Sejenak Bersama Pdt. Virgo Handojo


Klik gambar untuk melihat versi besar.

BERITA TANAH AIR
-Kronologis Krisis Indonesia
-Prasangka Rasial
-Sweeping terhadap Militer
-Beri Jalan Orang Tionghoa

LOCAL NEWS
-
M. Pakpahan di Loma Linda
-TNI berbadan tanpa jiwa
-Sejenak bersama Virgo H.
-Kunjungan dekan FKG Trisakti di L.A.
-Pengungsi Menjadi Gubenur Jendral
-Malam Sukuran CHI

MANCA NEGARA
-
Sejarah keturunan Tionghoa yang terlupakan

OPINI
-
Kenapa Tionghoa Indonesia jadi kambing hitam
-Demokrasi dan keberanian moral

BUDAYA & TRADISI
-
Tip Gunakan Sumpit

IMMIGRASI
-
Kelanjutan Status Asylum

ENGLISH
-
Wen Ho Lee's Daughter Speaks Out

AMRIK
-
Thanksgiving

JENAK JENAKA
-Jakarta Orde Baru
-Rencana Penyerbuan

 

Indonesia Media (IM): 25 September yang lalu Grace Indonesian Christian Fellowship memperingati ulang tahunnya yang ketujuh. Setahu saya bapak adalah perintis gereja ini. Bagaimana bapak bisa memulai gereja ini?

Virgo Handojo (VH): Allahlah yang memulai jemaat ini. Waktu itu saya diundang oleh seorang ibu yang rumahnya diganggu oleh roh-roh jahat. Keluarga ini mengalami gangguan semacam itu sejak mereka konflik dengan salah satu anggota aliran setan. Jadi undangannya untuk menjinakan setan. Karena saya bukan pawang setan, jadi saya minta mereka mengun-dang Tuhan Yesus untuk datang dalam hidup mereka. Selanjutnya deng-an penyertaan Tuhan Yesus, merekalah yang berhasil mengusir setan-setan yang menggangu rumah tangga mereka.
Demikianlah lewat pertemuan tersebut Tuhan menyatakan kasih dan perlin-dunganNya kepada keluarga ini. Mereka memperbaharui imannya dan menjadi pengikut Kristus. Selanjutnya mereka mengundang teman-temannya dan lahirlah sebuah persekutuan International di rumah ibu tersebut. Singkat ceritera lewat persekutuan inilah Grace Indonesian Christian Fellowship lahir.

IM: Menarik sekali ceritera bapak. Setahu saya bapak banyak mendalami bidang psikologi. Bagaimana bapak tahu bahwa Allahlah yang bekerja membantu keluarga tersebut dan bukannya intervensi psikologis dari bapak yang membuat keluarga ini menjadi Kristen?

VH: Pertanyaan yang menarik sekali. Bagaimana kita tahu kalau Allah yang bekerja? Sebelum jadi pendeta saya adalah kontraktor listrik. Sama dengan listrik. Saya tidak bisa melihat listrik itu berjalan didalam kawat, tetapi saya melihat bahwa kawat yang beraliran listrik membuat lampu menyala. Saya tak dapat mengerti apalagi melihat Allah. Namun, kita bisa melihat karya Allah dalam hidup kita. Saya mengenal Allah secara manusiawi dalam diri Yesus. Pada hari itu, saya melihat Yesus menyatakan kasihNya dengan menghapuskan gangguan kuasa gelap dari keluarga tersebut.
Dengan kata lain, saya tidak sepenuhnya mengerti hakekat Allah, tetapi saya yakin akan keberadaan dan karyaNya. Keyakinan itu lebih penting daripada pengetahuan. Saya tidak tahu sewaktu ibu melahirkan saya, tetapi saya yakin ialah yang melahirkan saya. Saya yakin, saya ada oleh karena wanita itu dan bukan wanita lainnya. Demikian juga dengan pengertian saya terhadap Tuhan Yesus. Keyakinan saya me-ngatakan Dialah Allah yang bekerja pada waktu itu. Yang saya bisa lihat dan tahu adalah keluarga ini hidupnya ber-ubah. Ini menebalkan keya-kinan saya. Yesuslah yang menjawab doa kami dan bu-kan karena hal yang lain.

IM: Sewaktu saya hadir di gereja bapak, tertulis di buletin motto gereja: "Setiap anggota adalah pelayan." Apakah bapak bisa menjelaskan maksud dari motto tersebut?

VH: Maksudnya adalah setiap orang yang bersedia menjadi anggauta gereja ini hendaknya belajar untuk saling melayani. Pelayanan adalah penyataan kasih kita kepada Allah dan sesama. Jadi panggilan untuk melayani bukan hanya untuk pendeta saja. Semua profesi harus melayani, harus menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Itu yang diajarkan oleh Alkitab.

