup menderita pada akhir hidupnya. Apakah itu adil?
Ini teologia Santa Claus. Kalau kamu baik kamu diberkati Tuhan, kalau kamu jahat ka-mu akan dipukul. Karena kamu kena mala-petaka, pasti Tuhan sedang pukul kamu. Pandangan ini pada akhirnya hanya meme-nangkan si jahat, sementara sang korban tetap dikorbankan. Ini teologia penindasan. Saya percaya Allah tidak pernah merencanakan atau menjadikan tragedi. Ia kasih adanya. Hakekat Allah yang kasih itu tidak memungkinkan Ia mengkhianati keberadaanNya sendiri. Karena itu di tengah tragedi Allah datang untuk memberikan anugerah dan kekuatanNya. Saya percaya Allah datang tidak membawa tragedi, tetapi Ia datang untuk memberikan penyertaanNya supaya manusia mampu menghadapi tragedi tersebut. Gereja sebagai Tubuh Kristus dipanggil untuk menyatakan Anugerah dan penyertaanNya itu. IM: Bagaimana dengan sijahat yang tidak pernah ketangkap dan dihukum? Apakah adil? VH: Anda mungkin bicara soal hukuman dalam bentuk penjara atau diseret ke pengadilan. Ini pengadilan jasmani. Buat saya disadari atau tidak orang yang melakukan kejahatan telah dihukum dengan sendirinya. Setidaknya hukumannya adalah ia kehilangan kesempatan untuk berbuat baik. Bukankah ini tragedi yang paling besar buat manusia? Bayangkan kalau manusia kehilangan kemampuannya untuk berbuat kasih, murah hati, caring, mengampuni dll? Ia tak mampu lagi merasakan keindahan kalau dikasihi dan mengasihi, mengampuni dan diampuni. Saya rasa orang yang berbuat biadab itu telah menjual martabatnya sebagai manusia. Ini hukuman yang paling menyakitkan sebagai manusia yang beradab. IM: Pendeta Handojo terima kasih untuk kesempatan yang diberikan. Sekali lagi selamat ulang tahun kepada Jemaat Kristen Indonesia Anugerah. (IM) |
|
|
|
Kembali ke halaman depan Kembali ke halaman terbitan lalu |
|