IM: Saya dengar gereja bapak juga sering aktip dalam masalah human right, memperjuangkan masalah immigrasi di Washington dll. Saya tahu sedikitnya ribuan orang akan membaca tulisan ini. Mungkin sebagian orang akan berkomentar, "Itu kan bukan pelayanan Injil. Itu kan politik." Bagaimana pendapat bapak tentang hal itu?

VH: Politik berasal dari bahasa Latin polis yang artinya "people." Gereja yang benar dipanggil untuk melayani umat atau rakyat. Kita tak mungkin melayani umat tanpa melayani dan menghadapi sistem dan struktur yang mengkontrol umat tersebut. Pelayanan yang benar harus melayani secara holistik. Kita perlu melayani umat pada tingkat emosional, spiritual, sosial, ekonomi dan hal-hal yang membuat manusia jadi bahagia atau menderita. Kalau sistem immigrasi di US tidak memberikan keadilan pada umat yang kita layani, kita perlu bersuara. Kalau wanita Tionghoa, Aceh, Irian Jaya, Timor timur yang tak berdosa menjadi korban perkosaan karena rekayasa politik, gereja yang benar harus bersuara keras untuk menghentikan tindakan biadab tersebut. Kalau kegiatan-kegiatan semacam ini bukan pelayanan Injil, saya rasa lebih baik kita tidak mengikuti Injil tetapi tetap melakukan kegiatan semacam itu.

IM: Bapak menyinggung tragedi nasional di Indonesia, bahkan saya dengar gereja bapak juga membantu gadis dan keluarga yang mengalami perkosaan dan musibah pada bulan Mei tahun lalu. Kita sebagai orang awam sering bertanya, bagaimana mungkin Allah yang Maha Kasih dan Maha Kuasa kok tega mengi-jinkan orang yang tak bersalah menjadi korban semacam itu? Bahkan dalam sejarah kita tahu bahwa tidak semua pelaku kejahatan itu akhirnya menerima hukuman atau hidup menderita pada akhir hidupnya. Apakah itu adil?

VH: Saya tidak tahu kenapa Tuhan mengijinkan Tien Suharto mati sebagai pahlawan bangsa, sementara Marsinah mati menanggung fitnah. Saya tidak tahu dan tidak mengerti. Ini misteri Allah. Mungkin ada orang yang berpendapat pasti Tuhan punya alasan tertentu kenapa Ia mengijinkan Hitler membunuhi orang Yahudi dan 2000 lebih rakyat miskin kota di Jakarta mati dipanggang api sementara ratusan gadis Tionghoa diperkosa. Pasti mereka punya kesalahan yang kita tidak tahu.

Ini teologia Santa Claus. Kalau kamu baik kamu diberkati Tuhan, kalau kamu jahat ka-mu akan dipukul. Karena kamu kena mala-petaka, pasti Tuhan sedang pukul kamu. Pandangan ini pada akhirnya hanya meme-nangkan si jahat, sementara sang korban tetap dikorbankan. Ini teologia penindasan. Saya percaya Allah tidak pernah merencanakan atau menjadikan tragedi. Ia kasih adanya. Hakekat Allah yang kasih itu tidak memungkinkan Ia mengkhianati keberadaanNya sendiri. Karena itu di tengah tragedi Allah datang untuk memberikan anugerah dan kekuatanNya. Saya percaya Allah datang tidak membawa tragedi, tetapi Ia datang untuk memberikan penyertaanNya supaya manusia mampu menghadapi tragedi tersebut. Gereja sebagai Tubuh Kristus dipanggil untuk menyatakan Anugerah dan penyertaanNya itu.

IM: Bagaimana dengan sijahat yang tidak pernah ketangkap dan dihukum? Apakah adil?

VH: Anda mungkin bicara soal hukuman dalam bentuk penjara atau diseret ke pengadilan. Ini pengadilan jasmani. Buat saya disadari atau tidak orang yang melakukan kejahatan telah dihukum dengan sendirinya. Setidaknya hukumannya adalah ia kehilangan kesempatan untuk berbuat baik. Bukankah ini tragedi yang paling besar buat manusia? Bayangkan kalau manusia kehilangan kemampuannya untuk berbuat kasih, murah hati, caring, mengampuni dll? Ia tak mampu lagi merasakan keindahan kalau dikasihi dan mengasihi, mengampuni dan diampuni. Saya rasa orang yang berbuat biadab itu telah menjual martabatnya sebagai manusia. Ini hukuman yang paling menyakitkan sebagai manusia yang beradab.

IM: Pendeta Handojo terima kasih untuk kesempatan yang diberikan. Sekali lagi selamat ulang tahun kepada Jemaat Kristen Indonesia Anugerah. (IM)

Kembali ke halaman depan
Kembali ke halaman terbitan lalu